Senin, 06 Desember 2010

Film Pertamaku

Hari yang kutunggu akhirnya tiba, syuting film pertamaku yang berjudul “Pocong Pemalu” karya Hadung Brimanto. Aku sudah camping di teras rumah Itok-kawanku yang tinggal di seberang taman makam pahlawan dan menonton banyak dvd horror untuk mematangkan akting sekalian melatih nyaliku. Ibu di kampung pun sudah kuberitahu bahwa aku akan segera menjadi aktor terkenal! Oya, aku bahkan berperan sebagai pocongnya! Hebat bukan? Baru satu film sudah dapat peran utama.

“Camera…rolling…action!” Hadung memberi aba-aba. Aku berjalan di tengah pemakaman umum.

“Cut!” Ujar Hadung.

Beruntungnya aku punya kenalan di bagian kreatif production house. Kalau tidak, kesempatan ini pasti tak akan kudapatkan.

“Berapa scene lagi?”

Scene apa? Peranmu ya hanya itu.”

Olala, tujuh hari melatih nyali dengan tujuh belas dvd horror hanya untuk syuting selama tujuh detik??

Label: ,

Candle Light Dinner

Hans, anak baru di ujung jalan itu mengajakku kencan malam ini. Candle light dinner katanya. Hatiku girang bukan kepalang, soalnya dia keren! Teman-teman pasti iri. Apalagi Hans bilang dia mau jujur tentang sesuatu padaku. Ah, aku deg-degan!

Hans menjemput saat aku sudah selesai dandan. Ia memujiku cantik. Aku makin deg-degan dan yakin kalau Hans mau jujur bahwa dia suka aku.

Kami sudah selesai makan diterangi cahaya lilin saat Hans memegang tanganku.

“Karina, aku pengin jujur kalau aku…”

Say you love me, Hans! Jerit hatiku.

“Aku sebetulnya....”

Yes! I love you too! Aku makin enggak sabar.

“Aku itu…sebetulnya…vampir.” Ia menunjukkan taringnya.

Aku rasanya mau pingsan.

Label: ,

English Versus Bahasa Indonesia

Gue punya tiga orang sepupu yang udah lama banget tinggal di Inggris, namanya Ghina, Aghnia dan si bungsu Akbar. Ayah mereka alias om gue kerja di perusahaan penerbangan asing. Jadi sejak kecil mereka sekeluarga nyaris selalu tinggal di luar, hanya beberapa waktu aja di Indonesia. Tinggal di luar otomatis ada perbedaan kebudayaan, kebiasaan dan bahasa tentunya! Hal ini seringkali menimbulkan kejadian lucu di antara kami. Salah satunya yang terjadi sekitar 2 tahun yang lalu.

Si kecil Akbar saat itu baru berusia 4 tahun. Keluarga om gue pulang ke Indonesia selain untuk berlebaran di kampung halaman juga berencana untuk mengkhitan Akbar. Akbar ini karena dari kecil banget tinggal di Inggris, jadi paling enggak bisa bahasa Indonesia dibandingkan dengan kedua kakaknya yang sempat lebih lama menikmati masa kecil di Bandung. Walhasil sodara-sodara sepupu gue yang seumuran dengannya agak susah untuk berkomunikasi sama dia. Untungnya ada beberapa permainan anak-anak yang punya aturan sama di berbagai Negara, seperti bola atau sepeda. Akbar dan Opay (sepupu terdekatnya yang cuma beda sekitar setahun) jadi tetap bisa main sama-sama meskipun mereka berdua menggunakan bahasa yang beda.

Begini nih contohnya:

Akbar : “Opay, come give it to me!” (Akbar siap nerima operan bola)

Opay : “Ih kata ibu mainnya jangan di dalam, nanti kena kaca.” (Opay nasehatin)

Atau

Akbar : “I will kick first, ok?” (Akbar siap nendang bola)

Opay : “Yuk kita main sepeda aja?” (Opay ke garasi)

Dan

Akbar : “I have another games, come on!” (Akbar menuju kamar)

Opay : “Bolanya gooool!” (Opay nendang sambil sorak-sorak karena berhasil menjebol gawang Akbar)

Atau saat mereka lagi asyik main sepeda di teras tiba-tiba ada tukang bakso lewat. Akbar yang gak pernah ngedenger suara mangkok dipukul sendok khas tukang bakso, mendadak jerit-jerit ketakutan dan masuk ke dalam rumah nyamperin tante gue. Tinggallah Opay kebingungan dan sedih karena dikiranya Akbar udah enggak mau main lagi dengannya. Gue dan sodara-sodara yang lain ketawa aja dengernya.

Sampai lama-kelamaan Akbar dan Opay akhirnya bisa nyambung juga. Well, bahasanya mungkin masih beda, tapi rupanya anak-anak punya bahasa tubuh tersendiri yang bisa dimengerti secara universal di antara mereka. Dan tanpa tersadari oleh masing-masing, sedikit demi sedikit Akbar dan Opay juga tukeran bahasa. Sampai akhirnya Akbar ngerti beberapa kata dalam bahasa Indonesia dan Opay tau beberapa kata dalam bahasa Inggris.

Libur lebaran pun habis. Niat untuk mengkhitan Akbar pun sudah dilaksanakan tanpa banyak hambatan. Dibilang nggak banyak hambatan, maksudnya Akbar nggak terlalu rewel kesakitan seperti kebanyakan anak-anak lain seumurnya. Hambatannya justru dia enggak mau pakai celana dalam meskipun udah pulih. Maunya pakai sarung aja. Kata tante gue, Akbar baru mau pakai delana dalam sesaat sebelum take off balik ke Inggris. itu juga seudah dibujuk ini itu.

Oke pendek kata pulanglah Akbar beserta kedua orangtua dan kedua kakaknya. Enggak lama kemudian mereka bertiga juga kembali ke bangku sekolah. Tapi masalah baru muncul. Tante gue dipanggil sama gurunya Akbar. Menurut gurunya, Akbar yang biasanya ceria dan bisa mengerjakan pekerjaan sekolah dengan baik, mendadak jadi anak pemurung dan bahkan untuk main pun dia kehilangan gairah. Ya ampun, ada apa dengan Akbar? tante gue sempat panik, Pasalnya di rumah dia enggak apa-apa. Ya, memang sih sempat agak mogok sekolah.

Akbar ditanya diem aja. Dia malah kayak orang linglung. Tapi tante gue dan gurunya terus aja sabar nanyain dia pelan-pelan. Akhirnya satu kalimat meluncur dari mulut Akbar, “I loose my English.”

Oh ya ampuuuun… ternyata satu bulan di Indonesia sanggup bikin Akbar lupa sama bahasanya!

Label: ,