Google+ Followers

Saturday, February 16, 2013

HASDUK BERPOLA: Kisah Kaos Pramuka Rp. 5000


Pertama kali melihat poster film "Hasduk Berpola" ini saya sempat mikir, "Kenapa tokohnya harus dalam posisi membelakangi?" Sementara pada umumnya poster-poster film kan menggambarkan tokohnya secara utuh, bahkan dengan pose yang dibikin seatraktif mungkin untuk menarik minat masyarakat supaya nonton filmnya. Karena penasaran, saya lalu buka laptop agar bisa lebih jelas melihat gambar dalam ukuran lebih besar (tadinya lihat di HP). Cuma butuh sedetik bagi saya untuk bisa mengerti alasan pemotretan sang tokoh dari punggung itu: Untuk menunjukkan hasduknya (kacu/syal pramuka) yang bermotif Barbie!
Hey, Barbie? Pasti ada 'sesuatu' dengan film ini. Saya lantas menyempatkan diri browsing mengenai alur ceritanya. Dari beberapa website, saya pun menemukan jawabannya. Film ini mengangkat kisah seorang anak bernama Budi--seorang cucu veteran pejuang perang kemerdekaan '45 yang tertantang untuk mengalahkan rivalnya dalam kegiatan kepramukaan. Namun karena keadaan ekonomi yang terbatas, Budi tak mampu membeli semua perlengkapan pramuka. Melihat kesungguhan kakaknya dalam berjuang memenuhi kewajibannya, Bening akhirnya merelakan sprei kesayangannya untuk dibuat hasduk oleh Budi.
Menurut saya film ini berangkat dari ide yang sederhana tapi maknanya 'dalem'. Diangkat dari cerpen berjudul sama karya Bagas Dwi Bawono, lalu difilmkan oleh sutradara berbakat Harris Nizam (yang juga menyutradarai Film "Surat Kecil Untuk Tuhan") dan skenario yang ditulis bersama oleh Kirana Kejora dan Bagas Dwi Bawono, film ini sepertinya akan menjadi alternatif tontonan yang baik untuk masyarakat Indonesia terutama anak-anak karena sarat akan pesan nasionalisme dan semangat patriotisme di dalamnya. Mengingat bahwa belakangan ini negeri kita sedang 'digempur' oleh berbagai produk dan budaya asing, yang mengikis sedikit demi sedikit jiwa nasionalisme.

Gambar di atas adalah poster film "Hasduk Berpola" yang saya ambil dari laman facebook resminya. Sebuah film bertema nasionalisme yang mengambil sudut pandang anak-anak khususnya dalam kegiatan Pramuka.

Gambar yang mengingatkan saya akan satu cerita di masa lalu, saat saya aktif mengikuti pramuka kala duduk di sekolah dasar. Waktu itu saya masih kelas 5 SD. Oleh pembina pramuka kami ditawarkan untuk membuat sebuah kaos khusus untuk pasukan inti pramuka yang berjumlah 20 orang (5 siswa dan 5 siswi, sebagian dari kelas 6, sisanya kelas 5). Kami semua setuju. Namun ternyata sang pembina memberikan syarat, yaitu kami harus membayar kaos tersebut dengan uang saku kami dan tidak meminta uang tambahan pada orangtua. Harga kaos Rp.5000 (saat itu tahun 1993) dan kami diberi waktu seminggu untuk melunasinya, atau batal punya kaos khusus.

Bagi teman-teman dengan uang saku yang besar jumlah segitu tentu tidak masalah, tinggal pangkas uang saku dan berhemat setiap hari selama seminggu. Tapi buat saya? Saat itu uang saku saya Rp.750/hari. Coba kalikan 6 hari, jadi Rp.4500. Apanya yang mau dihemat? Itu aja udah kurang! 

"Terserah bagaimana caranya, mau kalian kerja part time kek, jualan plastik kek, yang penting jangan nyopet." gitu kata pembina pramuka kami saat beberapa siswa mengajukan keberatan.
Hah, kerja part time? Anak SD bisa apa? Itu yang ada dalam pikiran saya. Tapi saya nggak mau menyerah, mesti ada caranya. 
Maka langkah pertama yang saya lakukan kala itu adalah tidak membeli majalah yang biasanya saya beli setiap minggu, berlangganan pada tukang koran di sekolah. Tapi tentu segitu masih kurang banyak. Saya akhirnya juga berhemat, memotong uang jajan, jadi perhari saya bisa menabung sekitar Rp300. Dan itu pun masih kurang.
Mengorbankan majalah kesayangan (padahal ada cerita bersambung favorit saya di dalamnya), sudah.
Memotong uang jajan, juga sudah.
Apa lagi dong?
Ide itu pun muncul. Saya mendadak 'berinisiatif" untuk sering-sering ke warung. Jadi dalam sehari mungkin ada sekitar tiga kali saya nanya gini ke ibu, "Mam, mau beli kecap nggak? Kerupuk? Minyak goreng?" atau sore hari saat mobil penjual roti lewat, "Mam, beli roti tawar, ya?"
Tujuannya adalah: Saya akan ke warung atau beli roti dengan meminta uang lebih, lalu bikin perjanjian kalau ada kembalian untuk saya, hehe! Syukurlah ibu saya setuju.
Dan cara ini efektif, teman-teman! Saya akhirnya bisa mengumpulkan uang Rp.5000 sesuai tenggat waktu yang diberikan pembina pramuka. Bahkan ada lebihnya. Nah lebihnya itu saya pakai untuk beli majalah bekas terbitan minggu lalu di tukang loak. Harganya sudah turun sekitar 20% kalau tidak salah. Lumayan kaan? :D
Saat kaos itu akhirnya jadi, tak terhingga betapa girangnya saya. Kaos cokelat bermotof kitri (tunas kelapa) itu rasanya eksklusif banget. Bukan karena itu hanya dimiliki oleh tim inti pramuka yang tidak semua siswa punya, tapi lebih karena itu didapat dari 'perjuangan'. Kebayang nggak bangganya saya saat ditanya oleh ibu, 
"Kaos seragam baru, ya? Udah bayar belum?"
"Udah dong, lima ribu!"
"Uangnya dari mana? Perasaan gak pernah minta untuk beli kaos."
"Nabung, dong!"
Ciee, gaya ya?
Dan ibu saya bilang, "Wah hebat, coba tiap mau beli apa-apa kayak gitu, nabung dulu."
Kalau diingat lagi sekarang, kok kayaknya 'sepele' gitu ya, urusan kaos seharga itu. Seandainya dulu saya minta uang aja sama ibu, pasti pembina pramuka saya juga gak bakalan tau. Tapi pasti rasanya beda. Kejujuran dan tanggung jawab tidak bisa dibeli dengan uang. Itu salah satu poin yang saya pelajari dari mengikuti kegiatan pramuka di SD dulu, selain juga bahwa pramuka sederhana dan rela berkorban. Iya lah berkorban, nggak baca serial favorit di majalah cuma untuk nabung beli kaos, bagi saya yang 'kecanduan' serial itu tentu ini merupakan pengorbanan.
Maju hampir 20 tahun dari kejadian itu.
Beberapa waktu yang lalu saya sedang naik angkot di Sukabumi. Di situ saya melihat seorang anak berpakaian pramuka. Saat sebuah kenangan kecil menyeruak dari ingatan saya mengenai kisah ber-pramuka saya di masa lalu, mendadak saya tercengang. Kalau dulu kan ya, seragam saya di sebelah kanan itu pisau dan di kiri itu tambang. Nah sekarang: kiri kosong, kanan Smartphone! Ckckckck... Mana prinsip sederhana dan bersahajanya? Atau apa zaman memang sudah berubah?
Ah ya sudah lah, saya mau mempersiapkan diri saja untuk menonton Hasduk Berpola. Semoga filmnya betul-betul bagus, sebagus bayangan saya saat melihat poster dan membaca alur ceritanya.
Oya, tulisan ini saya sertakan dalam lomba menulis blog film Hasduk Berpola dengan mengangkat tema: Cerita Pengalaman Ikut Pramuka :) Untuk yang mau ikutan juga silahkan baca ketentuannya di bawah ini yaa :)