Google+ Followers

Saturday, September 14, 2013

Mengantarkan Jamu Sebagai Budaya Asli Indonesia Untuk Go International

Penjual Jamu di Daerah Narogong, Bekasi

Jamu Di Indonesia--Saat Ini
Kita--sebagai masyarakat Indonesia, pasti sudah tak asing dengan penjual yang menjajakan jamu keliling. Ada yang menggunakan sepeda motor, sepeda, bahkan masih banyak pula penjual jamu keliling yang menjajakan dagangannya dalam bakul gendongan, baik itu di desa maupun di kota.

Penjual Jamu di Perkantoran Kawasan Gatot Subroto Jakarta Selatan


Pernahkah Anda meminum jamu? Saya sih jujur saja, jarang meminum jamu yang dijajakan oleh penjual jamu keliling. Alasannya sederhana saja, pahit. Meski sudah dicampur dengan jeruk nipis ataupun gula, rasanya di lidah saya tetap pahit. Saya lebih suka jamu yang sudah dikemas dan dijual di toko-toko, baik dalam bentuk bubuk maupun cairan dalam botol. Pahitnya biasanya sudah tak terlalu menempel di lidah. Saya biasa mengonsumsi jamu kemasan untuk meredakan nyeri haid, menghilangkan pegal linu, masuk angin, diare, dan pasca persalinan--termasuk untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas ASI. Bagi saya, obat-obatan dengan label 'Jamu' lebih memberikan rasa aman untuk dikonsumsi daripada obat berbahan kimia. Karena jamu yang berasal dari bahan-bahan alami ini relatif tidak memiliki efek samping bagi kesehatan. 

Disamping mengonsumsi jamu kemasan, saya juga membiasakan diri 'meracik' beberapa tanaman yang ada di lingkungan sekitar sebagai pengobatan pertama saat mengalami sakit, baik untuk diri sendiri maupun keluarga--tentu berdasarkan referensi yang akurat. Misalnya saja jika mengalami diare, saya biasanya menumbuk pucuk daun jambu biji dan merebusnya. Atau jika mimisan, saya menggunakan daun sirih merah untuk menghentikan pendarahan. Lain waktu, kencur dan jeruk nipis biasanya menjadi andalan saya saat diserang batuk.

Jamu Diakui Dunia Sebagai Warisan Budaya Indonesia, Mungkinkah?
Belakangan ini santer terdengar kabar bahwa jamu asal Indonesia diusulkan untuk mendapat pengakuan dunia sebagai warisan budaya asli Indonesia ke Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan (UNESCO). Jaya Suprana sebagai pendiri Museum Rekor Dunia Indonesia lah yang mengajukan hal tersebut. Menurutnya, ia sudah membicarakan masalah terkait dengan Pemerintah melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Jaya menambahkan bahwa pihaknya akan terus memperjuangkan agar jamu-jamu yang berasal dari budaya masyarakat asli Indonesia memperoleh pengakuan dunia sebagai warisan kebudayaan dunia dari UNESCO. Jaya mengungkapkan bahwa ini merupakan proses yang tidak mudah. Meskipun jamu asli Indonesia memiliki keunggulan lebih dari sisi keberagamannya dibandingkan dengan obat-obatan herbal dari Cina, namun rasa kepemilikan dan kebanggaan bangsa ini terhadap jamu tradisional masih sangat rendah. Itulah salah satu hal yang bisa menghambat proses diakuinya jamu sebagai warisan budaya dunia asli Indonesia oleh UNESCO. (sumber berita dari sini)

Hmm, kurangnya rasa kepemilikan dan kebanggaan katanya? Bagaimana menurut Anda? Saya rasa pendapat itu ada benarnya juga. Setelah melakukan sebuah survey sederhana pada beberapa rekan dan kerabat, saya menemukan bahwa masih banyak dari kita yang tidak menyukai jamu. Bukan hanya tidak menyukai, tak sedikit pula yang tidak sadar dengan keberadaan jamu sebagai produk budaya asli negeri ini, bahkan menilai jamu sebagai sesuatu yang 'out of date' alias ketinggalan jaman. "Hari gini minum jamu? Apa kata dunia? Obat yang tinggal glek aja udah ada, kok. Ngapain juga minum jamu? Ribet dan pahit." celetuk salah satu kerabat saya.

Apa kata dunia? Ya betul, apa kata dunia seandainya segelintir masyarakat Indonesia sibuk mengajukan jamu sebagai warisan budaya asli negeri ini pada UNESCO, sementara sebagian lainnya ada yang bahkan tidak mengenal, tidak peduli apalagi berbangga dengan tradisi budaya asli negaranya sendiri? Apakah harus menunggu sampai jamu dengan resep asli Indonesia diklaim terlebih dahulu oleh negara lain dengan penuh kebanggaan--seperti halnya batik, baru kita tersadar, marah dan mengutuk? Saya harap sih tidak. Maka mengutip kalimat teman saya Jihan Davincka--seorang blogger, terkait klaim kebudayaan ini, "Stop pointing our fingers and start taking the hits!" Yuk, mari kita mulai lebih mengenal dan bangga dengan jamu sebagai budaya asli Indonesia serta berperan aktif membantu mengantarkannya untuk go international.



Lebih Mengenal dan Mencintai Jamu

Untuk bisa menumbuhkan rasa kepemilikan serta kebanggaan terhadap jamu, saya mencoba mengaplikasikan peribahasa 'Tak kenal maka tak sayang". Tentu ini sesuai, jika kita sudah mengenal jamu mulai dari sejarah, cara pembuatan, khasiat dan lainnya, tentu rasa bangga dan cinta akan tumbuh dengan sendirinya dalam diri kita terhadap budaya asli Indonesia yang satu ini.


Memahami Sejarah Jamu
Jamu adalah ramuan unik untuk pengobatan herbal di Indonesia yang digunakan untuk berbagai perawatan maupun pengobatan sesuai dengan khasiat tanaman yang dikenal secara empiris turun-temurun. Intilah 'Jamu' digunakan oleh orang Jawa untuk menyebut pengobatan herbal--dimana pengobatan ini tidak menggunakan bahan kimia sintetik yang aditif. Jamu diyakini sudah eksis sejak lama sebelum ilmu farmakologi modern memasuki Indonesia.

Penggunaan obat dengan ramuan tradisional sejak zaman prasejarah diyakini telah ada di Indonesia berdasarkan penemuan bukti adanya penemuan batu dari zaman Mesolithikum dan Neolithikum berupa lumping yang telah digunakan oleh nenek moyang untuk memproses makanan dan jamu. Sementara bukti tertulis mulai ada sejak ditemukannya Prasasti 7 Yupa pada abad 5 M di Kalimantan Timur yang bertuliskan huruf Palawa dengan bahasa Sansekerta. Ini ditengarai sebagai bukti tertua yang menunjukkan adanya tradisi meracik dan meminum obat tradisional di Indonesia.

Bukti selanjutnya yang termasuk dalam sejarah tertua pemanfaatan ramuan tumbuhan obat dapat disaksikan pada relief Karmawipangga yang ada di Candi Borobudur yang menggambarkan pembuatan obat tradisional menggunakan pipisan untuk perawatan kesehatan dengan pemijatan dan penggunaan ramuan obat atau Saden Saliro. Lalu relief Candi Brambang yang ada di kompleks Candi Prambanan (8-9 M), Panataran, Sukuh dan Tegalwangi. Di situ diperlihatkan pahatan relief tanaman obat endemik yang sudah dipakai masyarakat sekitar candi pada saat itu.

Penggunaan jamu dan resep-resep jamu dalam pengobatan juga ditemukan pada daun lontar menggunakan bahasa Jawa Kuno, Sansekerta dan Bahasa Bali. Lontar yang ditulis dengan bahasa Bali yaitu Usada atau Lontar Kesehatan pada 991-1016 M.

Istilah 'Jamu' sendiri sebetulnya baru muncul pada zaman Jawa Baru, sekitar abad pertengahan 15-16 M. Menurut pakar bahasa Jawa Kuno, jamu berasal dari singkatan 2 kata yaitu Djampi dan Oesodo. Djampi berarti pengobatan yang menggunakan ramuan obat-obatan atau doa-doa dan ajian-ajian, sementara Oesodo berarti kesehatan. Primbon terlengkap mengenai Djampi baru ditulis pada zaman Kerajaan Kartosuro (1820 M). Catatan yang sudah menggunakan istilah jamu ditemukan pada Serat Parimbon Djampi Ingkang Sampoen Langge Ing Salami-laminipoen pada 1875 M.

Selanjutnya, keberadaan Prasasti Madhawapura dari zaman Majapahit yang menggambarkan profesi peracik jamu yang disebut 'Acaraki', semakin memperjelas bahwa tradisi meminum dan meracik jamu sudah ada di negeri ini sejak berabad-abad lamanya.Dimana pada zaman dahulu jamu hanya dikenal di kalangan keraton (terutama kesultanan Djogdjakarta dan Kasunanan Surakarta). Jamu yang biasa digunakan oleh para puteri kerajaan serta para selir untuk menjaga kesehatan, kebugaran serta kecantikan mereka itu bersifat rahasia dan tidak diperbolehkan 'keluar' dari lingkungan istana sampai permulaan abad ke-20.

Publikasi Jamu Dalam Bentuk Buku
Pada masa kolonial, beberapa referensi juga menyebutkan berbagai jenis tanaman di nusantara yang memiliki khasiat obat. Yacobus Bontius--seorang petualang asal Portugis adalah orang Eropa pertama yang menerbitkan buku mengenai jenis-jenis tanaman obat dan kegunaannya dengan judul "Historia Naturalist et Medica Indiae" pada 1627. Bontius juga merupaka orang pertama yang menulis tentang tumbuhan obat di Jawa pada 1658 M. Penulis lain yang juga menulis buku mengenai obat tradisional khas nusantara adalah Gregorius Rumphius--seorang ahli Botani yang tinggal di Maluku. Karyanya berjudul "Amboinish Kruidboek" dan "Herbarium Amboinense" yang merupakan catatan tentang pemanfaatan tumbuhan untuk pemeliharaan kesehatan dan pengobatan yang ditulis sekitar 1741-1755 M. Setelah itu tercatat pula adanya monograf tumbuhan obat di Jawa, oleh Horsfield (1816), Tumbuhan yang beracun dan bermanfaat sebagai obat, oleh Greshoff's (1890-1914), "Het Javaanese Receptanboek" (Buku resep pengobatan Jawa Kuno) oleh Van Hien (1872) dan "Indische Planten en haar Geneeskracht" (Tumbuhan Asli dan kekuatan penyembuhannya) oleh Kloppenburg-Versteegh (1907). Kesemua publikasi tersebut umumnya memuat manfaat setiap jenis tanaman atau berupa ramuan yang digunakan oleh masyarakat Indonesia pada masa itu. Peranannya sangat besar dalam perkembangan pengetahuan jamu di Indonesia.

Industri Jamu di Indonesia
Seiring perkembangan zaman, lambat-laun para peracik jamu banyak yang mengajarkan ilmu meracik jamu ini sampai keluar lingkungan istana, hingga akhirnya sampai saat ini jamu dikenal oleh masyarakat luas--bahkan sampai mancanegara. Industri jamu skala rumahtangga pertama dirintis oleh Nyonya Item dan Nyonya Kembar pada 1825 di Ambarawa, Jawa Tengah. Selanjutnya seiring dengan trend 'Back To Nature' yang melanda pasar dunia, industri jamu di tanah air pun mulai berkembang. Tercatat nama Tan Swan Nio dan Siem Tjiong Nio lah yang memassalkannya dalam skala industri dengan mendirikan 'Djamoe Industrie en Chemicalien Handel "Iboe" Tcap Doea Njonja' pada 1910 di kota Surabaya. Selanjutnya menyusul 'Djamoe Tjap Djago' di Semarang pada 1918 dan seterusnya hingga sekarang tercatat di BPOM ada lebih dari 1024 perusahaan dengan berbagai skala yang memproduksi lebih dari 10.000 macam produk jamu mulai dari yang berbentuk godogan, pil, serbuk sampai kapsul dengan distribusi yang beragam mulai dari sebatas di lingkungan tempat produksi sampai ekspor ke mancanegara.

Berkat para perintis industri jamu tadi, kini jamu dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat, tak lagi terbatas di kalangan kerajaan. Saat ini diperkirakan sekitar 80% penduduk Indonesia mengonsumsi jamu. Berbeda dengan jamu racikan yang dibuat pada zaman dahulu, kini jamu sudah dikemas secara modern dengan sistem pengolahan, pengemasan dan pengujian secara klinis. Standarisasi bahan baku, pengujian keamanan dan khasiat telah banyak dilakukan dan sistem produksi telah mengacu pada cara pembuatan obat yang baik. Produk jamu pun dikelompokkan menjadi 3, yaitu jamu tradisional, jamu terstandar dan jamu fitofarmaka.

Bentuk jamu tak hanya untuk pemakaian dalam (diminum) saja. Sekarang ini banyak sekali dikembangkan di salon-salon kecantikan ramuan jamu untuk perawatan bagian luar tubuh mulai dari lulur, pijat sampai perawatan area sensitif wanita yang dikenal dengan istilah  'Vagina Spa' atau 'Ratus'. Ramuannya tentu saja menggunakan resep jamu asli Indonesia. Namun tahukah Anda bahwa tradisi Ratus atau V-Spa ini bukanlah sebuah inovasi modern, melainkan sudah dikembangkan sejak ratusan tahun lalu? Konon dikisahkan bahwa dahulu kala Raja memiliki banyak selir, bahkan sampai 40 orang. Para selir itu berlomba mempelajari ilmu meracik jamu. Semakin tinggi dan bervariasi ilmu yang dimilikinya, terutama jika berkaitan dengan 'area V', maka kemungkinan untuk 'didatangi' oleh sang Raja akan semakin sering.

Indonesia Bahkan Punya Museum Jamu
Pada 1984 Ibu Tien Soeharto bahkan menggagas pembangunan museum jamu pertama di Indonesia yaitu 'Museum Jamu Nyonya Meneer' di Semarang. Tujuannya tak lain agar jamu sebagai warisan budaya asli Indonesia ini tidak tergerus oleh zaman. Di sana tersimpan rangkaian foto yang mengurai sejarah berdirinya Perusahaan Jamu Cap Potret Nyonya Meneer. Selain itu juga ada berbagai perabotan tradisional yang pertama kali dipakai oleh Nyonya Meneer untuk meracik jamu seperti botekan (tempat menumbuk jamu), dacin (alat penimbang tradisional). Tak ketinggalan pula diorama proses pembuatan jamu. Konon dalam setahun tak kurang dari 4 kapal pesiar asing yang merapat di pelabuhan Tanjung Mas yang membawa rombongannya menuju museum jamu ini. Para turis ini biasanya akan menyaksikan langsung proses pembuatan jamu.

Jamu Sebagai Brand Indonesia
Berdasarkan sejarah panjang keberadaan jamu di tanah air serta eratnya penggunaan tanaman obat tradisional dalam berbagai racikannya dengan kehidupan masyarakat Indonesia, maka tentu tak salah jika jamu dikatakan sebagai warisan budaya asli Indonesia atau istilahnya "Brand Indonesia". 

Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi mengatakan bahwa proses pengusulan jamu sebagai warisan budaya asli Indonesia ke UNESCO sudah dimulai sejak 2008 silam. Dimana hingga saat ini terus dilakukan dokumentasi sejarah seputar jamu sebagai bahan untuk bisa masuk ke dalam warisan budaya dunia. 

Senada dengan pernyataan Bayu Krisnamurthi, Wakil Menteri Kebudayaan Prof. Dr Wiendu Nuryanti dan Diektur Jenderal Kebudayaan Prof. Dr. Katjung Maridjan mengungkapkan bahwa jamu telah resmi dipersiapkan oleh Kemendikbud untuk diajukan ke UNESCO demi memperoleh pengakuan sebagai warisan kebudayaan dunia karsa dan karya bangsa Indonesia.

Namun diungkapkan oleh Jaya Suprana bahwa proses ini (membawa jamu go international) tidaklah mudah. Disamping harus menempuh antrian panjang karena setiap tahun UNESCO hanya berkenan mengakui satu warisan tak benda dari setiap negara anggota lembaga kebudayaan PBB tersebut, ikhtiar besar ini pun akan menjadi sia-sia belaka bila tak didukung secara terpadu oleh segenap pelaku dan pemerhati jamu, mulai dari penjaja jamu gendong, peramu jamu, petani tanaman jamu, pengusaha jamu, pelaku industri jamu serta pemerintah khususnya Kementerian Kesehatan sebagai 'pamong jamu' sampai ke para cendekiawan dan budayawan di seluruh nusantara.

Gambar dari sini

- Para pelaku usaha jamu harus mampu meyakinkan UNESCO bahwa jamu benar-benar merupakan bagian integral kebudayaan bangsa Indonesia di bidang kesehatan, kecantikan dan kebahagiaan yang layak dinobatkan sebagai salah satu Intangiable Culture Heritage setara dengan keris, batik, angklung, tari saman dan lainnya.
- Para penjual jamu gendong harus benar-benar disiplin menjaga higienitas demi menjamin kebersihan dan keamanan produk yang dijual pada konsumen.
- Para pelaku industri jamu harus menjunjung tinggi hak konsumen untuk memperoleh informasi yang benar mengenai produk jamu yang dijamin tanpa resiko dampak buruk terhadap keselamatan konsumen dan wajib menghentikan produksi serta pemasaran produk jamu yang dicampur bahan farmasi dan kimiawi yang terbukti rawan membahayakan kesehatan bahkan sampai menyebabkan kematian.
- Para dokter dan apoteker Indonesia yang masih anti jamu pun seyogianya berkenan menahan diri dari melecehkan jamu sebagai sesuatu yang tidak bisa dipertanggungjawabkan nilai ilmiahnya sambil berusaha lebih membuka nurani untuk mau dan mampu menghargai makna dan hakikat jamu sebagai karsa dan karya kebudayaan bangsa Indonesia yang mandiri dan berdaulat 
- Para cendekiawan dan budayawan bisa berperan dalam menjalin kesepakatan mengenai definisi jamu(dikutip dari pernyataan Jaya Suprana di sini)

Apa Peran Kita--Masyarakat Indonesia?
Jika pada paragraf di atas Jaya Suprana 'hanya' menyebutkan beberapa profesi baik yang terkait langsung dengan produksi jamu ataupun berhubungan erat dengan pemanfaatan serta keberadaan jamu, maka bisa jadi akan muncul pertanyaan, "Lalu sebagai masyarakat awam, adakah yang bisa kita lakukan untuk mendukung proses Go International-nya jamu?"
Menurut hemat saya, tentu saja ada yang bisa kita lakukan. Dengan tidak bermaksud menomorduakan penggunaan serta khasiat pengobatan farmakologi modern yang menggunakan bahan-bahan kimiawi, sebaiknya kita mulai mempelajari pengobatan tradisional yang memakai bahan-bahan dari alam sebagai pengobatan atau perawatan kesehatan pribadi. Jika tidak memiliki ilmu yang memadai mengenai jamu, tak perlu lah kita membuat jamu komplit untuk menyembuhkan penyakit yang berat. Cukup gunakan tanaman-tanaman di sekitar kita yang sudah terbukti berdasarkan penelitian bisa menyembuhkan penyakit atau menjaga kesehatan. 

Saya yakin jika kita mau mempelajari khasiat berbagai tanaman untuk pengobatan dan perawatan kesehatan, bukan tak mungkin kita justru menemukan tanaman-tanaman obat di lingkungan sekitar. Contohnya saja urang-aring yang dapat digunakan untuk penyakit muntah darah, mimisan, kencing darah, hepatitis, diare dan keputihan. Serta mengatasi rambut yang memutih di usia muda dan menyuburkan rambut. Sementara tanaman lainnya seperti Lidah Mertua yang bisa kita temui di beberapa gerai tanaman hias ternyata berguna untuk mengobati demam, gatal-gatal, diabetes, wasir, influenza, batuk, radang saluran pernapasan hingga kanker ganas. Sedangkan sebagai obat luar, Lidah Mertua banyak digunakan untuk mengobati keseleo, luka terpukul, bekas gigitan ular berbisa, borok, bisul atau sebagai penyubur rambut dan memiliki khasiat antibiotik untuk menghilangkan rasa sakit. Cara penggunaan serta takarannya bisa kita pelajari melalui buku atau referensi yang terpercaya di internet. 

Lidah Mertua yang saya tanam di halaman, ternyata memiliki banyak khasiat


Menurut saya jika kebiasaan ini dilakukan oleh sebagian besar masyarakat Indonesia, maka akan bisa 'mempermulus' perjalanan jamu untuk go international hingga mendapatkan pengakuan dari UNESCO sebagai warisan kebudayaan asli karya dan karsa Indonesia. Dari sini masyarakat internasional khususnya UNESCO bisa melihat bahwa jamu yang berasal dari racikan bahan-bahan tradisional di Indonesia tak hanya dilakukan oleh masyarakat zaman dahulu saja sebelum mengenal pengobatan farmakologi modern, atau masyarakat di daerah tertentu saja dimana sejarah panjang jamu berakar. Tetapi resep-resep tradisional jamu ternyata sudah mengakar dalam diri masyarakat Indonesia. Bukankah jika ini bisa diterapkan, hasilnya akan sangat luar biasa?

Jadi, mulai sekarang mari berbangga dan mencintai jamu sebagai warisan budaya dari leluhur kita yang memiliki banyak manfaat dalam kehidupan sehari-hari. Jangan sampai kita kembali 'keduluan' oleh negara lain untuk mengklaim jamu pada dunia internasional.


--Tulisan ini disertakan dalam Lomba Penulisan Artikel Jamu yang diselenggarakan oleh Biofarmaka IPB, teriring rasa bangga turut mendukung Jamu agar bisa go International diakui oleh UNESCO sebagai warisan kebudayaan asli Indonesia. Go Djamoe Indonesia!--

Referensi:
http://biofarmaka.ipb.ac.id/brc-upt/brc-ukbb/bccs-collection


Dies Natalis PSB 2013

1 comment:

macangadungan said...

Aku dulu suka minum jamu loh, Mbak. Tiap hari. Efeknya berasa. Saat masih rutin minum jamu, setiap kali haid aku nggak kena kram perut. Sekarang gak bisa minum jamu tiap hari karena ngantor di gedung tinggi. Gak ada tukang jamu yg lewat :p
Alhasil sekarang tiap haid, keram perut deh (-____-)