Google+ Followers

Sunday, April 28, 2013

Ada Ibu Hebat di Belakang Anak Cerdas

"Bunda, tadi Gaza tangkap lele. Lelenya loncat, hap...hap...hap! Jatuh keluar kolam. Kata Mamam yang suka keluar-keluar nanti dimakan kucing, rebutan..." 
Itulah sepenggal cerita yang saya dengar dari buah hati saya Gaza saat usianya sekitar 2 tahun (kurang lebih setahun yang lalu). Saya ingat betul, memasuki usia dua kemampuan berbahasa Gaza memang meningkat pesat dibandingkan sebelumnya yang baru bisa berucap suku kata terakhir atau 1-2 kata pendek saja. Di usia 2 juga Gaza mulai bisa bercerita, mengulang apa saja yang didengarnya. Termasuk cerita tadi yang dialaminya saat saya sedang ke supermarket dan menitipkannya pada orangtua. Di situ saya semakin menyadari bahwa apa yang dikatakan oleh para pakar pendidikan mengenai "Golden Age" benar adanya.

Kemampuan otak anak terutama di tiga tahun pertamanya sungguh hebat, bagaikan spons yang mampu menyerap air dalam jumlah banyak. Namun seperti halnya spons yang pori-porinya tak bisa menyaring mana air bersih dan mana yang kotor, begitu pula otak anak yang belum mampu menyaring mana informasi yang baik dan buruk, mana yang layak dipelajari dan tidak. Di sini, diperlukan peran orangtua untuk membantu menyaring informasi yang berguna untuk buah hatinya. Tak hanya memilih, orangtua pun wajib menstimulasinya dengan berbagai kemampuan yang kelak dibutuhkan buah hatinya saat usianya bertambah besar, mulai dari keterampilan fisik (melakukan berbagai aktifitas sehari-hari), kemampuan psikologis (belajar mengelola emosi dan melatih kecerdasan), hingga kecerdasan spiritual (mengajarkan dia mengenai arti Ketuhanan). 

Apabila Anda berfikir betapa sulitnya menjadi orangtua jika harus bisa mengajarkan anak-anaknya berbagai macam 'life skills', Anda tidak salah. Sebagian orangtua terutama yang baru memiliki anak (termasuk saya) juga sempat berpikir seperti itu. Apalagi melihat perkembangan zaman dengan teknologi yang terus berkembang setiap harinya, saya kadang sibuk membayangkan "Apakah saya mampu mendidik anak saya agar kelak menjadi orang berhasil?" Tapi seiring berjalannya waktu, ternyata mendidik anak untuk mencapai kecerdasan optimalnya tidak terlalu sulit, kok. Asalkan sebagai orangtua kita mau bekerja keras dan cerdas untuk mencapainya. Tentu saja, bukankah untuk membentuk seorang anak yang cerdas diperlukan orangtua--terutama moms yang hebat?


Bersepeda merupakan salah satu bentuk kecerdasan kinestetik Gaza (3th)

Oke kembali ke putera saya Gaza. Saat ini usianya sudah 3 tahun 4 bulan. Berdasarkan pengamatan saya sejauh ini dia memiliki kecerdasan di beberapa ranah seperti kecerdasan linguistik, kinestetik (gerak) dan kecerdasan naturalis. Gaza sudah mahir mengendarai sepeda roda empat sejak usianya 2 tahun 10 bulan. Padahal saat itu sepedanya masih terlalu tinggi untuknya. Namun hanya dalam waktu kurang dari sejam sejak ia menerimanya, ia sudah bisa mengebut tanpa menabrak (bahkan di ruang tamu rumah kami yang mungil). Kemampuan berceritanya sekarang sudah bisa dibilang 'mahir'. Ia dengan cepat bisa mengingat apa yang pernah saya ceritakan dan tetap ingat setelah lama terlewat. Bahkan Gaza sudah bisa mengarang cerita pertamanya saat usianya 3 tahun 1 bulan yang berjudul 'Mio--Anak Kucing Yang Tak Mau Makan'. Ceritanya sungguh runut dan terbilang memiliki unpredictable ending untuk seorang anak seusianya. Gaza juga sudah hafal beberapa surat pendek yang ada di dalam Al Qur'an serta beberapa doa sehari-hari. Sementara kecerdasan naturalisnya dapat dilihat dari minatnya bermain di alam terbuka, mengamati binatang dan tumbuhan serta menghafal keunikan masing-masing binatang dan tumbuhan yang dijumpainya.


Salah Satu Minat Gaza: Mengeksplorasi lingkungan
terutama berdekatan dengan berbagai binatang

Saya tentu sangat bersyukur dikaruniai anak cerdas oleh Yang Maha Kuasa. Tapi sebelumnya--saat ia bayi, tentu sama dengan para orangtua baru lainnya bahwa saya pun tidak tahu bagaimana caranya mengembangkan talenta apa yang diberikan Allah padanya. Jadi berbagai proses belajar pun kami tempuh. Saya rutin membacakan dongeng untuknya. Selain itu saya juga suka mengaji dan memperdengarkan video Murrotal Qur'an padanya. Sementara suami, karena hanya bertemu dengannya saat akhir pekan, lebih banyak mengajarinya kegiatan fisik seperti bermain di playground, berkebun, bermain sepeda sampai sekedar melihat-lihat kodok atau menyentuh tanaman puteri malu di halaman. Belakangan ini bahkan kami terkadang mengikutsertakannya memakai laptop seperti yang kami kerjakan, misalnya mengajarkan Gaza menggambar di Ms. Word, bukan lagi sekedar menonton film Ini. Tanpa diduga ternyata aktifitas ini mengantarkannya pada awal belajar mengenal huruf dengan efektif! Semua itu kami lakukan hanya berangkat dari satu hal yang kami yakin bahwa kemampuan otak anak sangat dahsyat di masa-masa keemasannya dan membutuhkan banyak stimulasi yang mampu merangsang semua inderanya agar bisa membuatnya cerdas. Hingga akhirnya, kami bisa melihat hasilnya: Tumbuh kembang serta kecerdasan sang putera sulung yang optimal.


Kewajiban ibu lah untuk selalu berusaha menghebatkan diri
guna mengembangkan segala potensi yang sudah Tuhan berikan pada anak

Jika Anda langsung merasa pesimis dengan padanan kata itu (karena merasa tidak pintar), buang saja keraguan itu. Pintar bukan berarti bahwa Anda harus memiliki IQ tinggi atau lulus cumlaude dari sebuah universitas terkenal. Kriteria pintar untuk seorang ibu tidaklah tergantung dari seberapa banyak sertifikat akademis yang dia miliki, namun lebih kepada kemauannya untuk terus belajar, ketekunan, kesabaran dan komitmennya untuk menjadi guru terbaik di awal kehidupan anaknya. Apakah tergantung pada seberapa banyak harta agar bisa membelikan mainan edukatif (yang relatif mahal)? Tentu tidak, mainan sebagai sarana belajar anak bisa kita kreasikan dari perabot sehari-hari atau bahkan sekedar kardus bekas yang dibuat perahu/roket misalnya. Ini saja sudah bisa merangsang imajinasinya. Bukankah berbekal imajinasi inilah seorang Einstein bisa menjadi ilmuwan terkenal? Imajinasi yang hebat dibarengi dengan daya pikir yang kritis tentu akan menghasilkan sebuah karya yang luar biasa!

Jadi, yuk bertekad untuk menjadi Moms yang hebat demi membantu anak kita mencapai kecerdasan optimalnya! Luangkan waktu untuk menjadi guru pertama dalam kehidupan anak kita, demi masa depannya yang cemerlang :)


SevenSeas Emulsion, Multivitamin yang mengandung DHA dari Minyak Hati Ikan Kod
Untuk Mendukung kecerdasan anak

No comments: