Google+ Followers

Tuesday, November 10, 2015

Tentang Bullying: Penyebab, Akibat Serta Cara Mencegah dan Mengatasi



Beberapa waktu yang lalu seorang teman bercerita pada saya, bahwa puteranya (Sebut saja Rio, laki-laki 6 tahun), kerapkali mengadukan perilaku temannya yang suka menyakitinya. Menurut Rio, teman yang dikenalnya di sebuah tempat kursus bela diri itu suka memukulnya. Tak hanya ia yang menjadi korban, beberapa temanya yang lain pun sudah ada yang menjadi korban. Sontak teman saya kesal mendengar pengaduan puteranya. Ia pun memutuskan untuk menemui pelatih dan mengadukan perilaku pemukulan tersebut. Sang pelatih berjanji akan memroses kejadian tersebut. Seminggu berlalu, Rio tak pernah lagi mengadukan perilaku yang sama pada ibunya. Baru hendak bernapas lega karena berpikir bahwa tak lagi ada masalah, tiba-tiba Rio mengeluh sakit saat sang ibu memberinya 'pelukan selamat malam'. Awalnya Rio tidak mau bicara mengenai penyebab rasa sakitnya. Namun setelah dibujuk, plus dibuka piyamanya dimana tampak lebam merah di punggungnya, ia pun mengaku bahwa ia kembali dipukul oleh temannya. 

"Kali ini lebih keras, katanya itu hukuman karena aku suka ngaduin dia pada Pak Pelatih." begitu ucap Rio pelan--seperti diungkapkan oleh teman saya.


Definisi dan Kategori Bullying

Bullying... Bullying... Bullying...


Apa sih sebetulnya yang dimaksud dengan Bullying? Mengapa rasanya kata tersebut terasa makin marak terdengar belakangan ini--baik itu di media cetak, televisi bahkan media sosial? Bahkan tak lagi sekedar isyu hangat di media, di sekitar kita pun sepertinya kasus bullying tak lagi merupakan hal yang asing. Nyaris setiap hari ada cerita bullying yang menimpa anak kerabat, tetangga, murid atau sekedar cerita dari kampung sebelah yang marak diceritakan kembali dari mulut ke mulut.


Atau jangan-jangan, kasus ini pernah menimpa buah hati kita sendiri?


Sebelum bicara lebih jauh mengenai hal ini, yuk kita kenali dan pahami mengenai 'bullying' ini.

Dalam sebuah jurnal disebutkan bahwa Bullying adalah bentuk_bentuk perilaku kekerasan dimana terjadi pemaksaan secara psikologis maupun fisik terhadap seseorang atau sekelompok orang yang lebih 'lemah' oleh seseorang atapun sekelompok orang. Pelaku Bully mempersepsi dirinya memiliki power (kekuasaan) untuk melakukan apa saja terhadap korbannya. Sebaliknya, korban mempersepsikan diri sebagai pihak yang lemah, tak berdaya dan selalu merasa terancam. (Jurnal Pengalaman Intervensi Dari Beberapa Kasus Bullying, Djuwita 2005:8) --> Sumber dari sini

Dalam jurnal yang sama, Bullying dibagi dalam 5 kategori sebagai berikut:
1. Kontak Fisik Langsung (memukul, mendorong, menjambak, menggigit, menendang, mencubit, mencakar, mengunci seseorang dalam ruangan, juga memeras dan merusak barang-barang milik orang lain)
2. Kontak Verbal Langsung (mengancam< mempermalukan, merendahkan, mengganggu, memberi panggilan/julukan, sarkasme, merendahkan, mencela< mengintimidasi, memaki, menyebarkan gosip)
3. Perilaku Non Verbal Langsung (melihat dengan sinis, menjulurkan lidah, menampilkan ekspresi muka yang merendahkan, mengejek atau mengancam)
4. Perilaku Non Verbal Tidak Langsung (mendiamkan seseorang, memanipulasi persahabatan sehingga menjai retak, sengaja mengucilkan atau mengabaikan, mengirim surat kaleng)
5. Pelecehan Seksual (kadang dikategorikan sebagai perilaku agresif fisik atau verbal)


Penyebab Bullying

Memandang dengan sinis, mengejek, mengancam, memukul, mendorong, menjambak, hingga melakukan pelecehan seksual... Itu semua bisa dikategorikan sebagai tindakan Bullying alias bentuk-bentuk perilaku kekerasan. Dua dekade yang lalu, sebutlah saat saya (penulis) masih duduk di bangku Taman Kanak Kanak dan Sekolah Dasar, bullying belum terlalu marak. Kekerasan semacam ini paling tidaknya 'hanya' terjadi di sekolah_sekolah lanjutan. 

"Anak-anak TK dan SD dulu mah paling cuma berantem sebentar, ledek-ledekan atau rebutan mainan, trus abis itu musuhan beberapa jam, udah deh baikan lagi. Kenapa ya sekarang, kok sampai ada berita anak SD pukul-pukulan bahkan sampai jatuh korban?" begitu tanya ibu saya.

Ya, faktanya Bullying kian hari memang kian marak. Apa sebetulnya yang melatarbelakanginya?

Mengutip dari www.psychologymania.com, ada banyak faktor yang ditengarai menjadi penyebab terjadinya perilaku bullying. Quiroz dkk (2006; dalam Anesty, 2009) mengemukakan sedikitnya terdapat tiga faktor yang dapat menyebabkan perilaku bullying, sebagai berikut:

1. Hubungan keluarga
Seperti apa pola perilaku dan nilai yang dianut oleh sebuah keluarga? Apakah perilaku yang sopan saling menghargai, menghormati dan memahami satu dengan lainnya, atau perilaku suka memaki, membanding=bandingkan serta kekerasan jika tidak memperoleh apa yang diinginkan?
Nah, seperti itulah nilai yang tertanam dalam benak anak-anak dan diberlakukan menjadi nilai yang dianutnya dan diekspresikannya, baik itu di dalam maupun di luar rumah (bisa keduanya atau bahkan di salah satu lingkungan saja). Anak yang terbiasa diperlakukan kasar, tidak didengar pendapatnya atau diabaikan, akan berpikir bahwa memang demikian lah pola perilaku yang baik dan benar. Maka ia akan menirunya untuk dipraktekkan pada teman atau bahkan pada orangtuanya langsung.
2. Teman sebaya
Berkenaan dengan faktor teman sebaya dan lingkungan sosial, terdapat beberapa penyebab pelaku bullying melakukan tindakan bullying sebagai berikut:
Kecemasan dan perasaan inferior dari seorang pelaku (berdasarkan obrolan dengan seorang guru SD yang beberapa kali menangani pelaku 'Bullying', hampir seluruh pelaku bullying perasaannya hampa. Dalam artian dia relatif kurang memahami emosi yang ada dalam diri dan sulit untuk mengekspresikannya karena tidak terbiasa diajarkan di rumah)
Persaingan yang tidak realistis
Perasaan dendam yang muncul karena permusuhan atau juga karena pelaku bullying pernah menjadi korban bullying sebelumnya
Ketidak mampuan menangani emosi secara positif (Rahma, 2008:47).-->Ini terkait dengan poin 1 yang sudah saya jabarkan sebelumnya.
3. Pengaruh media
Survey yang dilakukan kompas (Saripah, 2006) memperlihatkan bahwa 56,9% anak meniru adegan-adegan film yang ditontonnya, umumnya mereka meniru geraknya (64%) dan kata-katanya (43%).

Mari kita cermati 64% Gerak dan 43% Kata-kata! Ya< bukankah memang 'keahlian' anak-anak adalah meniru?
Fakta tersebut sangat gamblang menjelaskan pada kita sebagai orangtua ataupun pendidik, mengenai hal yang melatarbelakangi kasus yang marak beberapa waktu lalu tentang anak yang tewas di tangan temannya akibat meniru sinetron laga di televisi.

Yayasan Sejiwa (2007)--dalam www.psychologymania.com merangkum beberapa pendapat orang tua tentang alasan anak-anak menjadi pelaku bullying, di antaranya:

1. Karena mereka pernah menjadi korban bullying
2. Ingin menunjukkan eksistensi diri
3. Ingin diakui
4. Pengaruh tayangan TV yang negatif
5. Senioritas
6. Menutupi kekurangan diri
7. Mencari perhatian
8. Balas dendam
9. Iseng
10. Sering mendapat perlakuan kasar dari pihak lain
11. Ingin terkenal
12. Ikut-ikutan.

Dari ke-12 poin tersebut, tampak jelas bahwa perilaku bullying dipicu oleh perilaku negatif yang didapatkan oleh anak dari pihak lain terhadap dirinya. Belum pernah ada sepertinya kasus Bullying yang terjadi karena perilaku baik yang biasa diterima dari lingkungan (misal sikap menyayangi, menghargai, menghormati).


Akibat Bullying

Perilaku tak baik tentu akan berakibat tak baik pula. Akibat Bullying bisa bervariasi, mulai dari hal yang tergolong 'ringan' semacam gangguan makan karena adanya kecemasan yang belum diselesaikan sampai yang terberat yaitu keinginan untuk bunuh diri.

Mengutip dari berbagai sumber, berikut beberapa akibat yang bisa muncul dari anak yang sudah pernah mengalami di-bully:
Anak menjadi gelisah, sulit tidur, mengalami gangguan makan (bukan karena sebab fisik seperti sariawan atau gangguan mengunyah-menelan), mendadak malas/takut ke sekolah tanpa alasan yang jelas (ini terjadi jika pelaku Bullying ada di sekolah), mengigau kala tidur, trauma, mudah terkejut karena bunyi tertentu, stres, depresi, sering menyendiri bahkan hingga muncul keinginan bunuh diri.

Mengenai trauma, orangtua atau guru sebaiknya tidak selalu mengartikan bahwa ia 'hanya' takut jika dihadapkan dengan pembully atau lingkungan di mana ia biasa menghadapi perilaku bullying. Anak yang mengalami trauma akibat bullying, bisa juga menampilkan ketakutan saat pelaku sedang tidak di sekitarnya. Misalnya jika ada anak yang langsung menutup wajah saat ada tangan orang di sekitarnya sedang terangkat ke atas, ini patut diwaspadai sebagai sikap 'melindungi diri' karena terbiasa dipukul misalnya.

Atau, reaksinya bisa juga sebaliknya, bukan menjadi 'pasif' namun justru 'aktif' yaitu dengan mencari korban untuk dibully. Semacam tindak balas dendam lah.


Mencegah dan Mengatasi Bullying

- Orangtua adalah sosok yang paling bisa diandalkan untuk mencegah terjadinya Bullying pada anak-anak, karena mereka adalah orang yang paling dekat dengan anak-anak baik secara fisik maupun psikis. Kunci paling penting adalah amati dan kenali perilaku anak-anak sehari-hari. Jika anak terbiasa menampilkan keceriaan, sering bercerita dan aktif bergerak lalu di suatu waktu semuanya berubah dengan menjai pemurung, pendiam dan gerakannya tampak gelisah, maka ini merupakakan 'alarm' bagi orangtua untuk segera mencari tahu penyebabnya.

- Dengarkan cerita anak dengan seksama. Ada kalanya anak suka 'curhat' mengenai temannya yang nakal. Jangan terbiasa menyepelekan bahwa pertengkaran antar anak merupakan hal yang lumrah. Perhatikan, khususnya jika anak sudah menceritakan tentang teman yang nakal lebih dari satu kali. Sesekali temani atau pantau saat ia bermain. Bagaimana pola bermain ia dengan teman-temannya, termasuk anak yang menurutnya 'nakal'. 

- Adakalanya kita sebagai orangtua tak selalu bisa mendampingi anak. Maka ajarkan anak untuk bisa berkomunikasi dengan baik pada orang dewasa di sekitarnya saat Anda sedang tak bersamanya. Sampaikan pada anak bahwa jika ada yang berperilaku tak baik padanya di waktu tak ada ayah/bunda, ia bisa mengadukannya pada tetangga, guru, satpam dan lainnya. Tentu sebelumnya anak harus mengenal baik orang-orang dewasa yang tinggal di sekitarnya, agar ia bisa memiliki kepercayaan yang cukup baik pada mereka.
- Upayakan anak-anak untuk selalu berkelompok saat pergi sekolah, pulang sekolah atau bermain di sekitar rumah. Pelaku bully lebih mungkin melancarkan aksinya pada anak.


- Latih anak bersikap asertif, misalnya jika ada teman yang meledeknya, ajarkan anak untuk tidak langsung menangis atau berlari dan mengadu, namun katakan dengan tegas, "Maaf, aku nggak suka diledek/dipukul."
Paling tidaknya sikap tegas seperti ini akan lebih menciutkan nyali pelaku bullying ketimbang jika anak menangis. Namun jika pelaku malah semakin 'panas' dan membully anak lebih keras, maka disarankan untuk menjauhi dan menghindarinya di lain waktu.


- Biasakan berkomunikasi dengan anak mengenai topik ini. Katakan saja bahwa saat ini sudah banyak korban Bullying. Tentu tujuannya bukan untuk menakuti namun lebih pada mengajarinya waspada. Katakan padanya untuk tak takut melapor jika ini terjadi padanya, termasuk jika ia diancam atau diintimidasi sekalipun, tetap laporkan!


- Pertengkaran antar anak seringkali hanya masalah "sepele" seperti berebut mainan atau saling pamer. Namun jika masalah memanjang dan sudah pernah ada korban luka, maka jangan sungkan untuk melaporkannya pada guru. Jika sudah tampak trauma, maka konsultasi ke psikolog sangat dianjurkan.


PENTING untuk diingat, bahwa pelaku bullying bisa siapa saja baik itu teman< tetangga, kerabat bahkan guru sekalipun. Komunikasi yang intensif antar anak dan orangtua sangat mungkin untuk meminimalisir terjadinya bullying atau mengatasi dampak akibat bullying.


Be aware :)