Google+ Followers

Saturday, July 27, 2013

Gadget Sebagai 'Pengasuh' Anak Di Era Digital

Pesona Gadget Untuk Anak-Anak
Tentu tak berlebihan kiranya jika saya mengatakan bahwa gadget adalah salah satu 'pengasuh' anak yang paling banyak dipakai di era digital. Meski bukan berbentuk seorang 'mbak' yang sibuk mondar-mandir kesana kemari mengikuti anak yang diasuhnya, bahkan gadget yang tak bernyawa ini hanya bisa bersuara bila diaktifkan, namun siapa sangka keberadaannya mampu 'membius' sebagian anak saat ini. Mulai dari bermain games, nonton film, online (chatting, browsing, aktif di jejaring sosial serta download), belajar dan banyak lagi hal lain yang bisa dikerjakan dengan benda satu ini:

Gadget sebagai Pengasuh Anak? Setidaknya terjadi pada saya :D


Pro & Kontra Penggunaan Gadget
Hasil survey kecil-kecilan yang saya gelar, ada sebagian orangtua yang sangat bersyukur dengan kemajuan teknologi. Bagi mereka, keberadaan gadget bisa sangat membantu meringankan tugas momong anak--terutama yang masih balita.
"Anak saya si X meskipun belum genap dua tahun, tapi sudah bisa anteng kalau dikasih tablet. Saya biarkan saja dia nonton film kartun di situ. Kan lumayan, bisa disambi dengan mengerjakan pekerjaan rumah."
Namun tak sedikit pula orangtua yang kontra--dalam artian kurang suka dengan keberadaan gadget dalam kehidupan anak-anak mereka. Bahkan ada seorang kenalan saya yang dengan spontan mengeluarkan anaknya dari sekolah dan memindahkannya ke program homeschooling karena sang anak jadi ketagihan gadget yang dimiliki teman-temannya serta minta dibelikan. Begini lah rata-rata tanggapan dari pihak yang kontra:
"Kebanyakan main gadget bisa bikin anak nggak bergerak, akibatnya jadi kelebihan berat badan. Proses sosialisasinya juga jadi berkurang. Makanya saya nggak kasih gadget ke anak sampai nanti dia sudah bisa mengerti dan memanfaatkannya dengan benar."

Anda sendiri tipe orangtua yang bagaimana?
Jangan salah sangka. Saya tidak bermaksud mengkonfrontir para orangtua yang berbeda pendapat terhadap gadget. Saya hanya ingin, orangtua bisa bersikap lebih bijak terhadap keberadaan gadget di tengah tumbuh kembang anak saat ini. Karena tak bisa dipungkiri, mau atau tidak, suka atau tidak, bahkan punya atau tidak, lambat laun anak-anak akan mengenal gadget. Kalaupun bukan dari orangtuanya, bisa jadi dari sanak saudara, teman atau tetangga yang memilikinya. Akibatnya mereka yang terbiasa dengan gadget, bisa lebih 'keranjingan' bermain karena merasa memiliki banyak teman yang memiliki minat sama. Sementara yang tak terbiasa, bisa jadi ketagihan karena menemukan wahana permainan baru yang menyenangkan, sehingga bisa jadi merengek pada orangtuanya untuk diizinkan memakai milik orangtua, atau membeli jika orangtuanya tak memilikinya.

Peran Orangtua Mengatasi Trend Mobile Internet Pada Anak-Anak
Jika kondisinya sudah seperti ini, tentu bukan hal yang bijak jika sebagai orangtua kita masih berkutat pada penting atau tidaknya keberadaan 'pengasuh' yang satu ini di tengah anak-anak, namun yang jauh lebih penting adalah Sejauh Apa Peran Orangtua Mengatasi Trend Mobile Internet Pada Anak-Anak.

Isyu hangat yang satu ini menjadi topik bahasan pada Talkshow yang diadakan oleh DP Talk di 1-15 Coffee Shop di Jl. Gandaria Jakarta Selatan pada 5 Juli 2013 lalu. Dengan menghadirkan pembicara yang merupakan pakar di bidangnya, yaitu Shita Laksmi dan Elga, talkshow ini berlangsung seru. Meski tak sempat menontonnya secara langsung karena sedang bedrest akibat masalah kehamilan, namun syukurlah salah seorang sahabat saya Meity Mutiara yang hadir bersedia berbagi cerita mengenai acara yang satu ini.

Talkshow Memukau Tren Mobile Internet Pada Anak
Sumber Foto dari sini
Salah satu poin penting yang dibahas di acara Talkshow Tren Mobile Internet Pada Anak adalah akibat dari keranjingan anak pada gadget. Ada yang bermasalah dalam prestasi, ada pula yang bermasalah dalam sikap. Mereka menjadi tertutup, sulit bersosialisasi dan lainnya. Wow, jujur saya agak terkejut mendengarnya. Sebegitu ekstrim kah pengaruh gadget untuk anak-anak di masa kini? Maklumlah putera saya masih balita, sehingga ia belum terlalu keranjingan dengan gadget (khususnya untuk masalah ber-internet). Atau mungkin karena kami--orangtuanya, juga tidak memiliki tablet, sehingga anak saya hanya mengenal internet dari ponsel dan netbook yang relatif bisa dibatasi penggunaannya (meski ia juga mengenal tablet dari saudaranya, dan dengan 'kursus super singkat' sudah bisa menguasainya, paling tidak untuk bermain games). Ditambah putera saya Gaza sebetulnya lebih menyukai aktifitas outdoor seperti bermain sepeda atau berkebun, ketimbang main gadget. Buat anak seaktif dia, mungkin main gadget sambil duduk manis terasa membosankan. 

Inspirasi Dari Talkshow DPTalk
Tapi tentu ini tidak membuat saya lantas terlena. Berdasarkan fakta yang dipaparkan dalam catatan teman saya dari talkshow, saya terinspirasi untuk mulai mempelajari bagaimana cara menyikapi seandainya suatu saat putera saya berbalik bosan dengan aktifitas outdoor-nya dan menggandrungi gadget. Karena bukan tidak mungkin kan saat ia sudah bersekolah nanti, ada temannya yang mengenalkannya secara intens pada benda satu itu?

Inilah hasil 'pembelajaran' saya dalam beberapa minggu ini:
Saya mengamati bahwa sejauh ini Gaza--putera saya keranjingan pada gadget untuk 2 poin: Menonton film dan bermain games. Dia sudah bisa menyalakan laptop/netbook dan hafal di mana letak folder film dan games favoritnya. Sementara untuk ponsel--secara mengejutkan. ia juga sudah bisa terkoneksi ke berbagai jejaring sosial (mungkin dengan melihat logo yang sering diklik oleh saya :D) Jadi sudah bukan masalah lagi baginya seandainya tidak ada orang dewasa yang membantunya menyalakan gadget tersebut.
Ini membuat saya mulai melakukan kontrol terhadap data gambar dan suara yang tak layak dia konsumsi. Jadi sebisa mungkin saya hanya menaruh folder atau shortcut yang 'aman' saja di desktop. Sementara selain dari itu, saya simpan terpisah. Selain itu, saya menonton dulu film apa yang akan diberikan padanya. Sehingga saya bisa tahu seandainya ada tayangan yang tak pantas (meski itu film animasi sekalipun). Tidak hanya menonton duluan, sebisa mungkin saya juga mendampinginya saat menonton. Jadi bisa sekalian menjelaskan isi film (terutama jika dalam bahasa asing) serta moral story-nya dan mencegahnya meniru adegan tak pantas, misalnya berkelahi, yang ditayangkan di dalam film. Sementara untuk urusan ponsel, saya 'sembunyikan' logo jejaring sosial di folder tertutup. Nggak lucu kan kalau dia tiba-tiba memberi komentar, atau menulis status acak-acakan di akun saya? Atau lebih gawat lagi jika tak sengaja mengklik situs/gambar yang tak pantas.
Mengenai games, meski jujur saya pribadi tak pandai dan bahkan tak berminat bermain games di gadget, tapi karena anak saya menyukainya, maka mau tak mau saya pun mulai mempelajari setiap games yang akan dia mainkan. Bukan untuk mengajarinya, karena sepertinya Gaza jauh lebih expert dari saya dalam hal ini. Tapi untuk alasan yang sama dengan film, saya berusaha 'memfilter' isi games. Contoh sederhananya, saya mengingatkan Gaza untuk nggak main petasan, meski Angry Bird 'melakukannya' untuk mengebom babi yang sudah mencuri telur.
Belakangan ini, karena saya terpaksa bedrest akibat kehamilan yang mengalami plasenta previa, kami jadi tak punya banyak waktu untuk berjalan-jalan di akhir pekan. Akibatnya, untuk 'menebus rasa bersalah', saya dan suami membelikannya mainan secara online. Gaza boleh memilih beberapa mainan yang sebelumnya sudah kami pilihkan untuknya. Sejauh ini mainan favoritnya adalah mobil-mobilan. Nah, dengan begini kan secara tidak langsung ia sudah belajar untuk berselancar di dunia maya. Maka saatnya saya memberikan proteksi lebih. Adakalanya situs yang menyediakan mainan untuk anak-anak juga memuat gambar atau video yang tak layak lihat untuk anak-anak, kan? Atau manatahu secara tak sengaja Gaza meng-klik link yang tak pantas. Makasaya mulai browsing dan tanya teman-teman mengenai aplikasi yang bisa memblokir konten atau website seperti itu. Hasilnya, saya menemukan ini beberapa software yang bisa mencegah teraksesnya konten tak layak pada anak saat ia berselancar di dunia maya, yaitu www.cyberpatrol.com, www.netnanny.com dan www.safekids.com

What's Next?
Selebihnya, saya belum terpikir lagi mengenai kontrol terhadap pemakaian gadget yang harus dilakukan oleh putera saya kelak. Tapi karena saya adalah pengguna internet aktif, maka kecil kemungkinan saya bisa menjauhkannya dari internet. Bisa jadi 1-2 tahun lagi Gaza juga akan mulai browsing sendiri mengenai hal-hal yang disukai atau membingungkannya. Jadi yang bisa saya upayakan sejak saat ini adalah:
-Mengajarinya cara berinternet yang sehat,
Dari segi waktu, misalnya jam berapa dia bisa berinternet, berapa lama atau saat sudah melakukan kegiatan wajib tertentu (misalnya dia cuma boleh berinternet kalau sudah shalat atau sesaat sebelum tidur siang). 
-Tidak akan memfasilitasi Gaza dengan gadget canggih sebelum usianya matang
Mungkin sebelum bersekolah di SMP, dia hanya boleh menggunakan gadget milik saya atau suami. Jadi kami bisa mengecek situs apa saja yang sudah dibuka (atau terbuka) olehnya. Dan pemakaiannya pun tak bisa setiap saat bahkan dibawa ke sekolah. Untuk hal yang satu ini, bukan lagi semata khawatir mengenai akses situs tak layak, tapi juga masalah keamanan di jalan.

Memperbanyak kegiatan outdoor, meminimalisir gadget

-Memperbanyak kegiatan outdoor
Rencananya pasca Idul Fitri ini Gaza akan mulai bersekolah di PAUD 3x perminggu dan saat usianya sudah empat tahun (desember 2013), ia akan mengikuti kegiatan karate seminggu sekali. Selain bermain dengan anak-anak tetangga, kemungkinan besar dua kegiatan rutin ini saya rasa bisa meminimalisir kedekatannya dengan gadget.
-Menanamkan mindset positif soal penggunaan gadget sejak dini
Menurut saya ini yang terpenting. Jika sejak awal kita sebagai orangtua sudah menanamkan mindset yang positif mengenai pemakaian gadget pada anak-anak, mulai dari manfaat positif untuk membantu kegiatan sehari-hari, mendisiplinkan waktu pemakaiannya serta mengajarkan apa saja yang baik untuk dilakukan dengan benda canggih satu ini, insya Allah anak akan terbiasa. Lain halnya jika hal ini tidak dilakukan, mau sebanyak apapun software pengaman yang dipakai, bukan tak mungkin anak lambat laun akan mempelajari cara 'membobolnya'. 

Lebih Tenang Setelah Memproteksi Gadget
Nah, jika semua yang sudah saya rencanakan bisa berjalan dengan baik, maka saya pun bisa sedikit tenang dengan keberadaan gadget di tengah-tengah keluarga kami. Sambil mempersiapkan persalinan anak kedua yang diprediksi akan lahir pada akhir november yang akan datang, saya bisa tetap menjalani aktifitas sebagai ibu rumahtangga, menulis naskah buku dan blogging. Makin asyik lagi nih sepertinya dengan layanan baru Indosat yaitu Mentari Aura, yang memanjakan penggunanya khususnya kaum wanita yang meski berada di dalam rumah namun tetap membutuhkan informasi aktual seputar dunia wanita. Karena produk Indosat yang satu ini menyediakan akses gratis setelah pemakaian sebentar ke dua situs wanita populer yaitu www.fimela.com (Ini adalah website atau media online perempuan yang berfokus pada konten fashion dan gaya hidup) serta www.pinkemma.com (salah satu situs belanja online khusus yang menjual produk wanita dan memberi tips serta informasi menarik seputar dunia wanita)

Jadi, yuk hilangkan kekhawatiran berlebih mengenai dampak tren mobile internet pada anak. Anak-anak kita saat ini hidup di zaman yang sama sekali berbeda dengan dua puluh atau tiga puluh tahun yang lalu, saat kita seusia mereka. Dimana bukan sekedar boneka, mobil-mobilan atau mainan sederhana lainnya yang akan mengisi hari-hari mereka. Sulit rasanya menghapus gadget dari keseharian mereka. Jika demikian adanya, maka tugas kita sebagai orangtua tentu bersikap bijak menanggapi hal ini. Dampingi mereka, dengarkan cerita-ceritanya dan semacamnya hingga mereka menjadi lebih terbuka pada orangtuanya. Tak hanya masalah gadget, tapi juga hal lain yang mereka jumpai dalam aktifitasnya sehari-hari. Jika kita sukses menjalani ini semua, sekedar gadget tentu tidak akan menjadi momok menakutkan lagi.
Seperti sudah saya sampaikan sebelumnya mengenai peran gadget yang bisa menjadi 'pengasuh' pengganti pada anak, maka tugas kita lah untuk menyortir apa yang baik dan buruk dari sang pengasuh, sesuai dengan nilai dan norma yang kita anut.

Di usia 3 tahun, Gaza semakin mahir dengan gadget.
Menanamkan Mindset positif sejak dini meminimalisir dampak negatif gadget


Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog DPTalk mengenai "Peran Orangtua Mengatasi Tren Mobile Internet Pada Anak-Anak." 
LOMBA BLOG DPTALK

No comments: