Google+ Followers

Tuesday, December 2, 2014

Resensi Buku 'Bahagia Ketika Ikhlas', Saat Bahagia, Ikhlas dan Sukses Berjalan Berdampingan

Bahagia Ketika Ikhlas karya Rena Puspa
Ibu dari 3 anak yang kini menatap di Malaysia

Menjadi ibu adalah profesi yang disandang sepanjang hidup, dimana tidak dikenal kata pensiun. Dari awal hamil, melahirkan, menyusui lalu merawat hingga si anak besar pun, profesi itu akan terus melekat. Dalam menjalani profesi ini, seorang ibu harus terus mau belajar. Karena dengan sebegitu banyak amanah di dalamnya yang diiringi dengan zaman yang terus berkembang, maka tantangan dalam menjalaninya pun makin beragam. (Bahagia Ketika Ikhlas, halaman 2)

Menggambarkan betapa hebatnya profesi menjadi seorang ibu dengan tantangan yang harus dihadapinya tanpa mengenal batas waktu dan tempat, paragraf di atas sungguh teramat pas mengisi halaman awal buku ini. Dengan sub judul ‘Merasa Bahagia Ketika Hati Ikhlas dalam Menjalankan Tugas Sebagai Ibu’, tentu menyenangkan bagi pembaca—yang saya rasa akan didominasi oleh kaum perempuan ini, mendapat sebuah pengakuan dan pengertian atas eksistensinya sebagai ibu. Ini tak pelak memancing rasa bahagia dan penasaran untuk ‘mengunyah’ buku sampai bagian akhir.

Mengapa harus subjek Ibu yang diambil untuk disandingkan dengan kata Bahagia dan Ikhlas?

Dalam buku yang didominasi oleh warna pink hingga ke bagian isinya ini, disebutkan bahwa potensi kecemasan seorang perempuan ternyata makin berkembang pesat ketika dia menyandang titel sebagai seorang ibu. Hadirnya anak membuatnya terus berpikir banyak hal tentang masa depan serta kemampuannya memelihara anaknya dengan baik. Potensi kecemasan yang tidak dikelola dengan optimal bisa memicu stress. Penulis berpendapat bahwa keikhlasan merupakan faktor utama dalam meminimalisir stress sekaligus sebagai sumber kebahagiaan.

Pada bab 2 penulis memaparkan faktor apa saja yang menjadi ‘Penyebab Stres Hormonal Pada Ibu’, yaitu Kehamilan serta Proses Pasca Melahirkan dan Menyusui. Pembahasan serta tips yang diberikannya tak hanya bersifat teoritis—yang biasanya ‘too good too be true’ untuk dijalani oleh seorang ibu, namun juga berdasarkan pengalaman yang sudah dijalaninya.

Saat ini seringkali ada ‘pengkotak-kotakkan’ ibu berdasarkan pekerjaannya atau pemilihan metode pengasuhannya. Apakah buku ini berlaku untuk semua ibu?

Dalam buku setebal 186 halaman ini penulis membahas mengenai kelebihan dan kekurangan para ibu ditinjau dari aktifitasnya sehari-hari, yaitu working mom, full time mom dan working at home mom. Ah, jangan dulu berburuk sangka. Pembagian ini tidak dimaksudkan untuk underestimate terhadap salah satu atau dua aktifitas, namun lebih kepada untuk memberi pembahasan detail serta solusi yang memungkinkan untuk dijalani oleh masing-masing ibu dengan aktifitasnya yang beragam tersebut, sehingga lebih tepat sasaran. Misalnya seorang working mom disarankan untuk tidak selalu merasa bersalah karena meninggalkan anak disertai berbagai tips. Sebaliknya seorang full time mom disarankan agar bisa membatasi diri dari ‘pergerakan’ yang seolah tiada habisnya dalam hal mengurus pekerjaan domestik.

Apa pentingnya jika seorang ibu yang bahagia?

Ada sebuah quote manis yang dikutip oleh penulis dalam buku ini, yaitu “Jika kamu ingin anak-anakmu dicintai oleh isterimu, maka cintailah isterimu dengan sepenuh hati. Maka dia akan mencintai anak-anakmu dengan sepenuh hati.” (halaman 59).

Ibu bahagia—yang salah satu sumber kebahagiaannya adalah merasa dicintai dan didukung oleh suami, akan mengeluarkan potensi terbaiknya sebagai ibu, khususnya dalam merawat buah hatinya. Hal ini dibahas oleh penulis dalam bab 3. Bagaimana tips menghangatkan hubungan dengan pasangan dan membuat pekerjaan domestik agar tak lagi terlihat seperti ‘monster’ yang menghantui setiap saat, juga dibahas di bab ini dengan detail. Bahkan hal yang tampak sepele seperti tips menyetrika yang efektif agar tak menyita waktu kebersamaan dengan anak dan suami serta tetap menyisakan me-time pun dituliskan di bab ini.

Lalu bagaimana konsep inti—yaitu menjadi Ikhlas dijelaskan dalam buku ini?

Ini yang tampak unik. Jika pada umumnya konsep inti dari sebuah buku dijabarkan di bab awal, di sini penulis membahasnya justru menjelang bagian akhir. Setelah di bab-bab awal menggambarkan mengenai profesi sebagai ibu, tantangan serta sumber-sumber kebahagiaan yang mungkin dicapai secara mendetail, menjelang akhir baru pembaca ‘disuguhi’ dengan topik inti yaitu keihlasan. Diawali dengan menjelaskan definisi Ikhlas serta aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari sebagai seorang ibu, dimana penulis mengadopsinya dari konsep general ‘Quantum Ikhlas’. Selanjutnya juga dibahas bagaimana caranya menjadikan Ikhlas tak hanya sebagai ‘lip service’ atau membesarkan hati di tengah berbagai kekecewaan, hingga bagaimana membuat seorang ibu untuk bisa terus menerus terkoneksi dengan Sang Pencipta—guna menjaga keikhlasan agar tak kehilangan makna.
Ikhlas—Sukses—Bahagia, bisakah bersanding tanpa ada yang dikorbankan?

…Agar kita tak kehilangan rasa bahagia dalam meniti proses sukses, lakukan tahap-tahap menuju sukses itu dengan irama yang lembut, penuh spasi dan jeda… (halaman 163)

Begitu sepintas tips yang diberikan oleh penulis menjelang halaman terakhir. Anda bisa membaca lebih lengkap saran serta pernak-pernik lainnya yang dibutuhkan dalam menjalani kehidupan sebagai seorang ibu agar bisa sukses meraih tujuan hidup sambil tetap menjaga agar hati ikhlas dan bahagia. 

Jika Anda masih merasa bahwa ketiga hal di atas merupakan konsep yang mengawang-awang, silakan baca buku yang berkonsep ‘separuh diary’ ini. Dikatakan demikian, karena selain menceritakan pengalaman pribadi dan rekan-rekannya yang inspiratif, penulis juga tetap mengutamakan objektifitas tulisan melalui berbagai referensi yang kuat.

Buku yang diterbitkan oleh Elex Media Komputindo ini tak hanya baik untuk dibaca oleh para Ibu, namun seorang calon ibu dan bahkan calon ayah pun sebaiknya membaca buku ini agar lebih memahami peran seorang ibu dan dapat mendukung mereka merawat dan mendidik para calon generasi penerus dengan optimal.

1 comment:

Uje-uji said...

Izin berkunjung dan nyimak langsung artikelnya gan...