Google+ Followers

Thursday, October 2, 2014

Menjadi Narasumber Rubrik Dunia Batita di Tabloid Nakita

Menjadi Narasumber di Tabloid Nakita edisi Agustus
Pada bulan Ramadhan lalu, saya mendapat email dari tabloid Nakita untuk menjadi narasumber pada rubrik Dunia Batita. Wah senangnya!  Meski awalnya saya sedikit heran, bukankah narasumber itu harus profesional, seorang Psikolog misalnya. Namun pihak Nakita mengatakan bahwa wawancara ini ditujukan pada saya setelah membaca buku Balita Bertanya Anda Menjawab yang saya tulis. 

Tentu saja saya senang dengan permintaan wawancara ini. Jika biasanya saya bersusah payah mengirimkan tulisan ke media, kali ini menjadi narasumber, rasanya mungkin kaya anak sekolah yang naik kelas, hihihi...

Tapi, tentu saja ini bukan hal mudah. Mengingat topik yang dibahas adalah Psikologi anak, tentu membutuhkan kompetensi dari sekedar seorang sarjana psikologi. Maka saya pun mengajak Ibu Sianiwati--partner dalam penulisan buku Balita Bertanya Anda Menjawab untuk berkolaborasi menjadi narasumber, agar tulisannya bisa dipertanggungjawabkan.

Sebetulnya, bukan kebiasaan saya untuk mem-posting tulisan yang dimuat di media. Tapi sepertinya kali ini spesial, sebagai kenang-kenangan untuk pertama kalinya saya menjadi narasumber artikel Psikologi--bidang yang merupakan kajian saya saat kuliah dulu. Sambil merapal doa, semoga suatu saat kelak saya diberi kesempatan untuk bisa meneruskan kuliah S2 dan menjadi Psikolog. Aamiin :)


Berikut tulisan asli saya sebelum dipercantik oleh tim Nakita:


Pada rentang usia batita, anak dikenal tidak bisa diam. Alhasil mengajaknya berbicara serius atau menyampaikan sesuatu sepertinya sangat sulit karena si batita tidak bisa duduk tenang dan mendengar. Nah, menyiasati ini, apa yang harus dilakukan? 


1. Apakah pada rentang usia batita, merupakan suatu hal yang wajar bila batita tidak bisa diam dan berlarian ke sana kemari? mengapa?

Dalam teori psikososial yang dikemukakan oleh Erik Erikson, pada usia 1-3 tahun anak berada pada fase perkembangan ‘autonomy vs shame and doubt’, pada masa ini  timbul kesadaran bahwa apa yang mereka lakukan adalah atas kehendaknya sendiri. Kemandirian dan autonomi mulai terbentuk di usia ini, anak mulai berpikir bahwa mereka memegang kendali atas apa yang dilakukan. Berangkat dari teori tersebut, bisa dikatakan wajar apabila batita aktif bergerak. 

Pada umumnya di sekitar usia 1 tahun anak sudah mulai bisa berjalan. Ini membuat anak merasa bahwa mereka bisa lebih leluasa mengeksplorasi lingkungan. Segala sesuatu yang sebelumnya tampak ‘aneh’ di matanya, akan ditelusuri misalnya memanjat kursi atau melompat dari atas kasur—tanpa khawatir terjatuh, seolah itu adalah sebuah trampolin raksasa yang siap memantulkannya kembali. Semua itu bertujuan untuk memuaskan rasa ingin tahunya yang begitu besar tentang lingkungan sekitar. 

Perlakuan orangtua—apakah membiarkan atau mengekang perilakunya, akan berpengaruh pada fase perkembangan selanjutnya. Jika orangtua membiarkan dengan memberi arahan yang tepat, anak akan cenderung mampu mengembangkan kemandirian. Sementara jika orangtua sering mengekang dan tidak membebaskannya bereksplorasi, anak akan cenderung mengembangkan rasa malu dan bersikap ragu-ragu.


2. Ketika diajak berbicara dan si batita tidak mendengarkan serta duduk tenang, apakah tindakan yang harus dilakukan? 

Batita sangat pintar meniru perilaku orang-orang yang ada di sekitarnya, baik itu orangtua atau pengasuh yang sering ada bersamanya atau orang baru yang ia lihat sesekali (misalnya kerabat yang datang berkunjung). Tunjukkan kepada mereka bagaimana cara dan bentuk komunikasi yang layak, terutama berkaitan dengan saling mendengarkan, memberi perhatian dan merespons secara positif. Misalnya saat ia datang sambil terengah-engah, tanyakan apa yang terjadi kepadanya dan dengarkan dengan seksama. Jika anak mengatakan bahwa ia ketakutan karena tadi melihat laba-laba di kamar mandi yang merayap turun ke bawah seakan-akan mau mengejarnya, beri respons yang menentramkannya, misalnya sambil mengusap dan memeluknya Anda bisa bilang seperti ini “Tapi laba-labanya kecil kan? Lebih kecil daripada tubuhmu, kan? Aduh pasti kamu capek ya, barusan lari-lari ke Bunda. Bunda ambilkan minum ya sayang…”
Obrolan seperti ini akan membuatnya tenang, merasa dipercaya, didengarkan dan dipedulikan. Selanjutnya respons seperti ini akan tersimpan di memorinya untuk kemudian diulang dalam situasi dan kondisi lain.

Namun tentu saja kemampuan batita merespons positif belum sebaik orang dewasa. Ada kalanya ia lelah atau kesal sehingga respons baik yang sudah diajarkan itu tak ditampilkan. Dalam hal ini, bersikaplah tenang dan jangan langsung menyalahkannya. Di masa batita, mungkin agak sulit menyuruh anak tenang untuk mendengarkan dengan seksama ucapan orang dewasa, karena mereka lebih tertarik untuk bermain. Tak usah khawatir, sediakan saja permainan yang bisa membuatnya sibuk tapi sambil duduk agar bisa mendengarkan Anda. Beri ia mainan favoritnya lalu ajak ia berbicara dengan santai. Beri penekanan pada hal yang menjadi inti pembicaraan Anda. Misalnya seperti ini, “Bunda tahu kalau Kakak suka sekali bermain bola. Tapi sebaiknya kakak Cuci kaki dulu sebelum naik ke tempat tidur dan cuci tangan sebelum makan. Kalau tidak, nanti kuman yang ada di tangan dan kaki yang kotor akan masuk ke makanan atau tinggal di kasur, sehingga membuat kakak sakit.”
Beri penegasan, jangan bosan mengulang dan maklumi jika anak tak menurut setelah 1-2 kali diberitahu. Lebih dari itu, Anda bisa memberikan semacam konsekuensi. Misalnya ia tak boleh memakan kue favoritnya sebelum mencuci tangan. Sebaliknya beri ia reward jika sudah bisa dan mau duduk tenang saat Anda berbicara. Tak perlu selalu berupa barang, satu-dua kalimat pujian saja sudah bisa membuatnya senang.


3. Pada rentang usia batita, apa tahapan perkembangan bahasa yang semestinya sudah dicapai oleh batita? 

Di usia 1 tahun, seorang anak akan mampu mengucapkan 2 kata yang memiliki makna. Jika diperlihatkan suatu benda yang sering dilihatnya sehari-hari, ia juga sudah bisa mengerti maknanya (misalnya sisir, bola, boneka). Selanjutnya pada usia 15 bulan, batita sudah mampu mengucapkan 4 - 6 kata dan mampu meniru sebuah kata sederhana dan mempraktikkannya pada situasi atau kondisi yang tepat, misalnya “kue,” sambil menunjuk ke piring kue. Kemampuan bicara ini akan meningkat pada usia 18 bulan ditandai dengan menyebutkan sekitar 10 kata yang memiliki makna. 

Menjelang usia 2 tahun, kemampuan bicara anak semakin tinggi dan lebih kompleks dari sebelumnya. Perbendaharaan katanya meningkat sangat pesat, berkisar 50 kata. Kata tanya seperti ‘apa?’ atau ‘mana?’ pun mulai keluar dari mulutnya. Batita juga sudah mulai bisa memberi jawaban singkat, seperti ‘enggak’, ‘mau’, ‘di sana’ dan semacamnya meski pengucapannya untuk sebagian kata tak terlalu jelas, misalnya ‘nana=di sana’ dan ‘nda=enggak’. Kata-kata yang merujuk pada kepemilikian pribadi seperti ‘punya aku’ atau ‘punya Sasa—menyebut namanya’, pun rata-rata mulai dijumpai pada rentang usia ini.  Pada usia ini anak sudah mulai bisa berbicara dengan “kalimat telegram,” misalnya “Ma, pegi” (maksudnya “Ayo ma, kita pergi”).

Selanjutnya di usia 2-3 tahun anak rata-rata menguasai sekitar 200-300 kata dan senang mengekspresikannya dengan berbicara sendiri (atau ‘mengobrol’ dengan boneka). Di usia ini anak-anak mulai senang menyimak obrolan orang dewasa untuk disimpan dalam memorinya dan dipraktikkan di waktu lain. Obrolan timbal balik mulai terjalin di rentang usia ini, karena sedikit demi sedikit anak mulai mampu menanggapi obrolan yang ditujukan kepadanya, seiring kemampuannya membuat sebuah kalimat sederhana dengan memasukkan kata sambung di dalamnya, menggunakan kata kerja, dan membuat kalimat negative, misalnya seperti ini, “Nina ngga mau main sama Tasya.” atau “Aku ikut sama ibu ke kantor ya?”. Menjelang 3 tahun ini pula, pada sebagian anak kata tanya, ‘kenapa’ sudah mulai muncul. Misalnya, ‘kenapa adik nangis?’ atau ‘kenapa kucing lari?’

4. Apakah kebiasaan cuek tidak mendengarkan omongan orang lain ini dapat terbawa hingga anak dewasa?

Bisa, jika orangtua tidak mengajarkannya cara-cara untuk peduli kepada orang lain. Ajarkan anak untuk berempati terhadap orang-orang di sekitar maupun lingkungannya. Cara pertama tentu saja dengan memberinya contoh. Beri respons positif kepada anak untuk berbagai topik yang diceritakannya. Jangan ragu untuk bertanya jika Anda tidak jelas menangkap maksudnya, hingga kemudian Anda bisa mengajukan solusi atau membuatnya lebih nyaman. Ini penting, selain bisa membentuk pola interaksi yang baik antara anak dengan orangtua—yang bisa ditirunya saat berinteraksi dengan orang lain, juga membentuk ‘trust’ seorang anak kepada orangtuanya, hingga di kemudian hari ia akan nyaman memberitahu orangtua tentang berbagai masalah yang dialaminya, didasari kepercayaannya bahwa orangtuanya mampu menjadi teman berdiskusi  yang andal dalam hal memberi  kenyamanan dan menemukan solusi.

5. Adakah tips yang dapat diterapkan oleh para ibu agar dapat mengatasi permasalahan ini (cuek--tidak mendengarkan omongan orang lain)?

Tips ‘kamar gelap’ cukup efektif untuk hal ini. Cobalah untuk mengajak anak berbicara berdua saja minimal sekali dalam seminggu di dalam kamar yang lampunya diredupkan atau dimatikan dengan diberi penerangan dari lilin/emergency lamp. Mulailah bermain bayangan atau mendongeng dengan mengangkat topik yang ingin Anda gali atau justru ingin diterapkan kepada anak. Misalnya tentang ketekunan, Anda bisa bercerita tentang betapa tekunnya seekor laba-laba membuat sarang memakai benang yang dikeluarkan dari tubuhnya. Saat cerita selesai, Anda bisa meminta tanggapannya. Dari tanggapan sang batita, timpali lagi dengan memasukkan berbagai pesan moral. Di situ anak akan belajar banyak hal tanpa ia sadari, mulai dari belajar mendengarkan, memahami masalah hingga mencari jalan keluar yang baik. Kamar dengan pencahayaan minimal membuatnya bisa lebih rileks dalam mengungkapkan berbagai hal. Namun Anda tentu lebih tahu kemampuan anak, apakah ia terbiasa dalam gelap atau justru takut. Jika takut, Anda bisa memodifikasi ‘setting’ ini. Yang terpenting adalah ciptakan situasi dan kondisi nyaman (anak tidak dalam kondisi lelah, lapar atau kesal), sehingga ia bisa menangkap apa yang ingin Anda sampaikan dan merespons Anda dengan baik.

No comments: