Google+ Followers

Monday, December 22, 2014

Suasana Menyenangkan di Pembagian Raport Sekolah Al Amien Bojonggede

Raport di Sekolah Al Amien Bojonggede

Beberapa waktu lalu seorang teman bercerita pada saya bahwa ia bingung dengan laporan pendidikan anaknya yang masih duduk di bangku Taman Kanak-Kanak.

"Di kolom catatannya, gurunya nulis gini--Kayla (bukan nama sebenarnya), lebih tertib ya kalau ke kamar mandi--Lah nggak dijelasin tertib gimana maksudnya, kan bikin bingung. Ini enggak tertibnya apa karena dia suka ngompol, nggak nutup pintu kamar mandi, enggak menyiram bekas pipis atau apa?" ujarnya dengan kesal.

Ada lagi seorang kerabat yang berkisah tentang suasana pembagian raport anaknya yang bikin tegang. Sama dengan teman yang pertama, anaknya masih duduk di bangku TK juga. Dimana gurunya meminta orangtua untuk lebih berpartisipasi dalam pendidikan calistung anak-anaknya. Yang ini saya tak tanya seperti apa detail permintaan gurunya, apakah sekedar menganjurkan atau memberi tugas yang 'real' dan apakah permintaan itu ditujukan pada semua orangtua karena perkembangan yang kurang signifikan di ranah calistung atau pada satu-dua orangtua saja.

Tapi mau bagaimana pun bentuknya, kedua kisah ini sedikit banyak bikin saya deg-degan menjelang pembagian raport Gaza yang pertama di TK tempat dia bersekolah. Duh, seperti apa ya bentuk raport Gaza? Apakah 'hanya' akan dihiasi satu kalimat tak jelas seperti kisah teman saya yang pertama? Atau diwarnai suasana menegangkan seperti kisah teman saya yang kedua? Saya hanya bisa berharap semoga tidak keduanya.

Dan alhamdulillaah apa yang saya takutkan ternyata sama sekali tidak terbukti. Sekolah Gaza (Sekolah Al Amien Bojonggede) ternyata selain ramah anak, juga ramah orangtua. Sama sekali tak ada suasana yang bikin orangtua merasa tertekan, malu atau perasaan negatif lainnya. Terlepas dari bagaimana isi raport, orangtua--khususnya saya, merasa sangat nyaman sekali.

Pukul 8.45 saya datang ke sekolah. Agak terlambat dari undangan yaitu 8.30. Ini gara-gara Gaza sulit dibangunkan setelah ikut begadang malam sebelumnya. Saat itu saya jadi orangtua pertama yang datang. Ibu Fitri--sang wali kelas yang murah senyum itu, menyambut saya dengan baik.

"Mari Bun, kita mulai saja." ujarnya. Bikin saya bingung dan celingukan. Dimulai? Saat orangtua siswa lain belum datang? Tapi kebingungan saya tidak lama. Saya segera menyadari kalau pembagian raport di sini dilakukan secara personal. Kami--orangtua dan wali kelas, duduk lesehan berhadapan dibatasi oleh meja kecil dengan sebuah folder besar di atasnya.

Diawali dengan basmalah, prosesi pembagian raport pun berjalan. Pertama-tama saya ditunjukkan satu jilid kumpulan worksheet hasil pekerjaan Gaza selama di TK-A. Mulai dari hasil mewarnai, gunting-tempel, menghubungkan gambar dan keterangan, mencari jejak dan lainnya sampai menebalkan titik berbentuk angka ada di situ. Sempat kaget juga saya, soalnya selama ini Gaza nggak pernah tuh bilang kalau di sekolah dia belajar. Anak saya selalu bilang kalau di sekolah itu dia main aja, gak pernah belajar. Tapi ternyata, worksheet-nya lumayan tebal, meski masih lebih tebal skripsi saya waktu kuliah dulu sih, hehe. Dan hebatnya, dalam setiap lembar worksheet selalu ada apresiasi dari wali kelas, entah itu hanya berupa bentuk bintang dengan jumlah sesuai dengan hasil atau kalimat-kalimat penyemangat seperti, "Terimakasih Nak, kolasenya Bu Fitri sangat suka. Rapi sekali, 2 jempol!"

Hal yang simpel tapi sangat mengesankan menurut saya. Wali kelas pun rupanya hafal pada kemampuan anak saat pertama masuk dan setelah satu semester. Kepada saya ditunjukkan dua lembar worksheet mewarnai. Tampak jelas perbedaannya, dimana pada worksheet pertama Gaza mewarnai seluruh bagian dengan masif, sementara di worksheet kedua warnanya sudah lebih teratur.

Setelah membahas worksheet, kami lalu membuka raport. Ini juga unik, raportnya tidak berbentuk buku tipis seperti raport kebanyakan (setidaknya begitulah raport saya kala TK dulu). Raportnya hanya beberapa lembar kertas A4 dengan logo sekolah. Di situ ada 3 kolom berisi indikator, jumlah bintang dan evaluasi sang anak dalam ketujuh dimensi yang diajarkan di sekolah (Untuk lebih jelasnya mengenai ketujuh dimensi, silakan baca postingan saya sebelumnya di sini)

Worksheet dan Raport


Misalnya saja di dimensi 'Intelektual', salah satu indikatornya adalah: Mampu membedakan warna dan mengelompokkannya. Gaza mendapat 4 bintang untuk hal tersebut. Di kolom penjelasan dituliskan "Kemampuan Ananda dalam membedakan warna dan mengelompokkan warna dapat dilakukan dengan baik. Ia pun mengetahui benda yang sama dan tidak sama.

Contoh lain dalam dimensi 'Emosional', salah satu indikatornya adalah: Melatih sifat tanggung jawab (mengembalikan alat/benda ke tempatnya semula). Gaza mendapat 3 bintang untuk hal ini. Penjelasannya adalah, "Kemampuan Ananda dalam menyimpan barang miliknya dapat ia lakukan dengan cukup baik. Namun Ananda perlu diingatkan untuk menyimpan barang pada tempatnya. Seperti halnya ketika menyimpan sandal pada tempatnya.

Rata-rata ada belasan indikator pada setiap dimensi. Semua dijelaskan dengan cukup detail. Bahkan wali kelas memberi keterangan tambahan pada indikator yang dianggap 'perlu perhatian lebih', yaitu pada indikator berbintang satu atau dua. Tapi tentu saja itu juga dengan cara yang santun dan tidak membuat orangtua--setidaknya saya, merasa terpojok. Misalnya saja untuk Gaza, dia dapat satu bintang di dimensi Jasmani khususnya Motorik Kasar, yaitu mengenai kemampuannya memanjat dan berayun. Di kolom keterangan dituliskan begini, "Tantangan ketinggian Ananda masih perlu dimotivasi dan dibiasakan agar mampu terselesaikan dengan lebih baik lagi."

Untuk hal yang satu ini, sang wali kelas mengkonfirmasi pada saya bahwa saat outbound memanjat tali, Gaza terlihat tegang. "Apakah dia memang takut ketinggian, Bun?" begitu tanyanya. Yang saya jawab saja bahwa berdasarkan pengalaman sih tidak, soalnya di rumah juga dia hobi memanjat teralis jendela. Mungkin karena suasananya berbeda atau sebab lain. Tapi biarlah ini menjadi catatan sendiri bagi saya untuk lebih memperhatikan poin tersebut. Jika memang takut ketinggian kan jadi bisa diatasi sejak dini.

Pembahasan bintang satu tak memakan waktu lama. Wali kelas langsung beralih pada indikator lain dimana anak saya mendapat bintang 3 dan 4. Beliau menanyakan bagaimana cara putera saya belajar di rumah, dengan siapa dan hal-hal lainnya seputar pendidikannya di rumah.

Sampai tak terasa sesi pembahasan evaluasi belajar anak saya pun selesai. Memakan waktu sekitar setengah jam kalau saya tak salah. Saat itu di belakang saya sudah mengantri beberapa orangtua/wali murid lainnya. Dalam hati sata berpikir, untung muridnya cuma 9 orang. Coba kalau 20, bisa-bisa malam baru selesai. Apalagi kalau orangtuanya cerewet kayak saya, yang banyak nanya perkembangan anak di luar yang dituliskan di raport.

Gaza dan hasil karyanya selama 1 semester
Sebagai penutup, Gaza diberi sebuah kertas yang digulung memakai plastik bening dan pita serta satu 'parcel' berisi kerajinan yang dia buat selama satu semester, termasuk fotonya di sekolah dan foto keluarga kami yang diminta berkaitan dengan tema pembelajaran 'Keluarga Muslim' yang diangkat di semseter ganjil ini. Yang setelah dibuka di rumah, ternyata si kertas yang digulung itu adalah sebuah surat apresiasi sang wali kelas yang ditulis dengan spidol hijau dan digambari bunga-bunga. Sebuah surat nan manis yang setelah isinya saya bacakan, langsung ditempel oleh Gaza di pintu lemari.

Ya, begitulah prosesi pembagian raport di sekolah Gaza, Sekolah Al Amien Bojonggede. Jauh dari kesan menegangkan atau sebaliknya, tanpa penjelasan. Dengan penjelasan yang detail di setiap indikator yang terukur, pembagian raport di sekolah ini menurut saya sangat menyenangkan, baik untuk anak maupun orangtua. Mungkin setiap sekolah--khususnya TK, memiliki sistem penilaian seperti ini, agar ada komunikasi dua arah yang jelas antara wali kelas dan orangtua. Manfaatnya tentu untuk mengoptimalkan pendidikan anak di waktu selanjutnya.

3 comments:

Harie Khairiah said...

Wah keren sekolahnya,cara guru evaluasi perkembangan anaknya, mahal nggak sekolahnya0?

toko jamal said...

Nyimak gan...

Vidy said...

Waahh.. bagus ya Prith.. Kita jadi tau detail proses yg terjadi di sekolah. Dengan memberi kata-kata penyemangat seperti itu, anak juga jadi ngerasa dihargai yaah.. *acung jempol.