Google+ Followers

Monday, May 25, 2015

Agar Bermain Se-Asyik Belajar

AGAR BERMAIN SE-ASYIK BELAJAR
-Pritha Khalida S.Psi-
Materi Webinar Science Factory, Sabtu 23 Mei 2015

Memahami Gaya Belajar Anak Agar Bahan Ajar Terserap Optimal

Ayah dan Bunda yang baik,
Masih ingatkah Anda bagaimana gaya belajar saat masih sekolah dulu? Mungkin ada di antara Ayah dan Bunda yang belajar dengan cara menunggu semua penghuni rumah tertidur, agar tak ada suara sedikit pun yang bisa mengganggu konsentrasi. Ada pula yang sebaliknya, justru bisa belajar dengan baik jika sambil mendengarkan musik, atau untuk orang Muslim, dengan mendengarkan rekaman ayat-ayat suci Al Qur’an. Tak sedikit pula yang belajarnya harus sambil bergerak/berjalan atau bergaya bak seorang guru yang sedang mengajar di depan kelas sambil bersuara mengulang materi yang dipelajari.

Saat itu mungkin Anda tak sadar dengan gaya belajar yang dilakukan, alias bisa jadi itu spontan Anda lakukan karena merasa paling nyaman untuk belajar dengan cara tersebut. Namun tahukah Ayah dan Bunda, bahwa ‘Gaya Belajar’ ini memiliki tempat tersendiri—dalam artian dibahas secara khusus dalam bidang Psikologi Pendidikan? Besarnya manfaat yang bisa diperoleh jika seorang anak menerapkan Gaya Belajar yang tepat bagi dirinya, membuat topik mengenai hal ini banyak dikembangkan oleh para ahli di bidang Psikologi Pendidikan.

Menurut De Porter dan Hernacki (Alwiyah Abdurrahman, 2001: 110) dalam bukunya Quantum Learning mengatakan bahwa Gaya Belajar adalah Kombinasi dari bagaimana Menyerap, Mengatur dan Mengolah informasi. Terdapat 3 jenis gaya belajar berdasarkan modalitas yang digunakan individu dalam memproses informasi (perceptual modality), yaitu Visual, Auditori dan Kinestetik. Gaya Belajar bersifat Konsisten yang antara lain dipengaruhi oleh kemampuan, kepribadian dan sikap.

Gaya belajar seorang siswa—jika itu tepat, bisa membuatnya meraih prestasi yang optimal. Sebaliknya, gaya belajar yang kurang sesuai bisa menjadi salah satu penyebab ia sulit menerima dan memahami materi pembelajaran, bahkan menjadi under achiever atau siswa berprestasi rendah. Dengan memahami dan menerapkan Gaya Belajar yang tepat, maka seorang siswa diharapkan bisa menikmati proses belajar mengajar dan mengoptimalkan kemampuannya menyerap informasi.

Penjelasan macam-macam Gaya Belajar :
1. Visual (visual learner)
Cenderung dominan menggunakan penglihatan dibandingkan dengan pendengaran dan pergerakan. 

Ada beberapa karakteristik yang khas bagi orang-orang yang menyukai gaya belajar visual ini. 
a. Kebutuhan melihat sesuatu (informasi/pelajaran) secara visual untuk mengetahuinya atau memahaminya. 
b. Memiliki kepekaan yang kuat terhadap warna, 
c. Memiliki kesulitan dalam berdialog secara langsung, 
d. Sulit mengikuti anjuran secara lisan, 
e. Seringkali salah menginterpretasikan kata atau ucapan
f. Teratur, memperhatikan segala sesuatu dan menjaga penampilan
g. Mengingat dengan gambar. Lebih suka membaca daripada dibacakan
h. Membutuhkan gambaran dan tujuan menyeluruh dan detail, lalu mengingat dari apa yang dilihat
i. Bila berbicara di telepon tangan orang yang visual biasanya tidak bisa diam. Cenderung membuat coretan-coretan
j. Berbicara dalam tempo yang cukup cepat dan banyak menggunakan kata-kata yang berkaitan dengan penglihatan

Media Pendukung Belajar bagi individu dengan gaya belajar visual:
a. Grafik
b. Diagram
c. Computer
d. Poster
e. Highlight
f. Menggunakan model/benda nyata

Ciri-ciri gaya belajar visual ini adalah:
a. Cenderung melihat sikap, gerakan dan bibir guru yang sedang mengajar
b. Bukan pendengar yang baik saat berkomunikasi
c. Saat mendapat petunjuk untuk melakukan sesuatu, biasanya akan melihat teman-teman lainnya baru kemudian dia sendiri yang bertindak
d. Tak suka bicara di depan kelompok dan tak suka pula mendengarkan orang lain. Terlihat pasif dalam kegiatan diskusi
e. Lebih suka peragaan daripada penjelasan lisan

2. Auditori (Auditory learner)
Gaya belajar auditori mengandalkan pendengaran agar dapat memahami dan mengingatnya. 

Beberapa Karakteristik model belajar seperti ini sebagai berikut:
a. Cenderung menyerap informasi dari apa yang didengarnya. Ketika membaca sering menggerakkan bibir dan bersuara
b. Berbicara dengan pola berirama
c. Belajar dengan menggunakan pendengaran dan cenderung interdependen (mandiri namun mampu bekerja sama)
d. Banyak menggunakan kecerdasan interpersonal
e. Lebih suka lingkungan yang tenang
f. Memiliki kesulitan untuk menyerap informasi dalam bentuk tulisan secara langsung, 
g. Memiliki kesulitan menulis ataupun membaca (bukan karena tidak bisa membaca/menulis)
h. Berbicara sedikit lebih lambat dari orang visual

Ciri-ciri gaya belajar auditori yaitu:
a. Mampu mengingat dengan baik penjelasan guru di depan kelas, atau materi yang disampaikan dalam kelompok/kelas
b. Pendengar ulung. Anak mudah meguasai materi iklan, lagu di televisi atau radio
c. Cenderung banyak omong
d. Tak suka membaca dan umumnya memang bukan pembaca yang baik karena kurang dapat mengingat dengan baik apa yang baru saja dibacanya
e. Kurang cakap dalam mengerjakan tugas mengarang/menulis
f. Senang berdiskusi dan berkomunikasi dengan orang lain
g. Kurang tertarik memperhatikan hal-hal baru di lingkungan sekitarnya, seperti hadirnya anak baru, adanya papan pengumuman di pojok kelas dll

Media Pendukung bagi anak Auditori
a. Membaca dengan suara keras
b. Adakan sesi tanya jawab
c. Rekaman ceramah/pembelajaran
d. Diskusi dengan teman
e. Role playing, menggunakan musik, kerja kelompok

Gaya Mengajar bagi anak Auditori
a. Gunakan variasi vokal (volume, nada, kecepatan) ketika menyampaikan materi instruksional
b. Ajarkan dengan cara menguji
c. Gunakan pengulangan (suruh anak mengulang)
d. Segera setelah selesai satu segmen pengajaran, minta siswa untuk mengulangi materi yang telah ia pelajari pada temannya
e. Nyanyikan konsep kunci atau minta siswa mengarang lagu 
f. Gunakan musik sebagai aba-aba untuk kegiatan rutin

3. Kinestetik (Kinesthetic learner)
Gaya belajar kinestetik mengharuskan individu yang bersangkutan bergerak dan menyentuh sesuatu yang memberikan informasi tertentu agar ia bisa mengingatnya. 

Karakteristik model belajar seperti ini antara lain:
a. Perlu sentuhan dan kedekatan
b. Perlu banyak bergerak untuk memasukkan informasi ke dalam otaknya
c. Belajar dengan menentukan tindakan
d. Mengingat sambil berjalan dan melihat
e. Dalam berkomunikasi sering menggunakan kata yang berhubungan dengan perasaan.
f. Menempatkan tangan sebagai alat penerima informasi utama agar bisa terus mengingatnya. 
g. Hanya dengan memegangnya saja, seseorang yang memiliki gaya ini bisa menyerap informasi tanpa harus membaca penjelasannya.

Ciri-ciri gaya belajar kinestetik yaitu:
a. Menyentuh segala sesuatu yang dijumpainya, termasuk saat belajar
b. Sulit berdiam diri atau duduk manis, selalu ingin bergerak
c. Mengerjakan segala sesuatu yang memungkinkan tangannya aktif. Contoh saat guru menerangkan pelajaran, dia mendengarkan sambil tangannya aktif menggambar atau melipat kertas origami
d. Suka menggunakan objek nyata sebagai alat bantu belajar
e. Sulit menguasai hal-hal abstrak seperti peta atau symbol
f. Menyukai praktek/percobaan
g. Menyukai permainan dan aktifitas fisik

Gaya Mengajar Orang Kinestetik
a. Keterlibatan fisik
b. Membuat model
c. Highlighting (memberi warna, tanda pada bagian-bagian penting)  perbedaan dg orang visual, dia tidak peduli bentuk dan warna highlight
d. Bermain peran
e. Gunakan alat bantu saat mengajar untuk menimbulkan rasa ingin tahu dan menekankan konsep kunci
f. Lakukan simulasi agar siswa mengalaminya dan berikan kesempatan untuk mempelajarinya langkah demi langkah
g. Jika bekerja dengan siswa secara perorangan, berikan bimbingan paralel dengan duduk di sebelah anak, bukan di depan atau di belakangnya.
h. Cobalah berbicara dengan setiap siswa secara pribadi tiap orang
i. Ceritakan pengalaman pribadi mengenai wawasan belajar kita kepada siswa dan dorong untuk melakukan hal yang sama
j. Izinkan siswa untuk berjalan-jalan di kelas, namun tetap teratur jangan sampai mengganggu temannya.

Penting untuk diingat bahwa sesuai kodratnya individu itu unik, termasuk gaya belajar yang mereka miliki. Ada kalanya seseorang memiliki kecenderungan yang besar dalam tipe visual dan hanya sedikit kemampuan auditori dan kinestetik. Atau ada pula yang unggul di dua tipe yaitu kinestetik dan visual. Ini tidak masalah, karena batasan antara ketiga gaya belajar ini tidak kaku. Yang terbaik adalah jika seseorang mengenali kemampuannya (kekurangan dan kelebihan), lalu bisa menempatkan kemampuannya itu di waktu dan tempat yang tepat.


II
Meningkatkan Pemahaman Dalam Belajar Melalui Bermain

Ayah dan Bunda yang baik, 
Setelah memahami tiga macam Gaya Belajar beserta ciri khas, karakteristik dan Cara mengajar yang efektif untuk setiap gaya belajar tersebut, kali ini pembahasan akan kita lanjutkan pada ‘Bagaimana Meningkatkan Pemahaman Dalam Belajar Melalui Bermain’. 
Mengapa bermain? Karena bagi anak-anak, bermain merupakan kegiatan yang paling menyenangkan. Coba saja perhatikan jika anak-anak sedang bermain, terkadang rasa lelah dan lapar pun mampu mereka abaikan, saking asyiknya. Tak hanya bagi anak-anak, orang dewasa pun senang bermain. Ini terlihat dari tak sedikit orang dewasa yang meng-install games pada gadget mereka. Atau perkantoran yang banyak membuat program outbound untuk sarana rekreasi karyawan.

Sebelum membahas lebih lanjut mengenai topik ini, mari terlebih dahulu kita samakan persepsi mengenai ‘Bermain’. Definisi Bermain adalah setiap Kegiatan yang dilakukan untuk Kesenangan yang ditimbulkannya, tanpa mempertimbangkan hasil akhir. Dilakukan secara sukarela, tanpa ada paksaan dan tidak ada tekanan dari luar atau kewajiban

Beberapa dekade belakangan ini telah terjadi perubahan sikap yang radikal terhadap bermain. Jika dulu bermain dianggap sebagai pemborosan waktu, kini para ilmuwan menganggap bahwa bermain merupakan pengalaman belajar yang sangat berharga. Beberapa pakar Psikologi bahkan berpendapat bahwa kegiatan bermain dapat menjadi sarana untuk perkembangan anak. Dengan melakukan permainan, anak-anak akan terlatih secara fisik. Demikian juga dengan kemampuan kognitif dan sosialnya pun akan berkembang (Pepen Supendi, SP dan Nurhidayat. Op.Cit. Hal 7).

Namun, apakah setiap permainan bisa meningkatkan kemampuan kognitif dan sosial? 
Berikut beberapa jenis permainan beserta pembelajaran yang bisa didapatkan oleh anak setelah memainkannya:
1. Permainan Aktif 
Dalam permainan ini anak dapat melakukan segala hal yang diinginkannya, tidak ada aturan-aturan khusus dalam permainan tersebut. Anak dapat melakukan eksperimen, menyelidiki, mencoba dan mengenal hal-hal baru. Contoh permainan aktif diantaranya:
a. Drama
Dalam permainan ini anak memerankan suatu peranan, menirukan karakter yang dikagumi dalam kehidupan yang nyata atau tokoh sejarah/film. Bermain drama dapat membangkitkan rasa empati.
b. Bermain musik
Bermain musik dapat mendorong anak untuk mengembangkan tingkah laku sosialnya, yaitu dengan bekerjasama dengan teman-teman sebayanya dalam menyanyi, menari atau memainkan alat musik.
c. Mengoleksi sesuatu
Kegiatan ini sering menimbulkan rasa bangga karena anak mempunyai koleksi yang lebih banyak atau lebih unik dibandingkan teman-temannya. Di samping itu, mengumpulkan benda-benda dapat mempengaruhi penyesuaian pribadi sosial anak. Anak terdorong untuk bersikap jujur, bekerjasama dan berkompetisi.
d. Permainan olahraga
Dalam permainan olahraga, anak banyak menggunakan energi fisiknya. Di samping itu, kegiatan ini mendorong sosialisasi anak dengan belajar bergaul, bekerjasama, memainkan peran pemimpin serta menilai diri dari kemampuannya secara realistic dan sportif.

2. Permainan Pasif 
Dikatakan pasif karena dalam permainan ini anak tidak terlibat langsung dan ‘hanya’ menjadi penikmat/penonton. Contoh permainan pasif seperti berikut:
a. Membaca
Membaca merupakan kegiatan yang sehat. Membaca akan memperluas wawasan dan pengetahuan anak, sehingga bisa meningkatkan kecerdasan dan kreativitasnya.
b. Mendengarkan radio dan menonton televisi

Mendengarkan radio atau menonton televisi dapat mempengaruhi anak secara positif dan negatif. Pengaruh positifnya adalah menambah pengetahuan dan wawasan. Sementara pengaruh negative adalah jika anak meniru hal-hal yang disiarkan di radio/televisi seperti kekerasan, penyalahgunaan obar terlaran dan lainnya. Hal ini bisa diatur oleh orangtua dengan lebih selektif memilihkan acara yang ramah anak atau membersamai anak saat menonton/mendengar radio.

Di luar permainan-permainan yang disebutkan di atas, adakalanya orangtua pun memfasilitasi anak dengan beragam permainan edukatif agar anak bisa bermain secara mandiri, seperti puzzle, lego, congklak dan lain-lain. Bagaimana caranya agar permainan-permainan semacam itu—saat dimainkan tanpa pendampingan orangtua, bisa tetap memberikan pembelajaran pada anak? Berikut ada satu ilustrasi sederhana mengenai hal ini.

Untuk anak-anak prasekolah, jika orangtua memberikan mainan puzzle untuk anaknya, sebaiknya diberikan ‘pengantar’. Misalnya seperti ini,
“Kak, ini namanya puzzle. Begini cara memainkannya. Perhatikan gambar di kotak puzzle, lalu susun potongan-potongan gambar ini dengan menyamakannya pada gambar tersebut. Yuk dimulai dari bagian ujung, lalu sekeliling dan terakhir bagian tengah. Nah, selesai kan? Coba sekarang kakak kerjakan.”

Saat anak mengerjakan, tidak usah terlalu banyak intervensi. Biarkan sampai ia mengalami kesulitan dan meminta tolong. Selesai mengerjakan puzzle, beri ia pujian. Sebagai orangtua, Ayah dan Bunda bisa mengatakan padanya bahwa mainan tersebut dibeli dengan rezeki yang diperoleh dari Tuhan melalui bekerja. Mintalah pada anak agar menjaga mainannya dengan baik dan mau berbagi dengan saudara atau temannya. Sangat baik sekali untuk menyimpannya kembali ke dalam kotak atau wadah agar mainan tidak berceceran dan hilang.

Perhatikan Ayah dan Bunda, dari obrolan yang hanya beberapa menit itu saja, tanpa disadari anak sudah belajar banyak hal. Mulai dari bagaimana cara mensyukuri pemberian-Nya, bagaimana cara memainkan yang benar—dimana dengan ini dia belajar dasar problem solving. Selanjutnya kepercayaan dirinya pun berkembang dengan dibiarkannya ia mengerjakan puzzle itu tanpa banyak intervensi. Saat orangtua mengajarkan anak untuk menyimpan mainan, pelajaran disiplin dan tanggung jawab pun ada di situ. Dan yang tidak boleh dilupakan, kehadiran orangtua dalam mendampingi anak bermain akan membentuk bonding atau kedekatan antara orangtua dan anak.

Nah, terbukti kan, bahwa bermain—meski permainan sederhana sekalipun bisa meningkatkan pemahaman dalam proses belajar seorang anak. Untuk anak yang lebih besar, orangtua bisa menyelipkan permainan ini dalam proses pemberian bahan ajar untuk mereka di rumah, guna melengkapi proses belajar di sekolah.

Pemberian bahan ajar? Pentingkah? Untuk anak yang sudah belajar seharian penuh di sekolah ditambah berbagai les/kursus dan ekstrakurikuler, pemberian bahan ajar tambahan di rumah bisa jadi tak terlalu penting, sejauh mereka bisa memahami pembelajaran di sekolah. Namun jika anak tidak mengikuti banyak kegiatan di luar sekolah, pemberian bahan ajar tambahan dari orangtua sebaiknya diberikan, meski hanya sebagai pelengkap untuk membantu memahami pelajaran di sekolah. Jika di sekolah sudah disuguhi dengan proses belajar mengajar yang formal dan seragam untuk semua siswa, maka untuk kegiatan belajar di rumah, orangtua bisa mengkreasikan pemberian bahan ajar agar sesuai dengan gaya belajar anak. Bisa juga menggabungkannya dengan model-model permainan yang disisipkan dalam metode mengajar.

Selain sebagai media belajar, permainan bisa juga dijadikan sebagai ‘reward’ setelah anak melakukan hal yang manis atau melaksanakan kesepakatan. Ini akan membuat anak merasa senang dan dihargai.

Berikut 5 tips untuk membuat belajar seasyik bermain
1. Jadi aktris/aktor dadakan
Sesekali berikan sentuhan ‘dramatis’ tema tertentu pada proses belajar mengajar. Misalnya saja saat hendak mengecek apakah anak sudah memahami operasi hitung yang diajarkan minggu lalu, Anda bisa membuat setting Restoran dengan menyediakan beberapa makanan kecil atau kue yang dipotong-potong dan disusun di atas piring atau nampan. Bermain peran dengan berpura-pura menjadi pembeli dan anak menjadi penjual. Jangan lupa untuk menetapkan harga untuk setiap potong makanan. Tunjukkan menu yang Anda inginkan, lalu biarkan anak menghitung harganya dan menyajikannya dalam piring kecil untuk ‘customer’ istimewanya—yaitu Anda.

2. Hadirkan ‘Little Einstein’ di rumah
Anak-anak biasanya senang mengeksplorasi berbagai hal. Berdasarkan fakta ini, maka izinkan anak melakukan eksperimen  seru yang bisa dilakukan dengan bahan dan alat sederhana yang ada di rumah. Misalnya saja, Anda bisa membiarkan anak memasukkan air dan minyak ke dalam blender. Nyalakan beberapa saat, selanjutnya biarkan anak melihat butiran-butiran minyak terpisah dengan air. Percobaan kacang hijau yang ditanam di kapas basah pun bisa sangat menyenangkan karena anak akan tak sabar menunggu setiap senti pertumbuhan kecambahnya. Atau yang tak kalah seru adalah percobaan ulat yang dimasukkan ke dalam toples. Biarkan anak mengamati dan atau mencatat proses perubahan sang ulat menjadi kepompong dan kupu-kupu.

3. Review menyeramkan? Ah, kuno!
Review atau jika di sekolah disebut ujian/ulangan harian, seringkali terdengar menyeramkan bagi anak-anak. Jika Anda seorang guru, tentu akan sangat tahu hal itu. Suasana kelas yang mendadak sepi saat menjelang ujian/ulangan harian karena anak-anak diliputi kecemasan. Tapi jika suasana sedikit diubah misalnya dengan membuat ‘kursi panas’ seperti yang ada dalam kuis semacam ‘Who Wants To Be a Millionaire’ di televisi misalnya, anak akan lebih bersemangat. Sediakan beberapa kotak hadiah yang akan diberikan sesuai dengan perolehan nilai anak. Tak perlu hadiah mahal, tapi buatlah spesial. Meski sekedar cokelat jika dibungkus memakai kertas kado dengan tokoh kartun favorit atau pita cantik, biasanya akan membuat anak merasa penting. 

4. Jalan-jalan, yuk!
Pembelajaran apapun biasanya akan menyenangkan jika tidak hanya dilihat melalui buku atau video. Anda bisa mengajak anak untuk melakukan kunjungan edukatif ke tempat-tempat yang relevan dengan pembelajaran. Misalnya jika sedang membahas kebudayaan Indonesia, sesekali ajak anak ke Taman Mini untuk melihat beragam kebudayaan daerah di negeri ini. Pembelajaran mengenai hewan ternak, tentu akan lebih menyenangkan jika membiarkan anak melihat langsung ke peternakan. Melihat bayi hewan ternak, menyusui hingga memerah susu, apalagi jika mereka diizinkan untuk terlibat langsung dalam proses memerah susu, akan menjadi pengalaman yang tak akan terlupakan bagi anak-anak. 

5. Izinkan gadget sesekali**
Tidak bisa dipungkiri bahwa sebagian besar anak-anak, khususnya yang tinggal di perkotaan saat ini menyukai gadget. Bahaya ketergantungan pada gadget yang menghantui anak-anak masa kini, membuat tak sedikit orangtua cemas. Menghentikan atau mencabut gadget secara total dari anak-anak, sementara orangtua masih sering menggunakan, tentu bukan hal yang mudah. 
Salah satu solusi adalah bagaimana membuat gadget bisa menjadi alat belajar yang menyenangkan bagi anak (tentu dengan pengaturan waktu dan kesepakatan sebelumnya). Misalnya pada beberapa aktifitas berikut:
a. Jika akan mengerjakan suatu project keterampilan misalnya, sesekali izinkan anak-anak memilih untuk melakukan riset melalui internet atau buku
b. Biarkan sesekali anak memainkan games yang berhubungan dengan pelajaran. Anda bisa browsing mengenai games yang edukatif dan mencobanya terlebih dahulu.
c. Buatlah kreasi presentasi pelajaran yang lucu dalam software tertentu, powerpoint misalnya. Gunakan foto, animasi dan lainnya untuk menarik perhatian anak agar tak bosan pada bahan ajar.
d. Teknologi telepon melalui messenger bisa menjadi pilihan untuk memberikan bahan ajar. Tak perlu berjauhan. Biarkan anak berada di kamarnya dengan laptop dan Anda di ruang tengah menggunakan ponsel/tablet. Mendengarkan instruksi via telepon sambil menatap wajah Anda di layar monitor, akan memberikan sensasi yang berbeda pada proses belajar.
e. Biarkan anak membuat review bahan ajar dalam bentuk rekaman atau video menggunakan gadget

Semua tips di atas bisa dipraktekkan oleh guru di sekolah ataupun orangtua di rumah. Terkait dengan materi sebelumnya mengenai ‘Gaya Belajar Anak’, tips juga bisa dimodifikasi sesuai dengan gaya belajar anak. Misalnya pada poin 3 mengenai review. 

Untuk tipe visual learner, review bisa berupa poster dengan gambar atau stiker lucu/full color untuk membuatnya bersemangat. Sementara auditori learner bisa diberikan petunjuk review melalui rekaman suara. Untuk kinestetik learner, petunjuk review bisa diberikan melalui kertas yang dimasukkan ke dalam amplop warna-warni tertutup yang diletakkan di tempat mencolok di dalam ruangan.

Tak perlu memaksakan untuk membeli bahan atau alat baru. Anda bisa menyulap barang bekas menjadi bahan ajar dengan sedikit kreativitas. Yang terpenting adalah tampilkan wajah antusias saat mengeksekusi ide-ide di atas bersama anak. Bagi anak-anak, tampilan yang menarik dan bersemangat jauh lebih penting ketimbang alat atau bahan yang masih berkilau karena baru, yang dipakai dalam pembelajaran. 


Selamat mencoba untuk bermain sambil belajar bersama anak :)
Salam hangat, 
Pritha Khalida

No comments: