Google+ Followers

Saturday, November 15, 2014

Tri Wahyuni Zuhri: Kekuatan Dahsyat Di Balik Rasa Nyeri Akibat Kanker Tiroid

Kanker, apa itu? Sebelumnya tak pernah sedikitpun terpikir olehku untuk mengenal penyakit ini secara mendalam. Di mataku dulu, kanker adalah suatu penyakit yang sungguh rumit. Dalam artian, bukan hanya menyita waktu dan pikiran, namun  juga menguras tenaga, biaya dan air mata. Namun pemikiran itu berubah saat Tanteku meninggal karena kanker dengan meninggalkan dua orang puteri. Ketakutan serta rasa geram mulai menghampiriku. Hingga lantas membuatku ingin ‘mengenal’ penyakit mematikan yang satu ini. Tapi baru saja ingin mengenal, ternyata sang kanker sudah lebih dulu menyapa tubuhku, tanpa pernah kusadari. 
(Tri Wahyuni Zuhri--survivor kanker tiroid, Bontang)


Aku Terkena Kanker Tiroid Stadium Lanjut

Semua ini berawal dari nyeri pinggang yang terus-menerus serta mudah terkena flu dan batuk. Jujur saja, awalnya aku sempat mengabaikan gejala-gejala ini. Apalagi kalau sudah sembuh dan bisa beraktifitas kembali, aku seolah lupa dengan semua sakit itu. Tapi lama-lama rasa nyeri serta imunitas tubuh yang menurun ini tak bisa diabaikan lagi. Apalagi jika sudah disertai dengan seringnya aku merasa lemas dan capek, plus berat badan yang menurun drastis. Aku mulai merasa sepertinya ada yang tak beres dengan kesehatanku. Maka aku pun memeriksakannya.

Hasilnya, setelah melalui serangkaian pemeriksaan laboratorium (rontgen, biopsi dan CT Scan) serta memeriksa rekam medisku, dokter memvonisku terkena penyakit carcinoma pappiler tiroid atau kanker tiroid stadium lanjut yang telah bermetase (menyebar) sampai ke tulang belakang. Saat itu juga berbagai hal langsung berkecamuk di pikiranku. Mulai dari kondisi keuangan keluarga yang tidak cukup baik (tentu semua orang tahu bahwa pengobatan penyakit kanker itu mahal), juga bagaimana dengan anak-anakku kelak? Belum lagi kondisiku yang rasanya semakin lemah, mulai dari nyeri di pinggang yang lambat laun menyebar sampai ke kaki.

Jujur saja, saat dokter mengatakan itu, aku tidak bisa menerimanya karena ini terasa sangat berat. Semangat hidupku nyaris hilang. Diagnosa ini membuat kehidupanku menjadi semakin terpuruk dan tak berdaya. Aku bingung dan nyaris putus asa. Apakah aku berlebihan? Kurasa tidak. Terkena kanker tiroid di usia 33, kurasa bukan berita baik, bagi siapapun itu.


Mengenali Kanker Tiroid Agar Dapat Mengatasinya Secara Optimal

Berdiam diri tentu bukan solusi terbaik untuk setiap masalah, termasuk mengatasi kanker. Maka setelah terbenam dalam segala perasaan dan kondisi negatif itu, aku pun memutuskan untuk bangkit dan menghadapi penyakit ini. Syukurlah masih banyak orang-orang di sekitar yang mencintai serta memberi dukungan penuh padaku mulai dari suami, orangtua, anak-anak dan teman-teman. Aku bangkit sambil menata kembali kepercayaan diri yang sempat redup. 

Langkah pertamaku adalah mengumpulkan sebanyak mungkin informasi tentang kanker, khususnya kanker tiroid. Tujuannya tentu saja untuk mengetahui tindak lanjut yang harus kulakukan mulai dari pengobatan, terapi dan pantangan yang harus kujalani. 

Berdasarkan referensi yang kubaca, tiroid merupakan kelenjar berbentuk kupu-kupu yang terletak di dasar tenggorokan. Organ berukuran kecil ini sangat berperan dalam menghasilkan hormon untuk mengatur berbagai aspek metabolisme tubuh, mengendalikan tekanan darah, suhu tubuh, berat tubuh, dan detak jantung. Apabila tiroid normal, maka ia akan berkerja dengan baik. Namun apabila tiroid tidak normal atau bermasalah, otomatis akan menghambat kinerjanya dalam tubuh manusia. Kanker tiroid dapat terjadi tanpa mengenal umur, walaupun lebih banyak menjadi sasaran adalah usia di atas 30 tahun. Ada beberapa gejala dari kanker tiroid antara lain: munculnya benjolan di leher atau pangkal leher, merasakan nyeri di tenggorokan atau leher, suara serak yang tidak kunjung sembuh, sakit tenggorokan atau kesulitan menelan. Gejala berupa benjolan di leher inilah yang awalnya kuabaikan karena tidak terasa nyeri.

Ada beberapa tes tiroid yang biasa dilakukan untuk mendeteksi adanya kanker. Antara lain dengan USG diagnosis atau tes tiroid lainnya dengan menggunakan alat khusus. Waktu itu aku menggunakan GAMA SPECT di RS MRCCC Siloam. Alat ini untuk mengetahui bagaimana kondisi kanker tiroid serta mengecek penyebaran kanker tiroid di leher ataupun di daerah organ tubuh lainnya. Cara lain bisa juga dengan Biopsi, yaitu dengan menggunakan jarum halus untuk menganalisis tumor yang di temukan dalam kelenjar tiroid tersebut termasuk jinak ataukah ganas. 

Setelah diketahui secara pasti jenis kanker tiroid tersebut, maka biasanya dokter akan melakukan pengobatan lanjutan. Langkah yang biasanya diambil yaitu dengan melakukan operasi pengangkatan benjolan tiroid tersebut. Selanjutnya akan di lakukan terapi kanker tiroid. Metode yang sekarang kerap di gunakan yaitu menggunakan radiasi nuklir. Sayangnya tidak semua pasien kanker tiroid mau diobati pakai radiasi nuklir. Penyebabnya macam-macam, kebanyakan karena sudah ngeri duluan mendengar kata ‘radiasi nuklir Iodine 131’. Penyebab lainnya bisa pula masalah biaya, dan hanya rumah sakit tertentu yang menyediakan fasilitas radiasi nuklir atau yg sering disebut radiasi Internal Ablasi ini

Tak hanya melalui buku, majalah dan internet, aku pun menghubungi dan bahkan mendatangi lembaga serta komunitas-komunitas peduli kanker, untuk berbagi dengan para pasien kanker sepertiku. Beberapa lembaga/komunitas yang kutahu adalah YKI (Yayasan Kanker Indonesia) dan CISC (Cancer Information and Support Center). Bagiku cara ini ampuh, paling tidaknya untuk meyakinkan diri bahwa aku tak sendiri menjalani ini.


Perjalanan Panjang Pengobatanku

Pada Februari 2013 dengan ditemani oleh suami, aku berangkat ke Bandung menuju RS Hasan Sadikin untuk mencari informasi yang lebih lengkap mengenai pengobatan kanker tiroid menggunakan radiasi nuklir. Ini merupakan perjalanan jauh pertama yang kutempuh berdua suami setelah divonis kanker. Tentu tak seperti perjalanan-perjalanan kami sebelumnya yang penuh rasa nyaman dan bebas, karena dalam perjalanan ini aku harus mengenakan korset khusus penyangga tulang belakang. Ini wajib dikenakan, karena bukan hanya untuk menyangga, korset ini juga berfungsi mencegah kerusakan lebih parah pada tulang belakangku yang acapkali terasa nyeri.

Di Bandung, aku bertemu dengan Prof. Mansyur, yang merupakan pencetus kedokteran nuklir pertama di Indonesia. Tak hanya beliau, aku juga berkonsultasi dengan para ahli di bidang kedokteran nuklir lainnya. Hingga akhirnya di pertengahan Februari aku pun menjalani operasi pengangkatan kanker tiroid. 

Sebetulnya pada tahun 2006 aku sudah pernah menjalani operasi tiroid. Hanya bedanya pada saat itu belum ditemukan adanya kanker. Dokter bedah yang menangani operasiku mengatakan bahwa itu cuma benjolan jinak. Karena merasa aman dengan istilah ‘jinak’, maka pasca operasi aku tak pernah lagi memeriksakan diri. Tak kusangka bahwa ini bisa menjadi cikal bakal penyakitku sekarang.

Sebulan kemudian, aku memasuki fase penyembuhan operasi tiroid sekaligus menunggu masa antrian radiasi nuklir di RS Hasan Sadikin Bandung. Namaku tercatat untuk pengobatan di bulan Juni 2013. Di sinilah aku baru merasakan bagaimana sakit yang diakibatkan oleh kanker, atau yang sering disebut cancer pain. Selain tubuh yang lemas dan mudah capek, aku juga merasa sangat kesulitan untuk duduk berdiri. Kurasakan nyeri yang amat sangat pada beberapa titik di paha dan pinggang. Sungguh ini suatu kondisi yang sangat tidak menyenangkan. Aku merasa sangat tak berdaya. Bahkan untuk makan pun aku lakukan di tempat tidur. 

Saat itu ada dua dokter spesialis yang menangani penyakitku, yaitu dokter spesialis tulang dan dokter onkologi. Oleh dokter tulang, aku diberi obat minum untuk penguat tulang sekaligus vitamin tulang. Obat itu diminum satu jam sebelum sarapan. Minum obat buatku bukan suatu masalah, namun khusus obat tulang ini aku mengalami sedikit kesulitan. Pasalnya agar obat bekerja dengan baik, harus diminum dalam keadaan duduk atau berdiri. Sungguh ini sangat menyiksaku. Mencoba duduk dalam waktu 10 menit saja rasanya sakit sekali. Namun keinginan sembuh yang demikian besar, membuatku memaksakan diri untuk duduk walaupun tidak benar-benar selama 1 jam, seperti anjuran dokter.

Tak sampai dua bulan sejak operasi kanker tiroidku, benjolan tiroid muncul lagi. Meski kali ini ukurannya tak sebesar sebelumnya, tapi belajar dari pengalaman sebelumnya, aku tak mau ‘kecolongan’ lagi. Segera saja aku memeriksakannya ke dokter onkologi. Dokter menjelaskan bahwa ini kemungkinan besar masih bisa hilang oleh radiasi nuklir. Perasaanku sedikit tenang. Aku pun bersabar menunggu pengobatan radiasi nuklir yang dijadwalkan Juni. Sambil menunggu proses pengobatan itu, aku masih tetap belajar duduk dan berdiri. Aku juga menulis untuk mengisi waktu. Meski kadang hanya bisa kulakukan di ponsel, dan dipindahkan ke laptop saat kesehatanku membaik. Kegiatan menulis ini ternyata tak sia-sia. Beberapa tulisanku dimuat di media cetak dan satu tulisanku dalam bentuk antologi kisah terbit dalam jangka waktu tersebut.

Tapi kondisi kesehatan yang membaik tak sejalan dengan kondisi tiroid. Benjolan tiroid yang dikatakan akan hilang oleh radiasi nuklir itu ternyata membesar. Aku kembali panik. Jadi kuhubungi saja RS Hasan Sadikin. Menurut dokter di sana, sebaiknya aku menghubungi dokter onkologiku dahulu, karena tak mungkin dilakukan pengobatan radiasi nuklir jika masih ada benjolan yang cukup besar. Maka aku pun kembali ke dokter onkologi. Akhirnya diputuskan bahwa aku memang harus mengulang operasi kanker tiroid, karena katanya kanker tiroid di dalam tubuhku tergolong agresif. Dan ini sungguh membuatku down. 

Syukurlah operasi tak harus dilakukan segera, jadi aku masih punya waktu untuk berpikir dan tanya sana-sini mengenai kelanjutan pengobatan pasca operasi kelak. Aku mencari info mengenai pengobatan radiasi nuklir selain di RS Hasan Sadikin Bandung. Karena berdasarkan keterangan dari dokter onkologi, radiasi nuklir bisa dilakukan paling cepat sebulan setelah operasi tiroid, yang mana operasi tiroid-nya saja kurencanakan setelah Idul Fitri (sekitar Agustus 2013). 

Rencana manusia rupanya tak selalu sejalan dengan rencana-Nya. Di bulan Juli kondisi fisikku memburuk. Tulang belakang bertambah nyeri. Ini tak hanya berpengaruh terhadap duduk dan berdiri. Bahkan tidurku pun jadi tak nyenyak. Seluruh tubuhku terasa sakit, nyeri dan pegal bercampur jadi satu. Di area kaki khususnya paha, aku merasa seperti kesetrum.

Hingga akhirnya di penghujung bulan Ramadhan, suami dan orang tuaku terpaksa membawa saya ke rumah sakit akibat sesak nafas. Pengecekan laboratorim, CT Scan dan rontgen paru-paru, menyimpulkan bahwa benjolan tiroid di leherku harus segera diangkat. Kabar baiknya, kondisi paru-paruku saat itu dalam kondisi stabil. Rupanya sesak nafas yang kualami ternyataberasal dari penyakit asthma yang tak kusadari. Di sini lah untuk pertama kalinya aku diberi infus penguat tulang Bondronate. Aku pun akhirnya menjalani operasi kembali di tanggal 28 Agustus 2013. 

Setelah menjalani masa pemulihan pasca operasi selama sebulan disertai dengan konsultasi ke dokter onkologi dan dokter saraf secara kontinyu (plus mendapatkan suntikan penguat tulang Bondronate kedua), pada bulan Oktober selama 4 hari 3 malam aku menjalani isolasi di ruang isolasi radiasi nuklir di MRCCC Siloam. Fase yang sangat tidak mengenakkan tentu saja. Syukurnya aku bertemu dengan teman sesama penderita kanker yang juga akan menjalani pengobatan radiasi nuklir, jadi fase itu bisa kami lewati bersama dengan berbagi satu sama lain.

Pasca pengobatan radiasi nuklir, kondisiku membaik. Aku kembali menulis. Betapa senangnya mengetahui bahwa kisahku melawan kanker tiroid ini dimuat secara berkala di sebuah tabloid. Aku pun semakin giat menulis. Tahun 2013 kututup dengan menginapnya aku di ruang Kemoterapi RS. AW Syahrani Samarinda guna mendapatkan infus penguat tulang Bondronate yang ketiga.


Aku Menjadi Lebih Peduli Pada Kesehatan

Sejak divonis kanker tiroid beberapa waktu silam, aku menjadi lebih peduli pada kesehatan, terutama lebih peka menangkap sinyal-sinyal yang diberikan tubuh. Salah satu langkah kongkrit kepedulianku adalah memutuskan untuk melakukan papsmear di dokter kandungan. Langkah yang sebetulnya sempat dicegah oleh ibuku karena khawatir jika hasil tes kurang baik. Urusan kanker tiroid saja belum selesai, bagaimana jika ternyata tes papsmear-ku menunjukkan adanya penyakit lain sperti kanker serviks misalnya. 

Tapi aku tidak langsung mundur. Kujelaskan pada Ibu bahwa ini justru baik jika dilakukan di awal. Tujuannya tentu saja sebagai deteksi dini pencegahan kanker serviks (kanker mulut rahim), yang merupakan penyakit kanker mematikan bagi kaum perempuan selain kanker payudara. Yang mana belakangan aku baru tahu bahwa di Indonesia ternyata tidak banyak perempuan yang paham mengenai tes kesehatan yang satu ini. Padahal tes papsmear ini dianjurkan dilakukan minimal 2 tahun sekali pada perempuan yang sudah menikah. Dari tes ini kita bisa mengetahui apakah adanya virus Human Papilloma (HPV) yang bisa berpotensi menjadi sel kanker serviks. Dan syukurlah hasil tes papsmear-ku baik-baik saja, dalam artian tak ada penyakit lain yang terdeteksi.


Semangat Dari Balik Ruang Kemoterapi

Sebagaimana para survivor kanker pada umumnya, aku juga akrab dengan kemoterapi. Menurutku selalu ada kisah yang mengesankan setiap berada di ruangan kemo, yang membuatku merasa mendapatkan suntikan semangat yang luar biasa dari teman-teman sesame survivor kanker. Berikut akan kubagi beberapa kisah inspiratif yang kudengar di dalam ruang kemoterapi.

Kisah pertama mengenai seorang nenek yang melewati 6 kali kemo setelah operasi pengangkatan rahimnya. Pertemuan kami kali ini merupakan pertemuan yang kedua, setelah bulan sebelumnya kami berobat yang sama pula di ruangan ini. Tak ada rasa sedih yang terpancar dari wajah nenek itu. Beliau malah menjalani sesi kemoterapinya dengan tenang. Padahal tidak terhitung banyaknya cairan infus yang masuk dalam tubuhnya. Posisi ranjang kami yang bersebelahan, memungkinkan kami untuk berbagi cerita. Nenek tersebut memiliki 4 orang anak, dimana 3 anak laki laki dan 1 orang perempuan. Jujur saja, saya kagum pada anak-anak beliau yang bergantian dengan sang Ayah menunggui Ibu mereka. Ini membuatku sangat terharu.

Kisah kedua adalah seorang ibu yang ranjangnya berada tepat di hadapanku. Ibu tersebut berasal dari kota yang sama denganku yaitu Bontang (Oya selama pengobatan di Samarinda, aku tinggal di rumah orangtuaku). Persamaan tersebut membuat obrolan di antara kami di tengah sesi kemoterapi menjadi seru. Sungguh luar biasa saat aku tahu bahwa beliau datang ke Samarinda dari Bontang hanya sendirian, dengan menggunakan bus pula. Setelah itu beliau langsung mengurus sendiri berkas di rumah sakit untuk persiapan kemo. Selesai menjalankan kemo selama dua hari, beliau pun kembali ke Bontang dengan menaiki bus terakhir.

Dan kisah terakhir yang ingin kubagi adalah mengenai seorang anak berusia 2 tahunan. Di usianya yang masih sangat belia, anak itu telah menjalani sesi kemo selama belasan kali. Tentu saja tanpa mengecilkan peran sang Ibu yang merupakan salah satu sumber kekuatan terbesar  si anak, menurutku ini sungguh luar biasa, di usia sekecil itu dia mampu menguatkan diri menerima entah berapa banyak botol infus. Terkadang, saat sang ibu harus keluar mencari makanan atau sholat, si anak dengan tenang tetap menunggu di atas ranjang.

Sebetulnya masih banyak kisah yang mengharukan sekaligus inspiratif dari teman-teman sesama survivor kanker yang kukenal, namun tentu tak mungkin kuceritakan semua di sini. Yang jelas, untukku pribadi semua kisah itu bisa menumbuhkan semangat yang luar biasa untuk tetap bertahan atas rasa sakit, bertahan menjalani hidup tanpa banyak mengeluh dan juga tetap memiliki harapan positif untuk sembuh.   


Anak-Anak Jadi Motivasi Terbesar Untuk Sembuh

Jujur saja, motivasi terbesarku untuk sembuh memang anak-anak. Aku ingin melihat ketiga anakku—Arya, Luthfi dan Raisyah tumbuh besar. Terutama si bungsu Raisyah, rasanya ingin sekali menemaninya melewati berbagai fase kehidupan mulai dari saat kanak-kanak seperti ini, remaja, hingga kelak ia dewasa. Tidak, bukan karena aku menganggap bahwa gadis kecilku adalah makhluk yang lemah. Raisyah justru sangat kuat dan tegar. Seringkali kulihat ia bersikap sangat dewasa. Aku ingat betul ketika ia menjengukku ke Rumah Sakit saat aku menjalani operasi, dibawanya boneka Hello Kitty besar kesayangannya. Kupikir ia membawanya karena tak ingin meninggalkannya di rumah, tapi ternyata bukan itu alasannya. Rupanya ia membawanya untuk diletakkan di sampingku sambil menegaskan bahwa boneka itu akan menjadi teman yang mendampingiku sampai sembuh. “Ya, Mama pasti sembuh!” ucapnya dengan mimik lucu khas anak-anak yang membuatku sangat terharu. 

Tapi mau seperti apa pun sikap ‘dewasa’ nya, puteriku tetaplah seorang gadis kecil yang baru duduk di bangku TK. Adakalanya ia pun ingin agar aku bisa menemaninya beraktifitas seperti ibu teman-temannya yang lain, paling tidaknya mengantar dan menjemputnya ke sekolah. Di sini kadang aku merasa bersalah. Pasalnya, tentu saja aku tak bisa seperti ibu-ibu lainnya yang sehat, sehingga bisa menemani anak-anaknya beraktifitas. Pernah suatu kali aku memaksakan diri mendampingi Raisyah saat sekolahnya mengadakan kunjungan ke sebuah toko buku. Semua anak, orangtua dan guru sangat ceria dan bergembira pada hari itu. Hanya aku yang tak berdaya. Susah payah aku menaiki tangga sampai ke lantai dua pusat perbelanjaan di mana toko buku itu berada. Pada saat itu, rasa marah sempat menghantuiku. Aku mengutuk kanker yang menggerogoti tubuhku, hingga mencuri waktu-waktu yang seharusnya bisa kucurahkan untuk puteri kecilku.

Lebih dari itu terkadang aku pun menunjukkan perilaku yang berkebalikan pada Raisyah. Sesekali aku mengacuhkan Raisyah. Aku tidak sering menunjukkan ekspresi sayang padanya sebagaimana banyak dilakukan orangtua pada umumnya misalnya dengan memeluk atau memanjanya. Padahal jangan tanya, tentu dari dasar hatiku, ingin sekali aku melakukannya. Ini kulakukan agar kelak jika aku harus pergi lebih dulu karena kanker, Raisyah tak terlalu tenggelam dalam kesedihan. Dia bisa menjadi gadis yang kuat dan mandiri.


Aku Menjadi Trainer Dan Motivator Seputar Kanker

Menjalani hidup sebagai survivor kanker bagiku tak mudah. Tapi ketimbang mengeluh apalagi mengutuki keadaan, aku memilih untuk bangkit menghadapinya dengan penuh semangat dan bersikap positif dengan menjadi trainer dan motivator seputar kanker untuk orang-orang di sekitarku. Langkah ini kupilih karena berdasarkan pengalaman, aku melihat bahwa tak banyak masyarakat yang paham mengenai penyakit ini. Oke lah kanker sudah ‘punya nama’ sebagai penyakit mematikan di benak sebagian besar orang, tapi selain itu mereka biasanya tak tahu seperti apa dan bagaimana kanker itu. Jadi aku mencoba mengkampanyekan tentang kanker, mulai dari cara pencegahannya (salah satunya melalui tes papsmear—untuk deteksi dini kanker serviks atau mammografi untuk deteksi kanker payudara). Aku mencoba mengedukasi masyarakat untuk lebih peduli terhadap kesehatan dan peka terhadap gejala-gejala yang ditunjukkan oleh tubuh, contohnya jika ada benjolan di leher ya jangan diabaikan. 

Kadang ada saja yang mengatakan bahwa ini tabu untuk dibicarakan secara terbuka atau menganggapku terlalu paranoid dan hendak menakut-nakuti. Tapi aku tak ambil pusing. Biar saja apapun anggapan orang, yang jelas niatku tulus ingin berbagi, khususnya yang berkaitan dengan pencegahan. Maksudku, kalau sudah dicek ternyata hasilnya bagus, ya syukur. Tapi jika ternyata ditemukan gejala kanker, setidaknya bisa diantisipasi dari awal. Biaya tidak terlalu mahal dan masih kuat secara mental dan fisik. Lain halnya kalau sudah divonis stadium lanjut sepertiku. Selain harus menata hati, emosi, fisik, termasuk bertempur dengan rasa sakit setiap saat. Kanker bukan ditakuti, tapi malah harus diketahui agar bisa di deteksi sejak dini.

Selain pencegahan, aku juga mengedukasi masyarakat mengenai mitos-mitos seputar kanker dan memberikan solusi jika memang ada yang didiagnosa terkena penyakit yang satu ini. Yang terpenting selalu kusampaikan adalah jangan panik dan langsung merasa bahwa semua akan ‘hancur’ pasca divonis kanker. Cobalah untuk tetap tenang sambil mencari tahu penyebab, pengobatan dan yang paling penting, jujurlah tentang penyakit ini dan bicarakan dengan orang lain untuk mendapatkan dukungan agar menguatkan. Seperti kubilang sebelumnya, bahwa pasien kanker bisa menghubungi lembaga-lembaga yang peduli terhadap kanker seperti CSIS atau YKI. Bertemu dengan sesame survivor kanker—berdasarkan pengalamanku, sangat bisa meningkatkan rasa percaya diri serta semangat untuk terus bertahan dan mengupayakan kesembuhan.

Dukungan untuk seorang survivor kanker tentu bukan cuma dalam bentuk moril, materi pun pastinya diperlukan, bahkan tidak sedikit. Kanker memang penyakit mahal. Tapi apakah harus menyerah jika tidak memiliki cukup uang untuk berobat? Tentu tidak! Kita bisa memanfaatkan fasilitas kesehatan secara maksimal. Contohnya Jamkesda, Jamkesmas, Askes atau Jamsostek yang sekarang dinaungi lembaga BPJS. Memang tidak semua pengobatan kanker ditanggung, namun keberadaan fasilitas kesehatan ini amat membantu penghematan biaya pengobatan kanker. Jadi tak ada salahnya menggali informasi mengenai fasilitas kesehatan ini. Aku pun selama ini dibantu oleh fasilitas Jamkesda yang diberikan oleh Pemerintah Kota Bontang. 


Hikmah Terkena Kanker

Beberapa waktu yang lalu ada yang bertanya padaku, apakah aku masih menulis dalam kondisi seperti sakit seperti ini? Sambil tersenyum kujawab bahwa ya aku masih menulis hingga saat ini. Aku menulis di blog, facebook dan media cetak. Aku memang tidak mengatakan bahwa kondisi kesehatanku cukup kuat untuk duduk berlama lama depan komputer, atau bisa jalan kemana saja yang kumau. Karena memang sampai saat ini aku masih harus melakukan serangkaian pengobatan yang cukup menguras tenaga dan energi. 

Ya, setidaknya tak ada yang menghalangiku untuk melakukan aktifitas menulis sambil berbaring atau duduk menyandar di ranjang dengan ponsel atau sesekali membuka laptop. Semua tetap kulakukan dengan senang hati dan rasa bahagia. Aku merasa justru setelah didiagnosa kanker inilah aku lebih produktif menulis. Kalau dulu aku tak produktif menulis, karena ada saja alasannya dengan beragam aktifitas sehari-hari.

Bagiku saat ini, menulis adalah salah satu kebahagiaan yang membuatku merasa lebih berarti. Menulis terasa jadi sebuah terapi jiwa saat aku merasa lelah, sedih, bahkan saat bahagia di tengah kondisi yang kurang nyaman ini. Berkat menulis aku bertemu dengan banyak sahabat yang saling memberi arti dalam hidup kami masing-masing.

Terkadang saat berada dalam kondisi ‘down’ aku berpikir bahwa kanker ini bisa saja terus menerus mencoba menggerogotiku secara fisik dan mental. Tapi tidak demikian dengan semangat dan pikiranku. Aku tetap bersyukur dengan kondisi saat ini, karena bagaimanapun ini bagian dari rencana-Nya. 

Pernah kubaca kalimat singkat yang di-share di grup almamaterku, yaitu “Tuhan tidak pernah terlambat, Dia juga tidak tergesa-gesa. Dia selalu tepat waktu!”
Ya, aku setuju dengan itu. Sakit yang kurasakan kini, aku yakin sudah ditakar waktunya dengan sangat sempurna oleh Sang Maha Pemberi Kehidupan.

13 comments:

Agustinadian Susanti said...

Luar biasa semangat mbak Yuni.. saya salut meski beliau sakit tapi tetap semangat menulis.. semoga mbak Yuni lekas sembuh ya.

sri mulyani said...

Tetap produktif menulis ya Mbak..sukses buat Mbak sayang:)

Pritha Khalida said...

Mak Susan: Apalagi saya yang nulis langsung, gemetar...salut banget sama Mba Yuni, tegar..

Mba Sri Mulyani: Aamiin doakan ya. Sukses juga untuk Mba Sri :)

Sri Kuswayati said...

Mbak Yuni selalu semngat dan berpikiran positif.. Insha Alloh sehat daj sembuh kembali ..Aamiin Y Rabb..

Tri Wahyuni Zuhri said...

Terima kasih mba Pritha yang menuliskan tentang saya. SemogaAllah membalas kebaikan mba. Am inn..

Untuk teman teman, terima kasih at as doa dan semangatnya :)

Hendra Susanto said...

Sangat....Sangat Positip Dan Tuhan Yg Maha Pemurah Pasti Memberikan Extra Usia Dan Juga Kesembuhan untuk Mbak Yuni.......Blessed be The Name of The Lord

Anonymous said...

Yth. Mbak Yuni,

kami infokan di jogja ada Pusat Kajian Kesehatan ISITEKS, di Mushola dekat kebun, ada terapi Nuklir GRATIS untuk penyakit kanker dan virus...

silakan bisa di cek di imogiri, namanya ISITEKS.

kalo yg bayar harus dengan membawa surat rujukan dokter ditujukan ke Pusat Kajian Kesehatan ISITEKS, imogir, Yoyakarta, di rumahnya yg dekat terminal imogiri.

Semoga membantu.

http://www.tokohindonesia.com/biografi/article/286-direktori/1469-penemu-biochip-kedokteran

https://terapinuklir.wordpress.com/

http://dikasistrandari.blogspot.com/




dewi wahyuni said...

Apa kabarnya mba Yuni ....
Saya baru saja sebulan ini hasil USG menjurus ke Kanker Tiroid ...
down banget mba ... katanya harus operasi unt memperjelas apakah benar itu kanker ....
aduh salut banget dengan perjuangannya mba yuni ... saya bisa ga ya seperti itu .....

Windi Sulistianingsih said...

Salut sekali sama mba, saya juga penderita kanker tiroid jenis papillary carsinoma, dokter pun sedikit heran sebab di usia saya yg skg hanya sedikit yang terkena kanker jenis ini. Skg saya cuma bs pasrah saja terhadap keadaan.

Windi Sulistianingsih said...

Salut sekali sama mba, saya juga penderita kanker tiroid jenis papillary carsinoma, dokter pun sedikit heran sebab di usia saya yg skg hanya sedikit yang terkena kanker jenis ini. Skg saya cuma bs pasrah saja terhadap keadaan.

FGroup Indonesia said...


http://fgroupindonesia.com/pelayanan/ujian-sertifikasi
https://youtu.be/-SQTKyNtiAk

Deskripsi:
Dalam dunia kerja setiap orang dituntut untuk memiliki keahlian yang pantas dan sesuai bagi suatu perusahaan. Dalam prosesnya setiap calon pekerja hendaknya mempersiapkan berbagai macam keahlian dengan target timing yang telah diperkirakan. Sehingga pada saat pembukaan pendaftaran lowongan kerja, baik itu secara massal (job fair), expo, maupun non-masal kesempatan untuk apply kerja dapat dengan segera terpenuhi secara langsung.
Kompetensi masing-masing calon pekerja menunjukkan kadar kemampuan yang akan menentukan suatu posisi dalam jenjang karir produktif.

Untuk itu, dalam memenuhi keadaan tersebut, telah tersedia Ujian Sertifikasi Aplikasi Perkantoran yang membantu anda dalam :

1) Bukti memiliki keterampilan skills komputer
2) Proses aplikasi penerimaan lowongan kerja
3) Hemat waktu dan ongkos total
4) Ujian Sertifikasi Online (akses dari berbagai lokasi)
5) Hasil Ujian Sertifkasi sehari sesudah dapat diambil

Beberapa pilihan materi Ujian Sertifikasi yang telah terdata hingga kini diantaranya:
1) Ms. Office (sepaket dengan Ms. Office, Word, Excel, Power Point dan Windows)
2) Pemprograman Java, VB.NET, dan Database Mysql
3) Desain Web (Php, CSS based)
4) Desain Grafis (Coreldraw, Photoshop)

Prasyarat:
a. Mendaftar sebelum penentuan jadwal pelaksanaan.
b. Memilih metode pelaksanaan (online / offline -ditempat).
c. Memilih tipe ujian sertifikasi (lokal -indonesia / internasional -bahasa inggris).
c. Submit foto warna 3x4 (2lbr), 2x3 (2lbr).
d. Melengkapi kelengkapan administrasi diawal

Address:
FGroupIndonesia.com
Jl. Parahyangan no.18,
Komp. panghegar permai I,
Ujung Berung, 40614 Jawa Barat,
Bandung, Indonesia.

Contact:
Astri. SMS.WA 085795569337 / 085721261437
BBM. 7CD59179 / 7DF95683


FB : https://www.facebook.com/fgroupindonesia/
Twitter : http://twitter.com/fgroupindonesia
Google Plus : https://plus.google.com/114414655045459603522/posts

sari kemala said...

Mbak, kalau boleh saya tau berapa ya biaya kemoterapi di rs hasan sadikin? Terima kasih

elvita rahmi said...

Salam kenal mbak yuni.. saya vita dr cikampak labuhanbatu selatan sumut.. saya hg di vonis kena kanker pillari karsinoma tiroid stadium 3.. sudah operasi. Cuma yg buat saya agak tidak nyaman tubuh saya ini suka seperti kesetrum. Sakit sekali. Lg tidur hg bisa terjadi. Kalu ada tekanan atau aktifitas menahan gitu. Dr leher sampai kaki mau terjadi.. apa ya mbak penyebab nya..