Google+ Followers

Thursday, December 27, 2012

Air Jernih Untuk Hidup Yang Lebih Sehat



Tentang Air Bersih
Apa yang ada di benak Anda saat mendengar kata 'Air Bersih'? Untuk saya, tentu saja air yang jernih, yang apabila mengingat pelajaran kala masih duduk di Sekolah Dasar dulu, air bersih, terutama yang dikatakan layak untuk dikonsumsi adalah yang memenuhi syarat berikut: tidak berasa, tidak berbau, tidak berwarna dan tidak mengandung logam berat. Saat masih SD saya tinggal di Bogor lalu menjelang kelas lima saya pindah ke Sukabumi. Dua kota yang letaknya berdekatan di propinsi Jawa Barat ini kala itu memiliki persediaan air tanah yang sangat bersih. Kami hampir tidak pernah kesulitan untuk mendapatkan air bersih.

Tak Semua Orang Bisa Mendapatkan Air Bersih
Awalnya saya pikir masalah air bersih merupakan hal yang biasa bagi semua orang. Namun pemikiran saya berubah saat berkunjung ke rumah kerabat yang tinggal di kawasan Tanjung Priok Jakarta Utara. Air yang ada di sana berwarna, agak bau dan agak asin. Ini nyaris membuat saya nggak mau mandi. Pasalnya, saya nggak yakin air ini bersih atau tidak. Bukankah air bersih itu yang tidak berbau, tidak berasa, tidak berwarna dan tidak mengandung logam berat? Saya pikir, jangan-jangan kalau mandi malah gatal-gatal. Tapi paman saya lalu memastikan kalau air tersebut 'masih layak' untuk mandi dan mencuci. Lain lagi untuk masak dan minum, keluarga paman saya menggunakan air kemasan. Ya sudah, akhirnya mau tidak mau saya mandi juga. Karena kalau nggak mandi, rasanya kayak di sauna: Panas Banget! Dan sejak saat itu, urusan air yang tak pernah saya perhatikan pun jadi lebih saya perhatikan dan syukuri tentunya. Alhamdulillah masih bisa mendapatkan air bersih yang nggak meragukan untuk mandi ataupun minum di rumah.

Penyebab Kelangkaan Air Bersih
Konon meskipun air meliputi sekitar 70% permukaan bumi, dengan jumlah kira-kira 1,4 ribu juta kilometer kubik, namun hanya sekitar 0,003% nya saja yang dapat benar-benar dipergunakan. Sebagian besar air kira-kira 97% ada di laut dengan kadar garam yang terlalu tinggi untuk berbagai keperluan manusia. Sementara 3% sisanya, hampir semuanya atau sekitar 87% tersimpan di daerah kutub atau di lapisan bwah tanah yang sangat dalam. Di seluruh dunia, kira-kira 20 negara, hampir semuanya di kawasan negara berkembang, memiliki sumber air yang dapat diperbarui hanya di bawah 1.000 meter kubik untuk setiap orang, suatu tingkat yang biasanya dianggap kendala yang sangat mengkhawatirkan bagi pembangunan, dan 18 negara lainnya memiliki di bawah 2.000 meter kubik untuk tiap orang.
Penduduk dunia yang pada 2006 berjumlah 5,3 miliar diperkirakan akan meningkat menjadi 8,5 miliar pada tahun 2025 akan didera oleh ketersediaan air bersih. Laju angka kelahiran yang tertinggi justru terjadi tepat di daerah yang sumber-sumber airnya mengalami tekanan paling berat, yaitu di negara-negara berkembang. (sumber dari sini).

Artinya saat ini ketersediaan air bersih adalah isyu yang sebetulnya sangat pelik bagi masyarakat dunia, namun sayangnya banyak yang tidak atau belum menyadarinya karena tertutupi oleh persoalan-persoalan sosial dan ekonomi lain yang tampak lebih rumit. Padahal jika tidak segera ditanggulangi tentu semakin hari akan semakin buruk dampaknya. Data menyebutkan bahwa pada tahun 2011, dari sekitar 200 juta rakyat Indonesia, hanya 20% saja yang bisa menikmati air bersih. Sisanya sekitar 80% masih belum bisa menikmatinya (sumber dari sini). Menyedihkan bukan?

Banjir Menurunkan Ketersediaan Air Bersih
Terlepas dari urusan angka dan persentase seperti yang saya kutip di atas, salah satu penyebab semakin menurunnya ketersediaan air bersih saat ini adalah banjir. Secara sederhana peristiwa ini terjadi jika ada air dalam jumlah berlebihan merendam daratan. Penyebabnya tentu sudah kita ketahui bersama antara lain sampah yang dibuang sembarangan, penebangan pohon secara liar, ditutupnya tanah oleh lapisan semen (sehingga mengganggu proses penyerapan air) dan lain-lain. 

Fenomena banjir (apalagi di ibukota Jakarta) bisa dibilang bukan lagi hal yang 'luar biasa'. Warga Jakarta bahkan sudah mengenal istilah 'banjir 5 tahunan' dan sebagian mungkin pasrah karena tak tahu lagi bagaimana harus mencegah atau menanganinya. Ini saya ketahui saat saya tinggal di kawasan Pasar Minggu Jakarta Selatan sekitar tahun 2008-2011. Daerah situ sebetulnya bukan daerah rawan banjir, hanya di beberapa 'titik' yang sangat rendah saja. Dan 'kebetulan' rumah kontrakan yang saya tinggali saat itu termasuk pada titik terendah itu. Sehingga tak jarang jika terjadi hujan lebat dalam waktu lama, saya juga terpaksa harus menyaksikan air menggenangi sekeliling rumah sampai sebatas perut. 'Untungnya' hanya sekeliling, tak sampai masuk ke dalam rumah. Mungkin karena pemilik rumah tersebut membangun rumah dengan pondasi yang relatif tinggi. Sehingga air baru masuk jika di jalanan sudah lebih dari batas perut orang dewasa. 


Banjir di daerah Pasarminggu Jaksel pada akhir 2010


Tapi tentu saja ini juga tidak bisa disepelekan. Pasalnya akses ke tempat tinggal kami jadi sulit kalau sedang banjir. Suami saya yang sehari-harinya menggunakan motor untuk sarana transportasi ke kantor, beberapa kali terpaksa harus 'berenang' dan menitipkan motor di rumah tetangga di daerah yang lebih tinggi jika pulang dalam keadaan banjir. Kondisi lebih buruk bisa terjadi pasca aur surut, bisa dipastikan air tanah jadi kotor dan air yang mengalir dari kran menjadi kuning dan bau. Sangat tidak sehat, bukan? Apalagi bagi saya yang kala itu memiliki bayi. Biasanya sih jika kondisi air menguning dan berbau seperti itu, saya lebih memilih untuk memandikan bayi menggunakan air kemasan ketimbang  air di kamar mandi. Nggak apa-apa jadi lebih mahal, yang penting kesehatan anak saya terjamin.

Upaya Melestarikan Sumber Air Minum
Lalu, masih adakah upaya yang bisa kita lakukan untuk melestarikan sumber air minum di sekitar kita? Tentu ada, dong! Jika kita mau selalu berupaya, saya yakin Tuhan akan memberikan solusinya. Menurut saya nih, yang pertama sih kita harus meningkatkan kecintaan terhadap bumi, misalnya saja dengan lebih memperhatikan urusan sampah (baca: menghentikan buang sampah di sembarang tempat, mengurangi sampah plastik, memisahkan sampah organik dan anorganik), rajin menanam pohon agar lingkungan lebih sejuk dan ada penahan air tanah, serta yang sekarang sedang digalakkan adalah membuat sumur resapan biopori.

a. Sumur Resapan Biopori
Sumur resapan biopori (Sumber foto dari sini)

Teknologi sumur resapan biopori yang digadang-gadang akan digalakkan oleh gubernur DKI Joko Widodo pada 2013 ini ternyata memiliki banyak manfaat, salah satunya sumur resapan biopori ini diklaim merupakan teknologi tepat guna untuk mengatasi banjir, karena dapat meningkatkan daya resapan air, mengubah sampah organik menjadi kompos dan mengurangi emisi gas rumah kaca, serta memanfaatkan peran dan aktifitas fauna tanah dan akar tanaman (Sumber dari sini) Selain kaya akan manfaat, sumur resapan biopori ini juga relatif mudah dan murah dalam membuatnya. Lahan seluas 1 meter persegi saja sudah bisa dipakai untuk membuat sumur tersebut. Ini bisa diaplikasikan di halaman atau taman belakang rumah. Sungguh solusi cerdas untuk mencegah banjir sekaligus menjaga ketersediaan air bersih.

b. Teknologi Pureit

Selain sumur resapan biopori, ada satu lagi solusi aman untuk menjamin ketersediaan air bersih yang layak kita minum yaitu dengan menggunakan teknologi PUREIT dari Unilever. Pureit bekerja dengan teknologi canggih 4-tahap pemurnian air “Teknologi Germkill” untuk menghasilkan air yang benar-benar aman terlindungi sepenuhnya dari bakteri dan virus. 

4 tahap pemurnian air yang ada dalam Pureit adalah:



1. Saringan serat mikro untuk menghilangkan kotoran
2. Filter karbon aktif untuk menghilangkan parasit dan pestisida berbahaya
3. Prosesor pembunuh kuman, yang dengan 'programmed disinfection technology' menghilangkan bakteri dan virus berbahaya yang tidak terlihat.
4. Penjernih yang membuat air tak berbau dengan rasa yang alami
(Sumber dari sini)


Disamping itu Pureit juga memiliki jaminan perlindungan ganda sebagai berikut:

Perlindungan 1 – Pureit Germkill Life Indicator
Pureit memiliki Indikator unik, yang akan memberitahukan Anda beberapa hari sebelumnya kapan perlu mengganti 'Germkill Kit’



Perlindungan 2 – Mekanisme Penghentian Otomatis
Jika ‘Germkill Kit’ tidak diganti pada waktunya, Pureit secara otomatis akan menghentikan aliran air sampai penggantian dilakukan. Mekanisme Penghentian Otomatis Pureit akan menghentikan air sehingga air akan meluap dari Germkill Life Indicator. Hal ini akan menjamin anggota keluarga Anda akan selalu meminum air yang aman.

(sumber dari sini)


Jadi Pureit adalah cara mudah, praktis dan dengan harga yang terjangkau untuk mendapatkan air minum yang terlindungi dari kuman berbahaya, dengan keunggulan-keunggulan sebagai berikut:

*Tidak memerlukan sambungan ke keran.
*Sangat praktis digunakan. Tinggal tuangkan air tanah/PAM mentah yang biasa dimasak untuk minum ke dalam Pureit.
*Kapasitas wadah atas 9 liter dan wadah transparan 9 liter.

Dengan beberapa solusi sederhana yang saya paparkan di atas, kini menjamin ketersediaan air bersih dan sehat untuk keluarga tidak lagi merupakan persoalan pelik yang bisa bikin pusing tujuh keliling.

Pure water for a pure life, just Pureit :)

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog #airpureit yang diselenggarakan atas kerjasama Blogdetik dan Pureit Unilever



2 comments:

Adi Pradana said...

Yuk perhatikan kualitas air yang kita minum, agar terhindar dari berbagai penyakit, salah satunya diare.

Cara Memperbaiki Saluran Yang mudah Mampet said...

bagus benget info nya sangat menambah wawasan