Google+ Followers

Tuesday, December 3, 2013

My Smart Formula

Empat tahun lalu saat umur saya 26, putera pertama saya lahir. Well, inilah babak baru dalam kehidupan saya: Menjadi Ibu. Banyak yang berubah setelah kelahiran Gaza, baik yang otomatis berubah (misalnya saya jadi mendadak punya ASI :D) maupun yang dipaksa untuk berubah (ini sih lebih ke karakter, dimana yang paling dahsyat adalah memaksa diri supaya nggak lagi jadi pribadi yang pecicilan dan manja). 

Salah satu perubahan yang 'dipaksa' untuk tumbuh dalam diri saya adalah menjadi 'Smart Mom'. Dimana jauh hari sebelumnya saya sudah bertekad untuk menjadi seorang Ibu Cerdas, yang dalam benak saya saat itu adalah sosok ibu yang sempurna, bisa mengurus rumah tangga dengan baik, merawat anak dengan baik, mengurus suami dengan baik dan di tengah semua kesibukan itu bisa tetap tampil cantik-langsing-wangi serta sanggup untuk tetap mengaktualisasikan diri dalam bentuk produktifitas kerja dan bersosialisasi. Sounds perfect, right? Dulu saya mikir, apanya yang susah untuk jadi 'Smart Mom' seperti ini? Punya anak satu aja, pasti bisa lah!

But i was totally wrong! Betul-betul nggak terbayang dalam benak saya sebelumnya bahwa menjadi seorang ibu baru tanpa bantuan orangtua maupun asisten rumahtangga bisa menjadi demikian sulit, menguras tenaga, pikiran dan emosi. Yang ada saya malah terkena Baby Blues Syndrome. Jadi boro-boro bisa tetap tampil cantik-langsing-wangi, bersosialisasi dan mengaktualisasikan diri, bisa tetap waras di pagi hari--setelah begadang semalaman karena menangani bayi kolik saja--sepertinya sudah bagus. 

Kondisi bertambah parah saat banyak 'tawon berdengung' (ini istilah untuk orang-orang yang hobi mencela) perkara saya yang lama menurunkan berat badan atau nggak pernah dandan lah, soal rumah yang berantakan--padahal mestinya bisa tetap rapi meski ada bayi, urusan masak yang jadi sering beli di luar, sampai kenapa saya sering memakaikan pospak pada Gaza--padahal itu katanya tidak baik untuk kesehatan (khusus untuk yang ini, pengin banget saya jawab, "Emang lo mau nyuci lebih dari dua puluh popok dan bedong tiap hari?")

Betapa hebohnya 'jobdesc' seorang Ibu Rumahtangga
Gambar dari sini

Terbayang nggak sih betapa buruk keadaan saya saat itu? Frustrasi melanda karena  merasa gagal menjadi seorang 'Smart Mom' seperti yang selalu saya impikan. Habis rasanya mustahil bisa menampilkan wujud 'Smart Mom' seperti yang ada dalam benak saya sebelumnya (ditambah tuntutan para 'tawon berdengung'). Sampai saya pikir sang 'Smart Mom' seperti itu cuma ada di iklan atau bisa terjadi pada mereka yang beruntung memiliki asisten/babysitter. Unfortunately, it's not me!

Hingga akhirnya seiring berjalannya waktu saya mulai terpikir satu hal: Bodoh! Kata ini tercetus saat saya membaca sebuah artikel tentang pengasuhan anak yang mengutip quote dari Albert Einstein, "Everybody is genius. But if you judge a fish by its ability to climb a tree, it will live its whole life believing that it is stupid." 

Jangan mau jadi 'ikan-yang-merasa-bodoh' seperti kata Einstein
Gambar dari sini

Saya pun move on!

Saya mulai berpikir lebih rasional. Oke, sepertinya 'Smart Mom' ala saya mesti didefinisikan ulang. Bukan lagi seorang ibu super sempurna yang bisa mengurus semua hal (anak-suami-rumahtangga) dengan baik tanpa bantuan asisten dan bisa tetap berpenampilan cantik-langsing-wangi sambil terus mengaktualisasikan diri dengan produktif berkarya dan bersosialisasi. 

Smart Mom For Smart Kid


Jadi, saya menetapkan bahwa 'Smart Mom' untuk saya kala iu dengan amat sederhana: Seorang ibu yang bisa mengatur urusan anak-rumahtangga-suami dengan baik (dalam artian tak ada kekacauan fatal misal bayi terjatuh dari kasur atau kopi dicampur dengan cuka dan bukannya gula) dan bisa tetap sehat tanpa stres dan bisa bersinergi dengan suami. Baiklah, segitu cukup. Tak perlu tambahan lagi.

Hasilnya luar biasa, saya bahagia! Saya menikmati hidup sebagai seorang ibu baru dengan penuh rasa syukur. Saya juga nggak pernah terlalu memperhatikan para 'tawon berdengung' lagi, yang penting suami saya ikhlas dan nggak complain. It's enough!

Dengan definisi super sederhana seperti itu, saya justru jadi bersemangat dan tertantang untuk selalu meng-upgrade diri biar bisa lebih baik lagi dan lagi. Saya belajar mengatur waktu agar bisa lebih efektif dan efisien dalam menjalani peran sebagai ibu rumah tangga. Sedikit-sedikit saya kembali menekuni dunia penulisan yang sempat saya tinggalkan total selama hampir 2 tahun sejak melahirkan anak pertama. Saya banyak belajar baik dari buku, internet maupun hasil bersosialisasi dengan banyak orang. 

HIngga akhirnya saya nyaris bisa memenuhi definisi 'Smart Mom' yang saya tetapkan dulu. Masih ingat? Itu lho, bisa mengurus anak-suami-rumahtangga dengan baik, tetap cantik-wangi (kecuali langsing, ini agak susah, haha!) dan tetap mengaktualisasi diri dengan produktif menulis dan bersosialisasi. Hey, I did it! I did it! *jingkrak-jingkrak*

Saya pun sadar bahwa 'Smart' itu sebaiknya didefinisikan secara pribadi, sesuai dengan kemampuan diri dan bukannya meniru standar orang lain.

Jadi yang harus dilakukan untuk bisa menjadi 'Smart' ala saya adalah:
1. Pelajari kekuatan dan kelemahan diri, lalu terima hal itu
2. Sesuaikan dengan prioritas dan nilai yang dianut (bukan nilai yang 'trend') 
3. Buat target-target sederhana yang memungkinkan untuk dilakukan dan sesekali beri reward atas pencapaian yang sudah didapat
4. Mau terus belajar lalu tingkatkan target secara berkala (meski sedikit demi sedikit)

Then, you'll be smart as you are. Trust me!

Saya sudah mencobanya. Dari yang merasa bodoh, setengah cerdas dan akhirnya merasa cerdas (tentu dengan definisi ala saya, bukan patokan orang lain :) ). 


Berusaha lebih baik dan lebih cerdas setelah punya 2 anak

Di pertengahan perjalanan 'karir' sebagai seorang ibu yang masih terus belajar (sampai sekarang, saat anak saya sudah dua), saya akhirnya menemukan definisi yang (sepertinya lumayan) paten mengenai kecerdasan seorang ibu alias 'Smart Mom', seperti ini: 

Being a smart mom doesn't mean that you have to be perfect. A smart mom sometimes becomes silly, a little bit stupid or even makes mistakes. But after all, she always has thousand ways to move on and makes sure that everything's on the right track.


Intinya sebetulnya sederhana sekali, jangan pernah berpikir bahwa smart (cerdas) itu sama dengan perfect (sempurna). Nggak akan pernah ada kesempurnaan pada diri selama kita masih berwujud manusia. Jadi silakan ke laut aja kalau masih mau mengejar kesempurnaan atau membahagiakan semua orang karena berpikir kalau tindakan itu cerdas. 




4 comments:

Winda Krisnadefa said...

Haloo, Emak Gaoel mampir ngecek-ngecek peserta.
Terima kasih ya sudah ikut meramaikan Ultah Blog Emak Gaoel.
Good luck! ^_^

Taufiq Firdaus Alghifari Atmadja said...

Ibu yang Smart memang perlu agar gizi anak seimbang juga. :)

Pritha Khalida said...

Mak Winda: Menangin yaa, ahahhahaha...

Mas Taufiq: Ya semoga semuanya seimbang, amin :)

Cara Mengatasi Kloset Mampet said...

mantaaap gan
di tunggu info selanjutnya
thanks