Sunday, March 17, 2013

Imajinasi Dan Daya Tangkap Optimal Berkat Cerita Dongeng

Dongeng Si Mio - oleh Gaza Khalid Efendi (3 th)
“Bun, suatu hari ada anak kucing namanya Mio. Anak kucingnya nakal enggak mau makan.”
“Kenapa?” tanya saya
“Karena males dan ngantuk. Terus dia pergi ke sekolah. Eh di sekolahnya dia ngantuk. Sama Bu Guru ditanya ini gambar apa? Enggak tau. Ini warna apa? Enggak tau. Terus sama Bu Guru ditanya lagi, Mio kamu kenapa enggak tau aja? Karena saya enggak makan, Bu Guru. Ya udah kamu pulang aja! Bu gurunya marah.”
“Terus habis itu gimana?” kembali saya bertanya

“Mio pulang. Eh di jalan ada kakek bawa karung, Mio diculik dimasukin karung. Terus Mio berdoa, Ya Allah tolong selamatkan aku.”

“Sama Allah ditolong enggak?” tanya saya yang mulai larut dalam ceritanya.

“Iya doanya dikabulkan Allah. Mio selamat deh! Terus Mio pulang ke rumah. Disuruh makan sama Bundanya.”
“Mionya mau makan?”
“Mau, Mio makan nyam nyam.. Habis itu Mio pergi lagi, ketemu penculik lagi.”
“Diculik lagi dong?” saya kaget dengan kelanjutan cerita ini. Saya pikir cerita tamat setelah si Mio makan.
“Enggak lah, kan Mio udah makan. Jadi badannya berat, gak kuat penculiknya masukin karung. Mio selamat deh.”

**
Itu adalah cerita dongeng pertama Gaza yang dikarangnya saat usianya baru 3 tahun 1 bulan (Januari 2013). Saya sungguh tidak menyangka kalau di usianya yang masih belia, dia sudah bisa mengarang cerita seperti itu. Kala itu kami berdua sedang melaksanakan ritual "Our Time". Ini sebuah aktivitas yang biasanya kami lakukan di malam hari sekitar 1-2 jam sebelum tidur. Kami akan tiduran di kasur dengan memakai selimut. Lalu setelah memadamkan lampu, saling bertukar cerita satu sama lain. Biasanya saya yang akan banyak bercerita. Cerita apa saja mulai dari dongeng binatang, kisah Nabi, sampai  review kegiatan kami sepanjang hari. 'Sementara Gaza seringkali hanya menimpali. Tapi malam itu, untuk pertama kalinya dia mengarang dongengnya sendiri. Suatu kejutan yang sangat membanggakan bagi saya sebagai orangtuanya. 

Akrab Dengan Cerita Dongeng Sejak Masih Dalam Kandungan
Bisa dibilang Gaza memang tumbuh bersama dengan banyak cerita. Bukan sejak ia lahir, namun sejak masih di dalam kandungan, sudah banyak kisah yang saya bacakan atau ceritakan kepadanya. Tujuan utama saya kala itu adalah untuk membentuk bonding yang erat antara saya dan janin. Selain itu juga untuk mengoptimalkan kemampuan otaknya. Dan ternyata apa yang saya niatkan dulu, alhamdulillah kini terbukti. Ikatan antara saya dan Gaza terbilang erat. Kecerdasan otaknya pun bisa dibilang baik. Gaza tumbuh cerdas terutama dalam ranah kecerdasan linguistik.

Manfaat Mendongeng
Jika kita telaah, cerita dongeng tentu bukan 'hal baru' dalam proses pengasuhan anak. Aktivitas ini sudah dikenal sejak dulu. Beberapa dari kita (termasuk saya) mungkin terbiasa dibacakan dongeng oleh orangtua atau nenek/kakek sebelum tidur. Namun jika zaman dulu aktivitas mendongeng hanya dijadikan sebagai rutinitas pengantar tidur, sekarang sebaiknya orangtua lebih cerdas dalam mendongeng. Dalam artian, berikanlah cerita dongeng yang baik pada anak-anak. Menurut pemahaman saya, cerita dongeng yang baik itu setidaknya mengandung unsur berikut: adanya Moral Story, bahasa yang tepat (sesuai usia anak), dan tidak mengandung unsur kekerasan/SARA/pornografi.

Sejauh ini--setelah entah berapa buku cerita dongeng yang dibacakan untuk Gaza (ditambah dongeng karangan sendiri), saya akhirnya mendapati bahwa cerita dongeng setidaknya memberikan beberapa pengaruh positif seperti berikut:


1. Merangsang Imajinasi

Dongeng dapat merangsang imajinasi anak secara efektif. Ini saya buktikan dari dongeng pertama Gaza yang saya tulis di atas: "Kisah si Mio". Setelah bertahun-tahun mendengarkan berbagai macam dongeng, cerita itu pun bisa mengalir dari mulut putera saya. Padahal Gaza kan belum bisa membaca. Huruf saja baru tahu beberapa. Namun mungkin karena seringnya ia distimulasi dengan cerita dongeng, maka imajinasinya tumbuh dan berkembang dengan baik.

2. Menjalin Bonding
Saat membacakan cerita dongeng untuk anak, tentu kita tidak bersikap seperti pembawa acara berita di televisi yang betul-betul 'hanya' membaca, bukan? Namun lebih dari itu, ada pelukan, belaian, senyuman, intonasi suara yang menunjukkan kepedulian dan kasih sayang. Nah kesemua 'atribut' dongeng itu bisa mempererat hubungan orangtua dengan anak.

3. Mengoptimalkan Kecerdasan
Seperti dikemukakan oleh Psikolog Efnie Indriani., M.Psi bahwa dongeng akan merangsang pembentukan lipatan pada otak anak (girus) yang berfungsi menyimpan informasi lebih banyak, sehingga mereka bisa jadi lebih pintar (Sumber dari sini). Di sini akan saya tambahkan, bahwa kecerdasan yang bisa diamati berkat dongeng bisa bermacam-macam. Jika anak saya Gaza yang sepertinya memiliki kecerdasan linguistik yang baik, menunjukkannya dengan mengarang dongeng sendiri, anak lain yang memiliki kecerdasan musikal yang tinggi bisa saja menunjukkan kecerdasannya dengan mengarang lirik lagu yang berhubungan dengan dongeng favoritnya. Atau si cerdas kinestetik akan menunjukkan kemampuannya dalam berpetualang (meski hanya sekedar di sekitar rumah) 

4. Menambah Kosakata
Anak-anak yang terbiasa dibacakan dongeng, terbiasa mendengarkan lebih banyak kata-kata baru. Kemampuan otaknya yang seperti spons, akan menyerap semua itu dan membuat kosa katanya bertambah.

5. Menumbuhkan Cinta Buku
Jika kita--sebagai orangtua, membiasakan anak untuk membaca sejak kecil. Atau setidaknya menyediakan buku di rumah, maka anak akan terbiasa dengan budaya membaca. Minimal jika dia memperhatikan bahwa orangtuanya suka membaca, maka akan tumbuh rasa cinta terhadap buku. 


Buku adalah jendela dunia, Membaca adalah salah satu cara untuk Mempelajarinya
6. Belajar Sikap Moral Positif
Seperti sudah saya kemukakan di awal mengenai unsur yang harus ada dalam cerita dongeng yang baik: Moral Story. Nah sikap moral positif akan lebih efektif bila disampaikan melalui contoh tokoh-tokoh dalam dongen ketimbang menasehati anak secara langsung. Misalnya saja dongen mengenai 'Kelinci yang Sombong', bagi anak saya ini sangat membekas. Dia tahu bahwa kelinci yang pandai melompat bisa kalah dalam balap lari dengan kura-kura karena kesombongannya. Gaza mengingat hal tersebut dan terkadang suka menasehati temannya jika ada yang suka pamer. Untuk ke depannya, sikap moral positif yang tumbuh melalui pembacaan dongeng yang baik, sangat mungkin bisa membangun karakter yang baik dalam diri anak.

7. Melatih Perhatian dan Daya Tangkap
Untu poin ini, kita para orangtua bisa memberikan 'tes kecil' pada anak sesaat setelah mendongeng, misalnya dengan memberikan beberapa pertanyaan terkait isi dongeng. Jawaban yang diberikan oleh anak bisa menunjukkan sejauh mana perhatian serta daya tangkapnya terhadap isi cerita. Tidak usah bersikap seperti guru yang sedang memberikan ujian (yang marah kalau jawaban salah), tapi anggap saja ini sebagai periode bermain sambil latihan. Ulangi lagi cerita, berikan sesi tanya jawab, tanggapan dan biarkan anak 'menyimpulkan'. 

Membedakan Dongeng Berdasarkan Usia Anak
Ada yang berpendapat bahwa dongen baru optimal diberikan pada anak saat mereka sudah lancar berbicara atau bahkan sudah memasuki usia Taman Kanak-Kanak. Saya kurang sependapat dengan hal itu. Seperti saya kemukakan sebelumnya bahwa dongeng sudah mulai saya berikan pada anak sejak ia amsih di dalam kandungan. Namun mungkin yang perlu digarisbawahi di sini adalah metode mendongengnya. Tentu tak sama dongeng yang kita berikan untuk bayi, batita dan anak usia pra sekolah. Sepanjang pengetahuan dan pengalaman saya, sebaiknya beginilah cara mendongeng pada anak sesuai dengan tahapan usianya:

0 - 1 tahun --> Sebaiknya tidak usah memakai buku. Karang saja cerita sendiri agar Anda bisa memaksimalkan gerakan tubuh, ekspresi wajah dan intonasi suara. Ini akan ditangkap dengan lebih baik oleh bayi. Atau jikapun memakai buku, berikanlah buku yang bertekstur lembut dengan bahan kain misalnya, agar tak melukai anak. Gambarnya pun dipilih yang berukuran besar dengan warna mencolok. Bayi biasanya menyukai gambar yang memperlihatkan berbagai ekspresi wajah.

1 - 3 tahun --> Di usia ini anak sudah bisa diperkenalkan dengan buku cerita biasa yang memuat banyak gambar dengan huruf dan angka berukuran besar dan jelas. Dongen juga sebaiknya dipilih yang ceritanya berkaitan dengan aktifitas sehari-hari, misalnya manfaat makan sayur dan buah serta manfaat mnggosok gigi. Ini berguna untuk menasehati anak secara tidak langsung.

4 - 6 tahun --> Anak di usia prasekolah seperti ini ada yang sudah bisa membaca. Jika demikian, orangtua bisa memberikan saja buku/majalah pada anak. Namun sebaiknya dilihat dulu isi buku/majalah tersebut, jangan sampai ada kata/kalimat/gambar yang negatif atau belum selayaknya 'dikonsumsi' oleh anak. Apabila anak belum bisa membaca, pendampingan diperlukan untuk membimbingnya mengenal huruf dan angka.

Dongeng Itu Menyenangkan 

Yang terpenting dari dongeng adalah menumbuhkan kondisi yang menyenangkan. Kita sebagai orangtua haruslah menyediakan waktu yang berkualitas saat mendongeng. Hindari mendongeng saat sudah lelah, karena bisa jadi tidak optimal baik saat proses mendongeng ataupun menjawab pertanyaan dari anak. Juga jika anak sudah jenuh dengan dongeng, hentikan saja. Ajak ia melakukan aktifitas lain yang disukainya. Satu lagi, hindari menakut-nakuti anak secara tak logis melalui dongeng. Contohnya saja: Jangan mendongeng tentang hantu yang menyeramkan yang suka memakan anak-anak. Ini selain berbohong juga menumbuhkan sikap penakut pada diri anak.


Sevenseas Emulsion:
Multivitamin dengan minyak hati ikan kod untuk kecerdasan dan tumbuh kembang anak

Tulisan ini diikutsertakan dalam Kompetisi Blog "Mom and Baby's Diary -- Sevenseas periode 8"



No comments: