Google+ Followers

Friday, February 7, 2014

Behind The Scene Sunatan Gaza

Kamis 30 Januari lalu saya 'akhirnya' membawa si sulung Gaza ke klinik sunat. Kenapa dibilang 'akhirnya'? Soalnya urusan sunat ini diawali dari permintaan Gaza sejak hampir setahun yang lalu, saat umurnya baru 3 tahun.

Saat itu dia lagi nonton Upin & Ipin episode 'Sunat', trus tiba-tiba nanya, "Bunda, disunat itu diapain sih?"
"Dibersihin tititnya."
"Pake apa? Tisu?" tanyanya penasaran.
"Bukan, tapi pakai alat khusus yang ada di dokter."
"Sakit enggak?"
"Emh...enggak." *padahal sumpah saya nggak tau gimana rasanya disunat*. Gaza tampak serius sekali menonton tayangan Upin & Ipin kala itu. Selanjutnya, setelah film-nya habis tercetuslah kalimat singkat, "Gaza mau disunat juga dong, Bun!"

Eh, apa? Mau disunat? Baru tiga tahun? Serius tuh anak?

"Nanti lah kalau udah agak besar. Upin Ipin juga udah TK kan baru disunat." ujar saya pada Gaza.
"Memangnya nggak boleh kalau belum TK?"
Ya boleh sih, tapi...Jujur aja saya nggak tega, nggak berani liat juga. Mana saya lagi hamil muda pula. Gimana ceritanya kalau abis disunat terus dia perdarahan? Waah bisa pingsan saya--emaknya yang phobia darah ini. Maka topik sunat pun saya alihkan sampai akhirnya kami membahas hal lain.

Hari demi hari berganti. Gaza nyaris nggak pernahlagi membahas urusan sunat. Sampai pada Desember kemarin ada kakak sepupu Gaza yang disunat. Topik ini pun kembali muncul ke permukaan.

"Bun, Gaza mau disunat"
"Emang berani? Tuh Abang Athar aja kesakitan." jawab kakak ipar saya. Jawaban yang langsung saya beri kedipan mata, pertanda agar ia tak memperpanjang omongan yang sempat bikin Gaza terbelalak. Ya, meski saya ngeri membayangkan Gaza disunat, tapi urusan yang satu ini tidak pernah saya jadikan sarana untuk menakut-nakuti atau mengancam jika Gaza nakal--seperti yang dilakukan sebagian orangtua. Biar ia tidak pernah takut dengan sunat.
"Emang sakit? Kata Bunda enggak sakit?"
Saya menggeleng, "Enggak sakit. Tapi nanti saja kalau udah TK, ya?"
Meski agak kecewa tapi Gaza kembali mengangguk.

Sekali dua kali Gaza bisa dialihkan dari sunat. Tapi syukuran sunat adik sepupu saya pada pertengahan Januari lalu membuatnya seperti cacing kepanasan. Gaza semakin antusias untuk disunat, ia pun merajuk.

"Bang Athar disunat. Om Fayedh dan Om Fawwaz juga disunat. Kok Gaza enggak juga sih? Memangnya Ayah sama Bunda enggak sayang sama Gaza?"

Mau bilang nanti kalau sudah TK? Dia tanya kenapa. Dibilang belum cukup besar, dia jawab meskipun masih kecil tapi nggak kalah kuat katanya. Semua argumen saya dan suami dipatahkan oleh Gaza. Termasuk alasan bahwa sunat itu bayarnya mahal, harus ngumpulin uang dulu, dijawabnya dengan, "Tuh uang Gaza di dompet hasil ngafal surat kan banyak. Pakai uang Gaza aja." 

"Kenapa sih sebetulnya Gaza pengin sunat?" tanya suami saya akhirnya.
"Disunat itu asyik, Ayah. Upin Ipin dikasih ayam goreng. Abang Athar dikasih mobil-mobilan baru. Om Fayedh sama Om Fawwaz juga gitu. Gaza juga mau makan ayam goreng." ceplos Gaza.
Bwahahahaha...ternyata alasannya semata urusan mobil dan ayam goreng!
"Tapi enggak usah disunat juga kan suka dibikinin ayam goreng." sela saya.
"Pokoknya Gaza mau disunat, trus abis itu makan ayam goreng!" ujarnya ngotot, bikin kami nggak tau harus beralasan apa lagi. Gaza ini memang keukeuh, kalau udah ada maunya ya harus segera. Kecuali ada alasan yang kuat dan bisa dia mengerti.

Jadi karena sunat ini urusan laki-laki, maka suami saya lah yang bertugas untuk browsing mulai dari tempat sunat, metode, resiko sampai biayanya. Dan dia pun memutuskan untuk memakai metode 'Smart Klamp' yang ada di Klinik Sunat Modern Cibinong yang lokasinya tidak jauh dari tempat tinggal kami. Tugas selanjutnya untuk membuat janji beralih pada saya. 

"Oke Gaza, insya Allah kita sunat hari Jumat jam tujuh. Barusan Bunda sudah telepon. Jadi hari Jumat nanti kamu mesti bangun pagi." saya memberitahu. 
Nggak terkira bahagianya Gaza. Dia langsung lompat-lompat sambil teriak dan meluk-meluk Bilal--adiknya, "Horee Gaza mau disunat. Asyiik!"

Hari Jumat yang dimaksud itu sebetulnya masih 2-3 hari lagi. Tapi pas hari Kamis, Gaza sudah ribut nanya lagi tentang sunat. Susah payah kami menjelaskan bahwa janji sudah disepakati Jumat, dan itu satu hari lagi. Gaza bergeming. Ia tetap ingin hari Kamis. Bahkan ia sampai mogok sekolah. Dia baru mau ke sekolah setelah dibujuk bahwa sepulang sekolah kita akan berangkat sunat (tentu saja ini taktik semata supaya dia mau sekolah)

Dan berbohong pada anak memang sebaiknya tidak dilakukan, wahai para orangtua ya baik. Apalagi kalau Anda memiliki anak yang selalu ingat janji orangtua seperti Gaza. Sepulangnya dari sekolah dia nangis karena nggak mendapati Ayah di rumah,
"Huwaa Ayah bohong! Katanya mau sunat pas Gaza udah sekolah. Ini Gaza sengaja pulang duluan biar disunat sekarang, taunya Ayah malah ke kantor!" Gaza meraung-raung. Kabar yang begitu saya sampaikan pada suami, saat itu pula ia memutuskan untuk masuk kantor setengah hari.

Menjelang sore kami berempat--saya suami, Gaza dan Bilal, pergi ke klinik sunat. Sesuai iklan yang ditampilkan di website-nya, di sana ada ruang bermain yang lumayan besar. Dengan berbagai permainan mulai dari bola, lego, tenda kecil sampai tablet, Gaza tampak senang sekali. Ia seperti terhipnotis sampai akhirnya naik ke ranjang periksa dan prosesi sunat pun dilaksanakan...sampai selesai! Gaza diam saja sambil tetap anteng main games yang ada di tablet. Suami saya mendampingi di sisinya. Sementara saya, cuma sebentar saja karena nggak kuat lihat darah. Nggak lucu kan kalau pasien sang dokter jadi bertambah satu, ibu-ibu yang pingsan karena phobia darah?

Before: pakai jins
After: piyama
"Gaza, udah selesai. Pakai celananya, yuk?" ajak saya pada Gaza yang tampaknya tidak menyadari bahwa sunatnya sudah selesai.

"Subhanallah Gaza ini kecil-kecil hebat. Nggak ada nangis sama sekali sepanjang disunat tadi. Malah sempat-sempatnya ngintip dari balik tablet dan ketawa-ketawa. Padahal saya pikir anak seumur dia akan nangis dan berontak. Makanya saya suruh Ayahnya tadi stay di sebelah dia." kata sang dokter yang menanganinya.

"Alhamdulillah Dok, padahal saya ketar-ketir." ucap saya jujur.

Setelah dibekali obat, kami pun pulang. Gaza? Dia masih ketawa-ketiwi. Tanpa ada perubahan apapun pada wajahnya. Sampai di rumah pun begitu, dia langsung lari-lari dan menghampiri sahabatnya sambil pamer 'hasil' sunatnya. Ibu saya pun ditelepon dan diberitahu perihal sunat itu. Tak lupa, Gaza menagih ayam goreng. Makannya lahap sekali.

Namun keceriaan itu berakhir saat efek bius sudah habis. 

"Huwaaaa Bundaaaa sakiiiiitt!" jerit Gaza pas lagi pipis. Dia menolak diceboki, tak mau pakai celana, bahkan tak mau keluar dari kamar mandi. Gaza nangis jerit-jerit sambil memandangi klamp yang dipasang di penisnya. Saya nggak tega. Pengen ngumpet aja di kamar dan--kalau bisa--keluar saat Gaza sudah sembuh. Tapi tentu itu tidak mungkin. Sebagai seorang Ibu, saya kan harus bin wajib mendampingi anak saya yang lagi kesakitan. Jadi saya pun berusaha sabar dan kuat mengobati Gaza dan membujuknya untuk pakai celana.

Jerit itu ternyata berulang setiap Gaza mau pipis. Kali ini bahkan dia menahan pipis sampai berjam-jam. Padahal biasanya anak itu pipis paling tidak 2 jam sekali. Saya linu banget deh ngeliatnya. Ya linu karena membayangkan pedihnya pasca sunat sama linu gara-gara nahan pipis. Itu kan sakit dan aduh ganggu banget! Meskipun setelah saya ingat-ingat, tadi dokter sudah memberitahu kalau sunat dengan metode Smart Klamp ini nggak sakit, ya hanya sepertiga sakit dari metode tradisional. Jadi kalaupun anak mengeluh sakit, biasanya hanya sugesti saja gara-gara ada alat yang terpasang di penis membuatnya tak nyaman. Tapi tetap saja saya yang nggak pernah ngerasain langsung disunat, deg-degan setengah mati. Ya, manatahu memang untuk seorang balita seusia Gaza sakitnya pasca disunat itu mirip dengan sakit pascamelahirkan seperti yang saya alami.

Keesokan harinya Mamam--Ibu saya, bikin surprise. Beliau datang bawa pasukan yaitu adik-adik dan keponakan-keponakannya, dengan menu lengkap mulai dari tumpeng sampai aneka kue. Kejutan yang bahkan saya sendiri pun nggak tahu seandainya Ayah saya nggak keceplosan ngomong saat datang pagi tadi (ya, Papap curi start datang lebih awal karena penasaran pengin lihat keadaan cucu pertamanya). Rumah mungil kami langsung penuh sesak dan ramai sekali hari itu. Namun tetap saja keramaian itu tidak membuat Gaza berhenti menangis dan jerit-jerit saat mau pipis. Ia bahkan memutuskan untuk tidak mandi dan tetap memakai piyama saat acara syukuran dadakan itu berlangsung. Saya nggak melarangnya, biar saja kalau itu membuatnya nyaman. Yang saya lakukan hanyalah bilang kalau dia boleh menangis tapi pelan-pelan saja. Karena jika terlalu keras bisa membuatnya semakin sakit. Ada kalanya Gaza menurut. Tapi lebih sering ia 'lupa' dan kembali menjerit. Jeritan yang sepertinya bisa didengar dalam radius beberapa puluh meter.

Pada hari ketiga, Gaza masih dilanda ketakutan setiap mau pipis. Teringat ucapan dokter bahwa ini lebih karena sugesti, maka saya punmencoba menanamkan sugesti positif padanya.

"Gaza, coba deh tarik nafas panjang lalu bilang nggak sakit." saran saya sambil mencontohkan.
Gaza menurut, dia tarik nafas panjang, hembuskan dan bilang, "Aduh sakiiit!"
"Oke kalau sakit, tarik nafas panjang dan bilang, Ya sakit, tapi aku kuat!"
Gaza kembali menurut. Dia tarik nafas panjang, hembuskan lalu bilang, "Adooh sakiiit dan aku nggak kuaaat!" ujarnya jujur.
"Gini deh, tarik nafas, hembuskan dan bilang. Aduh sakit, aku nggak kuat tapi aku tahan karena aku keren!"
"Adooh sakiiit, aku nggak kuat dan nggak tahaaaaaann. Bundaaaa!" jerit Gaza sesaat setelah menghembuskan nafas.
Ya, mau gimana lagi??

Hari senin 3 Februari, empat hari setelah disunat, klamp yang dipasang pada penisnya dilepas oleh dokter. Lalu apakah kalian berpikir bahwa masalah sudah tuntas? Ternyata belum, saudara-saudara...Sampai sore Gaza masih mengeluh sakit. Meski kali ini dia sudah lebih berani pipis. Tapi tetap saja belum mudah menyuruhnya mandi. Apalagi selepas mandi masih harus dipasangi perban yang sudah dioles Betadine. Gaza kembali jerit-jerit, meski sudah tidak sehisteris saat klamp-nya belum dilepas.

Baru sehari sesudahnya, 'horor' di rumah kami berakhir. Alhamdulillaah...
Tak ada lagi begadang karena jerit kesakitan Gaza. Tak ada lagi rasa linu melihatnya menahan pipis. Juga tak ada lagi tawar-menawar saat menyuruhnya mandi. Gaza sudah sembuh total. Berulangkali saya mengucap syukur pada Allah, bahwa kami sudah berhasil melewati proses sunat si sulung. Sebuah pengalaman baru dalam hidup saya. Apalagi di sini saya harus meraba-raba mengenai apa yang sebaiknya dilakukan, karena Ibu saya tak pernah membagi cerita tentang ini sama sekali (ya iya lah anak bliau perempuan semua, apanya yang mau diceritain perkara sunat??)

Semoga Gaza sehat selalu dan hidupnya penuh berkah pasca sunat.

Hmmmm....sampai ketemu lagi dengan sunatan Bilal, insya Allah. Semoga nanti tidak se-horor seperti saat ini. Aamiiin :)

5 comments:

Kania Ningsih said...

Makasih sharenya mak..saya juga be rencana sunat anak saya tahun ini..:)

Vidy said...

Waahh... selamat ya Gaza, udah sunat.. emang Gaza anak pinter... hebat.. ^__^
ALhamdulillah horornya berakhir ya buu.. aku kebayang juga tuu jadi ikut ngerasain sakit kalo anak ngerasa sakit...

Pritha Khalida said...

Mba Kania: Semoga lancar semuanya ya mak...

Vidya: Huhu iyaa, dan sunat ini kan 'pengalaman' sakit yang kita--para ibu--gak pernah ngerasain, jadi ga kebayang

Sun said...

seni-nya punya ank laki2 ya disitu... hehe...

Bidin Gadri said...

saya rasa sunat terkejam itu adalah metode smart klamp. kasihan anak anak harus menjerit jerit. sebaiknya yang belum di sunat anaknya harus berfikir satu juta kali untuk melakukan hal ini. saya dulu di sunat sama bengkong (entah apa namanya di tempat lain) tidak pernah menjerit jerit seperti anak saya yang di sunat dengan smart klamp. yang parahnya lagi, dokternya tidak pernah menjelaskan akan rasa sakit pasca di sunat ini. dokter hanya menerangkan yang enak enak saja, sudah bisa sekolah, bisa berenang, bisa bermain main, tidak sakit disunat. aaah semua nya ternyata hanya ucapan di bibir saja. setelah sunat anak saya harus menjerit jerit menderita sekali. Allahu Akbar. semoga Allah cepat menyembuhkan dari derita ini