Google+ Followers

Tuesday, April 29, 2014

TB Sembuh Total Dengan Prinsip GOOD

:
Optimis dalam proses penyembuhan TB itu Penting

Halo. apa kabar semuanya? Baik-baik saja kan? Sehaaat? Alhamdulillah kalau sehat...
Hari ini saya kembali mau ngobrolin soal penyakit TB (Tuberculosis). Baru sesi ketiga nih, belum pada bosan, kan? Belum dong, ya. Segencar pemerintah menyembuhkan penyakit ini hingga tuntas, maka seperti itu pula lah niat saya untuk membahasnya sampai tuntas. Tentu, dengan cara saya, yang santai tapi pasti.

Eh tapi meskipun ngobrol santai, alhamdulillah lho blog ini dapat kepercayaan memenangkan lomba ngeblog TB sesi kedua kemarin. Ada yang belum sempat baca postingannya? Di sini nih, baca deh, biar lebih nyambung gitu sama bahasan kali ini.

Baiklah bahasannya kita mulai ya sodara-sodara. Yuk semuanya duduk manis perhatikan ke depan. *berasa jadi Bu Guru, ixixixi*

Kali ini saya mau cerita tentang Atu, nenek suami saya yang pernah terkena TB. Usia beliau sekarang sudah 85 dan masih lincah. Jangankan perkara masak, berkebun saja masih bisa beliau lakukan dengan baik. Padahal 3 tahun yang lalu, beliau pernah terkena TB lho! 

Trus sekarang udah sembuh total? Emang bisa?
Bisa banget, dong! Nah ini buktinya. Atu beneran sembuh total. Bukan sekedar sugesti atas pernyataan dari dokter yang menanganinya tapi terbukti dari kemampuannya beraktifitas seperti sebelum beliau sakit. Bahkan bisa pergi umrah! Menurut Paman dan Bibi kami yang mendampingi beliau umrah, selama di sana nyaris tak pernah Atu ribut minta kemudahan atau bantuan dari pendamping atau jamaah lainnya.

Keren ya?
Dan lebih kerennya lagi, mertua saya sebagai salah seorang yang memiliki peran penting dalam kesembuhan Atu, mau berbagi tips bagaimana caranya mengatasi TB sampai sembuh total. Jadi, disimak baik-baik ya..

And the story goes...

Atu awalnya bingung kenapa batuknya tak kunjung sembuh, padahal sudah dua kali ke dokter dan sudah beragam obat batuk dikonsumsinya sesuai petunjuk. Jangankan membaik, beliau malah merasa kalau penyakitnya bertambah. Seringkali pada malam hari merasa panas dingin dengan badan yang nyeri. Kondisi kesehatan beliau diperburuk dengan berkurangnya nafsu makan. Hingga pada akhirnya Atu pun berobat ke Puskesmas.

Dokter yang menangani Atu langsung menganjurkan beliau untuk tes dahak dan rontgen. Saat hasil tes keluar, dokter menyatakan bahwa Atu terkena TBC. Mendengar itu, Atu sangat terpukul. TBC? Meski Atu bukanlah pengguna internet yang bisa membaca di situs ini mengenai fakta bahwa tuberkulosis merupakan pembunuh nomor satu di antara penyakit menular dan masuk dalam peringkat ketiga dalam daftar '10 Penyakit Pembunuh Tertinggi di Indonesia', namun dari cerita tetangga dan kerabat, beliau tahu bahwa TBC/TB adalah penyakit yang sangat berbahaya dan bisa mengakibatkan kematian.

"Tenang saja, Bu. Sekarang jaman udah maju, TB bisa diobati dan sembuh total, lho. Asal Ibu disiplin minum obatnya ya." demikian penjelasan dokter di Puskesmas pada Atu. Sesaat Atu pun tenang.

Selanjutnya, atas semangat dari dokter bahwa TB bisa sembuh total, Atu pun disiplin minum obat yang diberikan. Adik ipar saya yang jadi PMO (Pengawas Menelan Obat) pun tak kerepotan dibuatnya. Pasalnya Atu ini disiplin, tak perlu diingatkan. Beliau niat banget pengin sembuh. Keinginan ini diperkuat saat melihat cucu dan cicitnya. Rasa sedih karena tak bisa sering bermain dengan mereka, membuatnya ingin segera mengusir TB yang bersarang di tubuhnya. "Saya pengin cepet sembuh, biar anak cucu nggak ada yang ketularan." begitu tekad beliau.

Obat inilah yang dikonsumsi Atu selama pengobatan TB
Sumber dari sini

Selama sakit aktifitas Atu tentu saja berkurang. Namun beliau tak mau bermanja di tempat tidur atau duduk seharian. Beberapa kegiatan yang masih bisa dikerjakan sendiri, tak pernah beliau alihkan pada siapapun. Ya, Atu memang mandiri. Belakangan dokter mengatakan bahwa hal ini juga turut mempercepat penyembuhan penyakit TB. Oya, setelah didiagnosa TB, Atu juga lebih rajin membuka jendela kamarnya agar sirkulasi udara di rumah lebih baik. Padahal sebelumnya, menurut mertua saya, hanya sesekali beliau membukanya. Alasannya sederhana saja, beliau takut ada yang masuk lewat jendela tanpa sepengetahuannya. Namun ketakutan itu berhasil disingkirkan demi kesembuhan. Itu yang utama, begitu katanya.

Setiap bulan, Atu disiplin memeriksakan perkembangan kesehatannya pada dokter di Puskesmas. Sedikit demi sedikit dosis obatnya dikurangi. Dari yang awalnya 3x2 tablet perhari, perlahan menjadi 3x1 tablet perhari, sampai akhirnya ada yang 2 hari sekali. Dan alhamdulillah di bulan keenam Atu dinyatakan sembuh total.

Nah dari apa yang diungkapkan oleh mertua, maka saya coba meringkasnya untuk para pembaca blog ini. Bahwa ada 'rumus' agar bisa sembuh total dari penyakit TB, yaitu Prinsip GOOD.

Apaan tuh Prinsip GOOD?

1. Gerak
Jangan 'manjakan' penyakit. Jika masih mampu beraktifitas, seringan apapun itu, maka gerakkanlah tubuh agar tetap segar. 

2. Obat
Ini sih jelas, konsumsi obat secara teratur. Jangan pernah terlewat agar pengobatan bisa tuntas dalam 'sekali jalan'. Jika khawatir lupa, tunjuklah seorang PMO (Pengawas Menelan Obat) yang Anda percayai.

3. Optimis
Sikap positif dalam mengatasi penyakit juga dibutuhkan. Motivasi lah diri sendiri dengan harapan-harapan baik untuk sembuh. Berdoa merupakan salah satu cara terbaik agar tetap optimis.

4. Disiplin
Ya, disiplin memeriksakan perkembangan kesehatan ke dokter agar tahu sampai sejauh mana pengobatan.

Sesederhana itu kah menyembuhkan TB? Ya! Setidaknya begitu lah yang saya tangkap dari pengalaman Atu.

Namun jika Anda membaca pada poin 2 mengenai pengobatan 'sekali jalan', bisa dikatakan bahwa obat bisa dibilang merupakan poin terpenting dalam proses penyembuhan TB. Jika tidak disiplin meminum obat, maka penyakit ini akan berkembang menjadi Tuberkulosis Multi Drug Resistence (TB-MDR) yang kebal obat. Penyembuhannya bisa memakan waktu lebih lama lagi.

Apaan lagi tuh TB-MDR??

Menurut Ketua Pokja Directly Observed Treatment Short Course (DOTS) dan TB-MDR RSUP Persahabatan DR. dr. Erlina Burhan, Msc, Spp (K) (seperti dikutip dari sini), tak sedikit pasien TB yang tak menjalani pengobatan secara total. Banyak yang berhenti saat merasa kondisi tubuh sudah membaik, berat badan sudah naik dan lainnya sebelum masa pengobatan 6 bulan berakhir. Padahal kelalaian pasien akan mengakibatkan kuman Mycrobacterium Tb yang ada di dalam tubuh mereka menjadi kebal terhadap obat. Kondisi inilah yang disebut dengan istilah TB-MDR. Hal ini terjadi karena kuman tersebut tak lagi mempan terhadap obat Rifampisin dan Isoniazid, dua obat penting dalam pengobatan Tuberkulosis

Jika sudah demikian, maka diperlukan pengobatan yang lebih tinggi tingkatannya dengan obat yang lebih banyak, waktu yang lebih panjang juga efek samping yang lebih kuat. Waktu penyembuhannya bukan lagi 6 bulan melainkan 2 tahun atau sekurang-kurangnya 18 bulan. Selama waktu ini pasien TB MDR harus check up dan minum obat setiap hari kecuali sabtu dan minggu. Efek samping dari pengobatan TB MDR macam-macam mulai dari mual, muntah, vertigo dan lain-lain.

Lalu seandainya sudah terlanjur terkena TB-MDR, apakah masih ada harapan untuk sembuh?
Kesembuhan sejatinya kan ditentukan oleh Yang Maha Kuasa, ya nggak? Tapi secara medis, saya akan kutip makalah seminar TB-MDR yang ditulis oleh dr. Marifin Nawas dari PPTI (Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia), ada beberapa fase pengobatan TB-MDR, sebagai berikut:

1. Fase Pengobatan Intensif

Fase pengobatan dengan menggunakan obat injeksi (kanamisin atau kapreomisin) yang digunakan sekurang-kurangnya selama 6 bulan. Pada fase ini pasien akan menjalani rawat inap selama 2-4 minggu. Selama dirawat di rumah sakit, pasien akan diobservasi kondisinya, terutama mengenai efek samping obat terhadap tubuhnya. Pasien juga akan diberikan KIE (komunikasi, Informasi dan Edukasi) yang intensif mengenai penyakit TB dan pengobatan selanjutnya. Selanjutnya pasien bisa melanjutkan pengobatan dengan rawat jalan apabila tidak ditemukan efek samping dari obat-obatan dan sudah mengetahui cara minum obat dan pemberian suntikan sesuai dengan pedoman pengobatan TB-MDR.

Selanjutnya saat pasien sudah dibolehkan Rawat Jalan:
Selama fase intentif, baik obat injeksi maupun obat minum diberikan oleh petugas kesehatan dengan disaksikan PMO kepada pasien. Pada fase rawat jalan ini, obat oral ditelan di rumah pasien hanya pada saat libur.


2. Fase Pengobatan Lanjutan

Ini adalah fase setelah dihentikannya pengobatan injeksi. Pasien yang memilih menjalani pengobatan di RS mengambil obat setiap minggu dan berkonsultasi dengan dokter setiap 1 bulan. PMO (Pengawas Menelan Obat) sangat diperlukan untuk mendampingi pasien di fase ini.


Huffftt... Tampak ribet ya pengobatan untuk pasien TB-MDR?

Tapi tentu saja saya menuliskan ini bukan untuk menakut-nakuti, justru sebaliknya untuk menenangkan para pasien TB. 

Heh, menenangkan gimana? 
Gini lho, secara ideal semua pasien TB beserta keluarganya tentu menginginkan bisa sembuh dalam waktu 6 bulan. Tapi proses ini pastinya tak mudah untuk semua orang. Kadang ada saja kendalanya. Seperti diungkap oleh DR. dr. Erlina Burhan, Msc, Spp (K), bahwa ada banyak penyebab pengobatan TB menjadi tidak adekuat, diantaranya adalah tidak adanya pemantauan program pengobatan, persediaan obat yang terputus (penyebab dari sisi medis). Sementara dari pihak pasien yang banyak terjadi adalah kurangnya informasi, terhenti karena efek samping obat dan ketidakdisiplinan pasien terhadap program pengobatan TB tahap awal.

Sekarang udah lebih paham kan mengenai pengobatan TB ini? Yuk ah lebih aware terhadap gejala penyakit TB. Kalau sudah ada suspect, segera ajak berobat dan jalani pengobatan secara menyeluruh sampai tuntas. Ingat yang saya ungkap tadi tentang Prinsip GOOD (Gerak, Obat, Optimis dan Disiplin). Seandainya pengobatan tahap awal tidak bisa dicapai sampai sembuh, jangan khawatir, TB-MDR tetap bisa disembuhkan, dengan catatan prinsipnya jadi GOOD plus alias plus obatnya, plus sikap optimisnya, plus disiplinnya. Kecuali gerak, ini yang minus tentu saja.

Tak cukup cuma Obat
Penyembuhan TB Butuh GOOD, Gerak, Obat, Optimis, Disiplin
Sumber gambar: Makalah dr. Marifin Nawas


Oke siiip? Ayo yang sudah tahu informasi ini disebarluaskan ya.. Demi Indonesia bebas TB!

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog TB periode ke-3 bertemakan "TB Bisa Disembuhkan"


Sumber Rujukan:
www.blogtbindonesia.or.id
www.depkes.go.id
www.ppti.info

4 comments:

Adi Pradana said...

Oke sip! (Gaya wendy).
Yang namanya TB keluaaaaar....
Tutup pintu dari luar.... Luar indonesia.

Pritha Khalida said...

Dan jangan balik lagiii

ai sholihat said...

Assalamu'alaikum
Saya penderita Tbc, Dan sudah menjalani pengobatan rutin selama Dua bulan terakhir ini, Tetapi selama Dua bulan itu Saya tidak pernah checkup ke dokter sya, paling klo sekalinya datang ke puskesmas cuma di kasih obat sja tanpa pengarahan apapun, Dan tidak pernah di periksa, setelah membaca blog ibu di atas Saya jadi khawatir apakah ada kemungkinan smbuh total buat Saya krna Saya kan tidak pernah checkup rutin..
Mohon di jawabana, terimakasih 😀😊

Indri said...

mantap, keren blognya