Google+ Followers

Friday, April 10, 2015

Ajarkan Membaca Pada Anak Usia Dini, Salahkah?

Bilal dan Gaza yang saya perkenalkan dengan buku sejak dalam kandungan

Maret 2015 lalu, Gaza—putera sulung saya berusia 5 tahun 3 bulan. Di situ lah untuk pertama kalinya saya mendengarnya mengeja satu kalimat utuh dengan terbata-bata. Gaza mulai lancar baca! Alhamdulillaah.. Hilang sudah satu kekhawatiran saya terkait isyu kelancaran membaca sebagai salah satu syarat masuk SD, khususnya SD negeri.

Satu sisi saya senang dan bersyukur. Tapi, di sisi lain, saat beberapa komentar negatif mampir di telinga, saya pun jadi berpikir ulang.

“Gak bagus tuh anak balita diajarin baca, nanti stress.”

“Usia dini itu bagusnya distimulasi kreativitasnya, bukan calistung.”

“Kalau masih prasekolah, otak kiri sebaiknya jangan terlalu digegas. Mematikan potensi otak kanan.”

dll…dst..dsb pernyataan senada terdengar oleh saya, baik secara langsung maupun sindiran tak langsung.


Jadi, gimana nih, betulkah mengajarkan anak membaca sejak dini itu salah? 

Pertama saya mau cerita proses panjang mengajarkan Gaza membaca. Iya, ngajarin dia baca itu bukan kaya bikin mie instan yang jadi dalam waktu hanya 3 menit, sodara-sodara. Saya memulainya sejak dia masih bayi. Bahkan lebih dini, sejak di dalam kandungan! (Wah, kali langsung ada lagi yang protes, dikira saya over stimulasi). Tunggu, jangan dulu protes ya. Baca dulu sampai selesai…

Jadi, diawali saat saya hamil di tahun 2009 dulu, saya sudah membiasakan janin dalam perut untuk mendengar saya membaca buku, Al Qur’an, majalah, artikel di internet, bahkan catalog minimarket sekalipun. Caranya, ya saya bacain aja kencang-kencang sambil diajak ngobrol. 

Misalnya gini,
“Hai shalih/shaliha, yuk kita ngaji.”
“De, Bunda lagi baca majalah tentang Ibu bekerja di rumah, nih. Kamu maunya nanti Bunda ngantor atau di rumah aja?”
“Hei lihat, harga susu hamil merk X lagi diskon. Kita cobain yuk?”  Sambil liat brosur minimarket :p

Dan bla la bla, saya pun membaca, dengan melibatkan janin di dalam kandungan. Kegiatan yang saya lanjutkan saat Gaza sudah lahir. Demikian pula halnya dengan Bilal, dari hamil sampai sekarang, saya tetap sering melibatkan anak-anak dalam kegiatan membaca.


Tujuannya apa?

Tahu pepatah ‘Tak Kenal Maka Tak Sayang’ kan? Nah, begitulah maksud dan tujuan saya melakukan itu. Saya pengen anak-anak mengenal dan menikmati kebiasaan membaca sedini mungkin. Jika sudah kenal dan tahu kalau kegiatan membaca itu mengasyikkan, insyaa Allah akan lebih mudah bagi mereka kelak mencintai buku. 


Trus kenapa harus cinta? Memangnya kesuksesan seseorang Cuma ditentukan oleh hobi membaca?

Ah ya nggak juga, tapi saya yakin kalau orang suka membaca itu akan lebih dekat pada kecerdasan serta keluasan wawasan ketimbang pada kebodohan dan kepicikan. Buktinya dalam salah satu ayat Al Qur’an, Allah memerintahkan hal tersebut pada Nabi Muhammad. Pastilah perintah tersebut didasari dengan maksud dan tujuan besar, nggak asal jeplak.

Seiring bertambahnya jumlah usia, proses mengajarkan baca ke Gaza saya tingkatkan, tak lagi sekedar diajak mendengarkan. Gaza saya ajak lihat gambar dan huruf yang ada di dalam buku cerita. Padanya saya tunjukkan gambar sambil memeragakan adegan agar terasa lebih hidup. Sesekali saya membaca sambil jemari ini bergerak megikuti barisan kata, agar Gaza tahu bahwa saya sedang membaca. 

Pengajaran berlanjut. Tak hanya melalui buku, berbagai media di sekitar bisa dijadikan sarana bagi saya untuk mengajarkan Gaza membaca. Saat sedang berada di halaman dan melihat bulan nan bundar, saya tunjukkan pada Gaza dan bilang kalau bulan itu mirip huruf ‘O’ yang pengucapannya dengan membuka mulut dan sedikit monyong. Selain bulan, ada juga bebek yang mirip angka ‘2’, kursi terbalik serupa dengan angka ‘4’ dan tubuh kita saat berdiri yang sama dengan huruf ‘I’ atau angka ‘1’.

Dari situ kreativitas Gaza bermunculan. Pernah dia melengkungkan mainannya dan bilang kalau itu kaya huruf ‘V’, atau menyilangkan tangan dan mengatakan itu huruf ‘X’. Sesekali saat melihat awan dengan bentuknya yang beraneka ragam, dia juga suka celetuk kalau awan itu mirip huruf ‘M’ atau ‘W’. Saya mengiyakan saja. 

Tak hanya dari alam, Gaza juga belajar huruf dan angka dari laptop. Punya Bunda penulis, menjadikan Gaza sejak bayi  sudah akrab dengan benda satu ini. Tak jarang ia terbangun dan mendapati saya sedang asyik menulis, lalu nimbrung. Nah, sekitar usia 3 tahun, Gaza mulai tertarik untuk ikut ‘menulis’ juga. Dia suka pencet-pencet kibor laptop saya sambil memerhatikan layar monitor. Nulis huruf, menggambar dan lainnya dia lakukan dengan senang dan tenang tanpa ada paksaan sama sekali. Rangkaian huruf-hirif pertamanya saya ingat betul, yaitu ‘Gaza’, ‘Ayah’ dan ‘Bunda’. Itu bisa dilakukannya saat usianya menjelang empat tahun. Dimana kala itu Gaza sudah hafal huruf tapi belum bisa mengeja, selain ketiga kata itu. Saya ingat betul, guru Play Group nya pernah memastikan apakah Gaza sudah bisa baca? Karena suatu kali ada pembagian benda yang sudah diberi nama masing-masing murid, Gaza meminta pada gurunya untuk mencari sendiri miliknya dengan alasan bahwa dia sudah bisa membaca namanya.

“Gaza tuh sempat megang dua amplop agak lama, sebelum akhirnya bilang. Ini punya Gaza, tuh G-A-Z-A. Kalo ini bukan, soalnya tulisannya G-A-D-I-S. Bukan Gaza.” 
tutur guru Play Group nya. 

Ya, seperti sudah saya sampaikan sebelumnya, saat itu baru 3 kata yang bisa dibaca Gaza, yaitu kata-kata yang paling dekat dengan kesehariannya: Gaza, Ayah dan Bunda.

Gaza—sebagaimana anak-anak Prasekolah pada umumya, juga memiliki semangat yang naik turun dalam hal belajar (eh, ini sih rasanya orang dewasa pun begitu ya?). Nggak selamanya dia senang berinteraksi dengan huruf dan angka. Saat lagi senang main sepeda atau mengumpulkan sampah, ya dia lakukan kegemarannya yang itu. Pun saat tertarik membantu Bunda atau Ayah ‘beberes’ rumah, itu saja yang dilakukan. Angka dan huruf pun dia lupakan total. Saya juga nggak mengajaknya untuk belajar, bahkan menyelipkannya dalam permainan pun nggak. Suka-suka dia saja. 

Di TK A yang dimasukinya pada tahun ajaran 2014-2015, Gaza juga belajar membaca. Gurunya baru mengenalkan huruf saja sambil bermain petak umpet, adu cepat atau permainan lainnya. Alhamdulillaah Gaza sudah lebih dulu bisa, sehingga tidak mengalami kesulitan menghadapi pelajaran (sekaligus permainan) huruf dan angka. Kegiatan ini justru memacunya untuk bisa lebih pintar membaca. Gaza termotivasi untuk bisa menebak duluan kata yang disodorkan Bu Guru, begitu alasannya.

Nah begitulah proses belajar membaca yang saya terapkan pada Gaza. Tidak terkesan buru-buru atau digegas,kan? Saya hanya mengarahkan. Selanjutnya, memang Gaza tampak berminat, ya alhamdulillaah. 


Bagaimana perkembangan kognitif anak yang bisa baca di usia dini?

Jika ada yang mengkhawatirkan perkembangan kognitifnya di tahapan usia selanjutnya, insyaa Allah tidak akan apa-apa. Mengingat fakta bahwa saya pun dulu bisa membaca Koran di usia 4 tahun dan tak ada masalah hingga saat ini. Ya, saya ingat betul kalau pas TK A dulu, suka didaulat oleh teman-teman untuk membacakan buku cerita di waktu istirahat. Sampai-sampai Bu Tini—guru TK saya berpikir kalau kelak muridnya yang satu ini akan jadi news anchor. Dan apakah itu salah ibu saya karena mengajarkan membaca pada saya sejak usia dini? Tentu tidak, bukan?

Kesimpulannya, menurut saya, sudahlah tak perlu menjadikan topik ini sebagai sebuah isyu kontroversial, dimana banyak orangtua—khususnya ibu-ibu yang berlomba mencari pembenaran dari berbagai tokoh parenting guna mendukung keputusannya mengajarkan membaca atau tidak untuk anaknya yang masih berusia balita. Ini kembali pada kemampuan dan minat setiap anak, kok. Kalau memang anak berminat dan memiliki kemampuan, ya bimbing saja. Kalau tidak, ya tak usah. Arahkan buah hati menuju hal-hal lain yang menjadi minat besarnya, misalnya melukis, menari, menyanyi dan lain-lain. Tak perlu pula saling kritik atau bahkan hujat pada orangtua yang memiliki pandangan atau pola asuh berbeda. 

Ayah Bunda yang bijaksana, cobalah ingat kembali niat dan tujuan kita mendidik buah hati. Ingin jadi anak pintar kan? Shalih/shaliha kan? Atau murah hati? Bahagia? Yang baik-baik pastinya kan ya. Jadi fokus saja pada potensinya dan kemampuan kita (otak, materi dll). Insyaa Allah akan dimudahkan.

Salam sayang,
Pritha Khalida

3 comments:

fanny fristhika nila said...

Setujuuuu ^o^.. Aku toh dulu diajarin baca ama papa pas umur 3 thn, dan sebelum umur 4 udh lancar.. Anakku sekarang aku udh masukin paud mba.. tp ya bukan berarti dia dipaksa utk bljr, malah kegiatannya cuma senang2, nyanyi, menggambar, tapi pelan2 mereka ini diajak utk kenal hurup dan angka,, menurutku ya g ada salahnya lah... kalo dipaksa itukan anak2 bisa tertekan.. tp kalo cara mengenalkannya lwt hal2 yg disukai anak2, toh mrk jd cepet ngerti dan senang bljr

Rahmi Aziza said...

Yang penting anak hepi aja ketika menjalaninya ya mbaa

keny irma said...

intinya sih klo ngajarin anak2 itu jangan ada unsur paksaan.selama anak enjoy ya lakukan.kan anak2 itu moody banget blom tentu hari ini mau baca bsok mau lagi.jd klo aq sih ngajarin anak itu jangan terlalu kaku.