Google+ Followers

Tuesday, April 5, 2011

Janet


Sosok itu tampaknya begitu lekat di hati dan pikiran Nadia-puteri semata wayangku. Terlihat dari caranya bercerita,

“Janet itu cantik.”

“Janet juga baiiik!”

“Janet pintar!”

Dan semua tentang Janet tampaknya selalu baik.

“Kalau kita pindah, aku pisah sama Janet, dong?” Nadia sedih saat kubilang bahwa secepatnya kami akan kembali ke Jakarta.

“Di sana Nadia akan punya banyak teman baru.” Hiburku.

“Tapi aku mau sama Janet. Dia sahabat terbaikku. Ajak Janet ke Jakarta ya, Mam?” pintanya.

Aku mengangguk, meski bingung.

“Horeeee!” pekiknya girang. Ia berlari ke halaman belakang, menemui Janet katanya.

Tak ada yang tahu bahwa Janet yang baik, cantik dan pintar itu adalah teman khayalan Nadia. Ya, teman khayalan! Tapi aku tak peduli. Aku senang bahwa sosok janet sudah menemani puteriku selama berbulan-bulan kami tinggal di pedalaman Kalimantan, untuk menemani masa tugas suamiku. Dalam kesendiriannya tanpa teman sebaya, sosok Janet sudah memberi Nadia berbagai perasaan yang indah.

No comments: