Google+ Followers

Monday, January 25, 2016

Wahai Anakku Tidak Apa-Apa Ya Kita Sedikit Berbeda!

Kiki Barkiah
Tokoh Parenting  Inspiratif
Berani Berkarya dalam Perbedaan untuk Perubahan

Hidup memang pilihan, dan setiap pilihan memuat konsekuensi tersendiri. Terkadang sebagai orangtua, saya memilih harus menjadi berbeda dengan pilihan kebanyakan orang, terutama dalam memilih semua hal yang berkontribusi dalam membangun pola pikir dan pola sikap anak-anak.
(Kiki Barkiah, 5 Guru Kecilku, Hlm 75)

            Pertama kali saya membaca tulisan itu di laman media sosial, dibagikan oleh beberapa orang teman di beranda mereka, lebih dari setahun yang lalu. Tulisan yang sungguh membuat saya merasa bahwa saya tidaklah sendiri menjadi seorang ibu yang menerapkan pola asuh berbeda dari kebanyakan ibu—baik itu teman maupun kerabat yang saya kenal.

            Seringkali Gaza (6th), putera sulung saya bertanya,
            “Kenapa sih gak boleh nonton film kartun X? Teman-teman aku pada nonton, sama bundanya boleh, cuma aku yang gak boleh. Padahal itu kan film kartun, film nya anak-anak.”
            Atau,
            “Ampun Bun, masa main HP baru sebentar aja udah diminta lagi. Padahal kan lagi seru-serunya. Bunda mah pelit! Teman-teman aku boleh main HP berjam-jam sama ibunya.”
            Lain waktu,
            “Ini hari Minggu, Bun. Libur! Masa tetap harus mandi pagi baru boleh main? Teman-teman juga belum pada mandi kalau main. Malah banyak yang baru bangun tidur boleh langsung sepedahan. Gaza udah bangun dari subuh, udah solat, tetap gak boleh!”

            …dan masih banyak protes lainnya terkait aturan yang saya terapkan baginya mulai dari makanan apa saja yang boleh dikonsumsi hingga aturan jam tidur, yang jika dilanggar akan menuai konsekuensi berkurangnya jam main bersama teman. Hingga akhirnya saya pun mendapat predikat sebagai ‘Bunda yang paling banyak aturan sedunia’ dari sang buah hati tercinta.

            Menyandang ‘predikat’ demikian sejak si sulung berusia sekitar empat tahun kadang membuat saya berpikir, apa jangan-jangan saya ini berlebihan ya? Over protective kalau menurut salah seorang kerabat saya. Karena katanya, biarkan saja anak-anak itu jangan terlalu banyak aturan, nanti sekalinya keluar malah kaya kuda liar. Tidak hanya kerabat yang tinggal berjauhan, kadang peraturan yang saya terapkan pun dilanggat oleh orang terdekat seperti orangtua dan suami, atas nama kasihan pada anak yang masih kecil. Padahal menurut hemat saya, kalau mau membiasakan sesuatu justru harus sejak dini, agar terbiasa kelak.

            Di tengah rasa galau itu, saya membaca tulisan karya Kiki Barkiah berjudul “Wahai Aanakku Tidak Apa-Apa Ya Kita Sedikit Berbeda”. Di situ Kiki bercerita mengenai puteranya Ali—yang saat itu berusia 10 tahun, yang menjalani pola hidup berbeda dengan teman-teman sebayanya saat mereka tinggal di Amerika. Contohnya adalah saat Ali merasa ‘gak nyambung’ mendengar pembicaraan teman-teman \ yang bercerita tentang games-games populer di kalangan mereka. Disitu diceritakan bahwa Kiki—sang penulis artikel, tidak mengizinkan puteranya berkenalan dengan games semacam itu. Sebagai gantinya, Ali difasilitasi beberapa games edukatif seperti lego desainer, visual programming untuk anak-anak atau membuat program untuk Lego Robotic. Tak hanya urusan games, Ali bahkan berbeda dengan teman-teman seusianya untuk urusan tontonan, aktifitas harian dan jenis buku yang dibaca. Keluarga mereka bahkan sudah sanggup meniadakan televisi di rumah.

            Wow, sepertinya ibu ini bahkan memiliki derajat perbedaan yang lebih tinggi levelnya dari saya, pikir saya kala itu. Bagaimana tidak, kondisi mereka saat itu tinggal di Amerika, lho! Memilih untuk menjadi berbeda dalam hal-hal yang terkait dengan aktifitas rutin di negara lain, pastinya bukan hal yang mudah. Ada lebih banyak tantangan yang harus dihadapi mulai dari adaptasi, sosialisasi sampai tak adanya teman untuk sama-sama menjalani kehidupan yang ‘sedikit berbeda’.

            Lalu saya pun mulai kepo. Saya telusuri akun media sosial sang penulis. Di sana ada banyak tulisan lainnya mengenai pengalaman beliau mengasuh kelima anaknya di negeri Paman Sam tanpa asisten rumah tangga. Apa, lima? Oh ya ampun, saya saja yang baru dua rasanya seringkali pusing tujuh keliling. Ini lima! Lainnya, beliau juga menjadi guru homeschooling bagi anak-anaknya. Fakta ini membuat saya semakin penasaran dengan sosoknya. Kiki Barkiah pasti bukan ibu biasa. Itu kesimpulan pertama saya. Kesimpulan yang membuat saya selalu kangen dan menantikan tulisan-tulisan selanjutnya sambil terus browsing, siapa sih perempuan ini? Psikolog kah? Atau Ustadzah?

            Tulisan-tulisan Teh Kiki—belakangan saya tahu demikian ia biasa disapa oleh follower-nya yang berjumlah puluhan ribu itu, semakin disimak semakin membuat saya merasa lebih baik dalam menjalani peran sebagai seorang ibu. Dalam artikel atau puisi bertema parenting yang rutin ditulisnya paling tidak seminggu sekali itu, beliau begitu bijak, sabar dan telaten dalam mengasuh kelima buah hatinya. Ada tulisan yang membuat saya merasa memiliki ‘teman senasib’, ada juga tulisan yang memberi teguran pada saya, terutama topik tentang kesabaran. Sesuatu yang rasanya saya miliki dalam porsi sedikit. Lainnya, membuat saya lebih banyak bersyukur. Setiap topik selalu dibahas dengan cara yang mengasyikkan, tak ada kesan menggurui, bahkan jika ia menyelipkan kutipan ayat suci Al Qur’an atau Hadist sekalipun. Ah Teh Kiki, aku padamu!

            Allah memang Maha Tahu isi hati hamba-Nya. Suatu hari saya ‘dipertemukan’ dengan Kiki Barkiah. Menurut seorang teman, dia berniat mengundang saya untuk menjadi narasumber dalam sebuah program radio online yang diasuhnya, terkait buku parenting yang saya tulis. Ah, saya akan diwawancarai oleh perempuan hebat ini? Terasa sebagai sebuah kehormatan bagi saya.

            Selepas program tersebut, saya beberapa kali kontak lagi dengan Teh Kiki. Tak jarang kami berdiskusi meski hanya melalui messenger. Diskusi dengan beliau selalu hangat dan menyenangkan. Di usianya yang lebih muda sekitar dua tahun dari saya, beliau tampak lebih dewasa dan matang cara berpikirnya. Kiki Barkiah seorang ibu yang cerdas. Meski berlatar belakang sarjana Teknik Elektro, namun wawasan yang tertuang dalam tulisan-tulisannya, membuat saya merasa bahwa ia sudah layak disebut ‘Ustadzah’ atau ‘Pakar Parenting’.

            Waktu berlalu sampai akhirnya Teh Kiki mengabari bahwa karena satu dan lain hal, beliau akan pulang ke Indonesia. Kami saat itu banyak berdiskusi mengenai penulisan buku. Katanya, beliau berniat membukukan tulisan-tulisan yang selama ini memenuhi dinding akun media sosialnya. Saya menyambut baik kabar tersebut. Pasti akan sagat keren kalau tulisannya selama ini jadi buku.

            “Nanti saya beli, tapi ditandatangani ya?” pinta saya padanya saat itu. Teh Kiki hanya berujar, InsyaaAllah.

            Setelah beberapa bulan, buku karya perempuan jebolan ITB ini akhirnya launching. Tak hanya mendapat buku bertandatangan, tapi saya juga berkesempatan menjadi salah seorang yang dipilih untuk menjadi endorser buku tersebut. Dan seperti sudah saya duga sebelumnya, buku karyanya yang diberi judul 5 Guru Kecilku mendapat sambutan luar biasa. Laris sebanyak 15.000 eksemplar di hari pertama terbit! Sungguh suatu prestasi luar biasa untuk sebuah buku perdana. Tak hanya jumlah eksemplar yang patut diapresiasi, namun juga keberaniannya untuk menerbitkan buku tersebut di bawah bendera penerbitan yang dirintisnya bersama suami dan saudaranya. Tidak bisa dipungkiri, Teh Kiki memang layak mendapatkannya. Tulisan-tulisannya sungguh luar biasa, dikemas dalam kalimat sederhana namun sarat makna. Menembus hati para ibu di seluruh dunia, membuat kami—para ibu, merasa dipahami dan dicintai. Tulisan Kiki Barkiah bahkan mampu menembus dinding ‘momwar’. Ya, saat Teh Kiki akhirnya menulis topik yang sedang menjadi perdebatan para ibu di dunia maya, tulisannya tetap menyejukkan, nyaris tak ada pro kontra, bahkan mendamaikan.

            Ah, tak akan habis rasanya jika harus membahas sosok satu ini. Kiki Barkiah merupakan tokoh Ibu Inspiratif yang meski sudah jadi ibu dengan jadwal talkshow sangat padat, namun tetap rendah hati. Tampak dalam salah satu tulisannya tak lama setelah buku ‘5 Guru Kecilku’ beredar. Saya lupa redaksi kalimat persisnya, namun kurang lebih menggambarkan bahwa ia tak terbiasa dengan rutinitas menandatangani buku atau ‘Jumpa Fans’. Teh Kiki masih menunjukkan sosok yang sama seperti sebelumnya—saat ia masih seorang ibu rumahtangga ‘biasa’ yang sibuk dengan rutinitasnya mendidik anak-anak dan mengerjakan pekerjaan rumahtangga.

            Kiki Barkiah, tak berlebihan kiranya jika saya menyebutnya sebagai tokoh yang ‘Produktif Berkarya untuk Perubahan dalam Perbedaan’. Sebagai seorang ibu, beliau sungguh paham bagaimana menjadi madrasah pertama bagi anak-anaknya. Situasi sulit yang dialaminya di negeri orang tidak membuatnya permisif dan terbawa arus. Beliau tetap mempertahankan jati diri sebagai seorang muslimah yang memiliki aturan-aturan yang harus ditegakkan. Tak hanya untuk keluarganya sendiri, ajaran yang diterapkan beliau juga menjadi referensi bagi banyak ibu di dunia melalui produktivitas serta konsistensinya menulis di dunia maya. 

Perbedaan bagi beliau bukanlah suatu hal yang harus disamakan. Seperti diungkapkannya berikut,

…Berbeda tidak berarti terasing, karena kita masih bisa tetap bersama untuk beberapa hal yang sama-sama kita sepakati. Berdamailah dengan perbedaan, dan bersatulah dalam persamaan. Meski terkadang kita menemui kondisi dimana kita harus tegas berkata “Hidupku adalah hidupku dan hidupmu adalah hidupmu” dan kelak kita akan sama-sama mempertanggungjawabkannya.

(Kiki Barkiah, 5 Guru Kecilku, hlm 81)