Senin, Oktober 12, 2009

Horeee Hari-Hari Huru-Hara, Hahahaha!

Alhamdulillah udah 32 minggu membawa si kecil di perut gue.

Rasanya? Fiuuuh...jangan ditanya!

Mulai dari gerah, pegel, sampe ngos-ngosan. Halagh kayak yang abis lari marathon aja yah pake ngos-ngosan segala? Iyee, maksudnya cepet cape gitu. Misalnya aja nih, kalo biasanya gue kuat ngetik berjam-jam sehari, sekarang nih tiap setengah jam aja punggung udah berasa patah-patah. Ujung-ujungnya kalo udah gitu, rebahan aja sambil ngadem, hihihi!

Itu kalo lagi sendiri di rumah. Kalo ada Ippen lain lagi ceritanya. Tinggal pasang aja muka melas. Karena gak tega, Ippen pun siaga mijitin kaki sama punggung gue. Hihi, baik ya laki gue?? Yaa, even setelah itu pasti minta pijit gantian. Huhuu, gak mau rugi deh :p

Lepas dari masalah fisik, secara psikis berbagai masalah emosional juga seringkali muncul secara enggak terduga. Bisa aja tuh gue yang tadinya lagi cerah ceria tralala trus mendadak pengen nangis, marah atau diem sekalian (tanpa tau sebabnya!). Ini seringkali lebih ribet dari penyakit fisik. Soalnya kan suka bikin salah paham sama orang lain. Untungnya Ippen cepat adaptasi sama kondisi ini. Keluarga sama sodara gue juga rata-rata ngerti. Alhamdulillah...

Oia sehubungan dengan kehamilan ini, gue pun untuk pertama kalinya ngalamin yang namanya absen puasa. Yupz! Sebulan penuh Ramadhan kemaren gue tamat...tamat gak puasa maksudnya, huahahaha! Yaa, gmana lagi? Dokter gue nyaranin untuk gak puasa. Katanya sih takut gue gak kuat, berhubung tekanan darah gue sering rendah dan pas bulan puasa bahkan baru diketahui bahwa gue ternyata anemia. Ya udah, gue pun memanfaatkan rukhshah alias dispensasi dari Allah untuk gak puasa. Betapa Allah itu Maha Penyayang ya sama umat-Nya...

Ada satu nih 'penyakit' gue yang dari awal sampe kehamilan sekarang gak 'sembuh': doyan makan! Hahahaaa... Asyik deh punya 'penyakit' begini. Kalo gak makan pokok, minum susu, ngemil. Gak tau lah, kayaknya ada yang kurang gitu kalo gigi ini gak ngunyah. Ya, mungkin ini berkah buat para tukang dagang di sekitaran tempat gue tinggal (tapi rada 'musibah' buat nasib dompet gue, hiks!)

Tapi nih yaa, selama hamil ini gue jadi gak bebas jalan-jalan deh. Ippen suka kuatiran. Trimester pertama gue dilarang banyak jalan dengan alasan masih usia rawan. Trimester kedua boleh jalan tapi gak boleh jauh-jauh, karena takut terasa pusing akibat darah rendah. Sekarang trimester ketiga, gak boleh jalan-jalan tanpa dianter Ippen, soalnya takut mendadak melahirkan! Jyaaah, kadang gue mikir, nih orang protective apa gak mau ketinggalan gaul ma istrinya yah?? xixixi...

Bahkan sekarang ini kalo Ippen ada urusan keluar kota, gue langsung aja 'dioper' ke rumah tante gue di Depok. Katanya jangan sampe gue brojol tanpa ada 'saksi'.

Hihi, seru juga ya berbagai kejadian saat hamil??

Ada sakitnya. Ada senengnya. Ada betenya. Ada lucunya. Ada segala-galanya!

Yang paling penting sih kehamilan merupakan saat yang bikin kita-sebagai istri, bisa ngeliat sejauh mana suami peratian sama hal-hal kecil yang terjadi di rumah. Sejauh mana dia peduli sama perubahan fisik/psikis istri yang berubah-ubah secepat kodok loncat, daaan sebagainya....

Secara pribadi, gue berharap semoga masa-masa hamil yang insya Allah tinggal beberapa minggu ini bisa bikin gue berubah menjadi lebih baik, lebih dewasa dan terutama lebih dekat sama Allah. Amin!

Sampai ketemu lagi dengan cerita selanjutnya yaaa :)

Jumat, Juli 24, 2009

Artikel Adalah Guru Terbaik (Untuk yang Malu Bertanya 8-| )

Sekarang ini nge-net kayaknya udah jadi kebutuhan primer yang enggak lagi terbatas sama umur, status sosial atau pun daerah tempat tinggal. Coba deh perhatiin, dari murid SD sampai ibu-ibu. Yang tinggal di kampung atau pun kota besar, semuanya asyik-asyik aja tuh nyalain notebook atau HP trus online, deh! Kegiatan online nya pun macam-macam. Ada yang searching bahan kuliah/materi presentasi, nge-blog, nyari resep masakan, sampai bikin janji via messenger. Absen online sehari aja bisa bikin sebagian orang berasa enggak nafas. It’s because almost all the thing can be done in cyber world right now!
Keadaannya beda banget sama sekitar 11-12 tahun yang lalu, waktu pertama kalinya gue kenal internet…
***

Akhir 1997. Gue masih kelas 3 SMP saat itu. Di suatu libur catur wulan—seperti biasa—gue menghabiskannya di rumah nenek di Bandung. Bandung adalah kota kelahiran gue dan nyokap. Dimana sebagian besar keluarga dari garis nyokap masih tinggal di sana. Jadi, ajang liburan selalu menjadi ajang silaturahmi dengan keluarga besar. It was really interesting, except one thing: my cousin! Yup… ada satu sepupu yang agak menyebalkan di sana, sebut aja namanya A. Cowok, umurnya beberapa bulan lebih muda dari gue. Orangnya kadang belagu, suka pamer dan menceritakan prestasi-prestasinya.
Nah di liburan kali itu, seperti biasa dia mulai ‘pamer’ lagi. Kali ini temanya adalah INTERNET. Dia bilang, dengan fasilitas chatting dan email di internet dia bisa punya banyak teman baru, baik dari dalam maupun luar negeri. Enggak hanya itu, dia juga menunjukkan foto-foto artis terkenal yang katanya di-download dari internet. Gue melihat itu adalah foto-foto yang tampak nyata, bukan reproduksi seperti yang banyak dijual di pinggir jalan. Gue pun terpaksa mendengarkan ocehan dia, antara kagum, iri, tapi penasaran. Kenapa dia bisa sedemikian majunya sementara gue ketinggalan? Ohh, kemana aja gue selama ini??

“Nah, lo punya email nggak?” tiba-tiba aja A nanya. Gue gelagapan. Mau bilang punya, nyatanya enggak. Mau bilang enggak, gengsi dong! Akhirnya gue bilang aja, “Gue punya, tapi lupa namanya.”
Bla…bla…bla… sepupu gue itu dengan tengilnya terus nyerocos tentang internet. Mulai dari email account, Yahoo, MIRC, download, surfing, Lovemail, browsing, photo scan, etc. Dan buat gue, ini adalah pembicaraan yang amat sangat membosankan, karena di situ gue merasa bodoooooh banget!
***

Begitu pulang ke Sukabumi, gue ingat bahwa di beberapa edisi terakhir majalah yang biasa gue beli, ada artikel tentang internet. Artikel yang tadinya enggak pernah terlalu gue perhatikan. Karena apa? Toh di rumah gue enggak pasang internet! Sama seperti halnya gue enggak pernah baca majalah fauna, karena gue nggak memelihara binatang. Tapi sejak obrolan menyebalkan dengan sepupu gue sepanjang liburan, kali ini rasanya topik tentang internet merupakan makanan pokok yang wajib gue lahap! Let’s see that I’m not a stupid girl!
Gue gunting dan kliping semua artikel di majalah yang berhubungan dengan internet. Gue simak banget dari A sampai Z. Kalo ada istilah asing yang enggak ngerti, gue nanya sama bokap. Bokap gue yang seorang pelaut itu, rupanya rada melek teknologi. Dia tau tentang email, karena beberapa kali berkirim email dengan atasannya. Tapi sayang, keberadaan bokap di rumah enggak terlalu lama, karena harus kembali berlayar. Jadi ya tetap, gue mesti belajar sendiri.
Taraaa! Bahan yang gue perlukan akhirnya lengkap sudah. Sekarang tinggal prakteknya. Rasanya ini bagian yang enggak terlalu sulit. Tinggal ke warnet aja, kan?
***

Warnet di Sukabumi saat itu cuma ada dua, dan yang terdekat adalah di Jl. Suryakencana, sekitar 10 menit jalan kaki dari sekolah gue. Pas nyampe sana, gue bingung lagi, apa yang mesti gue bilang ke penjaganya?? Gue pun ngeliatin orang lain. Pertama-tama minta nomor, trus masuk ke bilik komputer. Sip lah!
Di depan komputer, gue sempat bengong sesaat. Tenaaang… tarik nafaaas… Oke, gue kan punya banyak bahan dari majalah. Mari kita praktekkan petunjuk di situ. Hal pertama yang gue bikin adalah email. Dengan bahasa inggris yang pas-pasan, gue nyoba bikin account di Lovemail. Kenapa gue memilih situs itu? Karena tampilannya yang ungu-pink di majalah terlihat paling girlie. Alasan yang konyol, bukan? Gue lalu mengisi data yang dibutuhkan satu persatu. Setelah memakan waktu yang lama banget, semua step akhirnya selesai dikerjakan. Aha senangnya! Tinggal nunggu, nih… Dan hasilnya: DITOLAK, katanya nama yang gue masukkin udah dipake sama orang lain. Oh my God! Rasanya mau pingsan… Tadinya mau nerusin, tapi tarif internet yang kala itu enggak bersahabat, membuat gue memilih pulang. Fyi, dulu itu internet sejam sekitar Rp 6.000-7.000.
Oya, waktu itu gue punya tante yang tinggal di US. Beberapa minggu sekali biasanya dia nelepon ke rumah. Nah saat gue mulai belajar internet, hal itu gue manfaatkan sebaik-baiknya. Dari tante/om lah gue menggali banyak informasi soal internet. Sampai akhirnya mereka ngasih email ke gue dan beberapa situs beasiswa sekolah di luar negeri, yang barangkali gue minati. Hehe, semakin semangat lah gue internet-an, meski nyokap suka marah-marah karena dipikirnya dengan internet-an, gue melakukan hal yang jauh lebih enggak penting ketimbang belajar.
Kunjungan gue ke warnet untuk kedua kalinya udah jauh lebih tenang dan terlihat lebih berpengalaman. Kali itu gue berhasil bikin email dan membuka beberapa situs yang direkomendasikan oleh tante gue. Meskipun enggak terlalu ngerti, tapi gue menganggap bahwa ini adalah suatu kemajuan yang berarti. Lagi asyik-asyiknya ngutak-atik email (dan mencoba ngirim email ke tante gue), tiba-tiba aja orang di sebelah gue manggil operator. Dia ngacungin disket dan bilang bahwa dia mau nge-save apa gitu… Gue intip-intip aja… Oww, rupanya dia mau nge-save gambar artis! Gue perhatiin dengan seksama caranya. Masukin disket, trus mas operatornya ngetik ini-itu… trus buka data disketnya untuk liat apakah si foto udah ke-save. Hebaaat, gue mendapatkan ilmu baru secara enggak sengaja! Karena takut keburu lupa, saat itu juga gue nanya ke orang sebelah gue nama situs yang ada banyak artisnya. Setelah dikasih tau, langsung aja gue buka… lalu beli disket di warnet, selanjutnya mengacungkan tangan ke mas operator, minta di-save-in foto artis bule (yang gue lupa siapa) plus email pertama yang gue terima. Taukah kalian, email pertama gue dari siapa? Dari Lovemail, pemberitahuan bahwa email gue udah aktif. Tapi saat itu gue mengira bahwa itu email penting pemberian selamat secara pribadi yang enggak semua orang bisa dapet. Gue berniat memamerkan itu sama nyokap!
Selanjutnya, majalah juga mengajarkan gue tentang chatting. Ahaha, inilah waktunya gue untuk ‘go public’—mengenal banyak orang dari berbagai belahan dunia. Oya, pada kunjungan ketiga gue udah mulai lancar kirim-kiriman email. Sama siapa lagi kalo bukan tante gue! Hihihi… abis teman-teman gue di sekolah pada gak punya email. Ada juga yang aneh. Pas ditanya email, jawabnya http://www.namamereka.com/. Jyaaah, mereka gak tau kali ya bedanya email sama website :p
Oke, kembali ke MIRC… Awal gue join MIRC ini malu-maluin banget. Saat itu gue merasa udah masukin semua data yang dibutuhkan, mulai dari milih ‘room’, ngisi ‘nickname’ dsb. Tapi tetap aja gue gak bisa join. Apa yang salah, coba? Karena stress tapi gengsi nanya, maka gue pun memencet-mencet keyboard seenaknya. Dan blass… komputernya malah gak mau jalan (belakangan gue tau, itu namanya nge-hang). Mana di layar terpampang semua ketikan asal-asalan gue pula. Oh no! jangan sampe mas operatornya liat. Bisa-bisa gue dikira mau ngerusak. Dan aha, ide itu pun muncul: Matiin aja tombol power-nya. Klik… beress! Gue pun pulang.

Again and again
, gue ke warnet… Masih penasaran dengan chatting nih ceritanya. Dan gue niat banget kali itu: bawa kamus! Kebetulan di sekolah ada pelajaran bahasa inggris. Dan gue bener-bener pengen nyobain chatting sama orang asing! Untunglah MIRC enggak bertingkah saat itu. Gue bisa join dengan lebih cepat. Dan inilah pertama kalinya gue ngetik ASL PLS (seperti yang gue baca di majalah). 15/F/Indonesia… begitulah perkenalan gue sama semua orang di chat room. Gilee, gue terkagum-kagum sendiri saat kenalan sama orang asing yang tinggal di luar negeri! Waktu itu teman baru gue ada yang dari Singapura, UK, Jerman, dll. Menyenangkan deh! Rasanya kita tuh dekaaaaat banget. Meski yaa, beberapa kali gue mesti bilang “Pardon?” atau “Sorry my English is not good.” :p
Oya, ada juga hal yang sangat menyenangkan sehubungan dengan awal-awal perkenalan gue di dunia cyber ini. Waktu itu hari jumat. Selagi gue online, operatornya ganti sama cewek, karena yang cowok mau sholat jumat. Pas gue lagi nge-save foto ke disket, mendadak komputer yang gue pake mati, entah kenapa. Gue pun menghubungi si mbak operator. Dan rupanya si mbak ini gak begitu ngerti sama masalah teknis. Akhirnya gue pun memutuskan untuk udahan. Pas mau bayar, billing gue gak muncul di komputer operator. Nanya lah si mbak, udah berapa lama gue pake internet? Dengan iseng, gue bilang aja kalau gue baru aja dateng. Walhasil gue pun dikenai tarif ‘seadanya’, yaitu Rp. 1.000 aja dengan diiringi permintaan maaf dari mbak operator atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan. Witwiiiw! Padahal gue udah nge-net setidaknya 2 jam :D
Time flies. Nyokap mulai marah-marah karena sering banget dengar gue mau ke warnet, entah itu di hari minggu atau sepulang sekolah. Gue juga udah enggak langganan majalah lagi, karena uang majalahnya gue pake buat ke warnet. Tapi gimana ya, rasanya gue udah mulai kecanduan… Apalagi inbox email gue kali ini enggak cuma dari tante gue yang di US itu. Teman-teman baru gue udah pada kirim email dan foto mereka. Dan dari mereka juga gue belajar gimana caranya nge-scan foto untuk seterusnya di-upload dan kirim balik ke mereka.
Namun semua memang mesti ada akhirnya, termasuk kecanduan gue sama internet. Pernah ada kejadian traumatis yang bikin gue enggak mau lagi nge-net. Waktu itu gue lagi chatting sama orang asing. Beda dengan teman-teman chatting gue sebelumnya yang nice, kali ini gue chatting dengan orang yang salah. Setelah nanya ASL PLS, dia langsung nanya, “Are you wearing bikini?” Udah gitu omongannya makin porno. Tuh orang sinting apa, ya?! Saking kesel n marahnya karena merasa dilecehkan, gue pun memaki-maki orang tersebut dengan bahasa Indonesia yang kasar, tanpa mikir lagi apakah dia ngerti atau enggak. Yang penting kekesalan gue terlampiaskan!
MIRC gue mendadak mati. Gue makin kesal karena belum selesai ngomel. Kebeneran sebelah gue ada anak SMA yang juga lagi chatting di MIRC. Gue tanya aja, kira-kira kenapa MIRC gue mati? Sesaat dia ngeliatin layar komputer gue dan ngetik ini-itu. Yang selanjutnya dia bilang, kayaknya gue di-banned. Apa lagi tuh?? Dia bilang, menurut kakaknya, di-banned itu wewenang MIRC nge-kick anggota kalau ada obrolan yang SARA atau semacamnya. Oooh… Detik itu juga gue langsung pulang dan bertekad untuk enggak bakal chatting lagi. Alasannya… Gue malu sama MIRC karena udah ngomong kasar. Gue pikir MIRC akan mendeteksi keberadaan gue saat itu :D
*****

Label:

Selasa, April 07, 2009

Dicari: Partai Indonesia Happy Ending

Udah tinggal hitungan hari, Pemilu bakal digelar. Orang-orang udah mulai sibuk nyiapin banyak hal. Mulai dari nabung bakal pulang kampung (karena nyoblosnya di kampung halaman), nyiapin mental; meyakinkan diri dengan wakil rakyat n partai yang bakal dicontreng, nyiapin fisik untuk ikutan kampanye, bahkan nyiapin dompet karena konon beberapa partai ada yang mau bagi-bagi duit di hari-H nanti. Woow!

Sementara gue?

Ah tenang aja… Meski belum yakin 100% sama partai yang dijagoin, gue sih enggak pernah berenti berharap bahwa siapa pun yang terpilih kali ini bakal bawa Indonesia ke arah yang lebih baik. Ya doong! Biar gak percuma mulut para caleg yang udah dower kampanye kesana-sini. Biar gak percuma juga masyarakat capek-capek jalan ke TPS untuk menitipkan suara hatinya sama ‘sang pilihan’.

Oya, mengenai Pemilu kali ini, ada beberapa cerita lucu dari sekitar gue. Gini… Entah dengan motivasi apa, tahun ini ada 3 orang yang gue kenal menjadi caleg. Supaya enggak dikira kampanye terselubung, mari qta gunakan inisial aja.

Pertama, bokapnya Di-temen gue. Beliau mencalonkan diri sebagai caleg independen dari provinsi NAD.

Kedua, temen kuliah gue: Iv. Dia jadi caleg untuk suatu partai kecil.

Ketiga, masih temen kuliah gue juga: In. Kalo dia sih katanya jadi caleg dari sebuah partai besar. Katanya itu juga, soalnya gue cuma dapet kabar dari bisik-bisik antar temen :D

Bokapnya Di itu meski secara penampilan terlihat serius dan berwibawa, ternyata kocak juga. Di cerita, saat brosur, stiker dan baligo bergambarkan wajahnya selesai dicetak, sang bokap tampak senang dan bilang bahwa beliau gak terlalu berambisi untuk menang. Dengan mukanya terpajang di mana-mana aja udah bikin dia cukup senang karena menjadi terkenal.

Huahaha! Gue rasa ini adalah contoh penerapan pepatah “Buah jatuh gak jauh dari pohonnya”. Yupz! Terlihat jelas bahwa kenarsisan beliau nurun bulat-bulat ke anak sulungnya, yaitu si Di! Nah terus sempet lah bokapnya Di terpikir akan suatu ide yang ‘spektakuler’. Beliau mikir, kalo cuma bikin poster, stiker dan semacamnya, kemungkinan untuk dibuang dan dilupakan orang sangatlah besar. Maka terlontar lah kalimat spontan,

“Gimana kalau ayah masang foto di cover buku Yasin aja?”

Dengan polos adiknya Di nyeletuk, “Lho, bukannya buku itu mah buat orang yang udah meninggal, Yah?”

Dan meledak lah tawa seluruh anggota keluarga Di. Yang membuat sang bokap tersadar lalu mengubah ide tersebut menjadi memajang foto di cover buku Iqra. Huahahaha!!

Lalu kalo cerita dari Iv lain lagi. Konon Iv sebenernya gak niat jadi caleg. Hal ini terjadi karena bokapnya berambisi nyalonin dia. Sementara Iv yang sekarang ini kerja di sebuah perusahaan vendor, sangat nyantai sekali dan bersikap ‘Tauk deh’. Gue yakin, temen-temen kantornya aja gak ada yang tau kalo cewek sedikit kriwil itu adalah seorang caleg!

Sementara kalo In, gue bener-bener gak tau ceritanya. Lah tau kalo dia caleg aja karena gosip sana-sini.

Buat bokapnya Di, karena gue ngeliat kalo beliau well educated, punya jam terbang yang cukup di pemerintahan dan sering terjun ke kampung halamannya, maka gue mendukung dengan doa. Buat temen gue In (yang katanya) getol banget kampanye dan secara waktu kuliah juga rada pinter masalah sosial, gue juga berdoa semoga sukses. Nah yang terakhir: Iv. Gue sih berharap dia gak kepilih. Bukannya gue sentimen, suer! Coba aja bayangin kalo orang kayak Iv jadi anggota legislatif… Sekarangnya aja udah EGP, gimana entar?? (Udah Iv, lo jadi karyawati aja ya, neng ;) )

Hmm, semua partai udah bikin janji masing-masing. Yang gue yakin udah dicatet sama malaikat di kanan-kirinya. Kelak jika itu ditepati, akan meningkatkan derajat mereka sebagai orang yang amanah. Tapi kalo dilanggar, ya… tanggung sendiri dosanya!

Sedikit terbersit di otak gue, kenapa ya sampai saat ini belum ada ‘Partai Indonesia Happy Ending’? Partai yang misinya menjadikan rakyat Indonesia bahagia dunia & akhirat. Entah kapan, semoga kelak ada yang seperti itu…