Google+ Followers

Friday, May 1, 2015

Agar Matematika Tampak Seperti Es Krim Untuk Ananda

Sumber Gambar dari sini


Matematika?
Susah… Sebel… Pusing…Cape deh

Sukanya Apa?
Es krim…Cokelat…Princess Elsa


Matematika Masih Kurang Diminati Anak-Anak

Beberapa saat sebelum menulis ini, saya menggelar survey iseng pada beberapa orang anak berusia sekitar 4-9 tahun. Kenapa dibilang iseng? Ya jelas, subjeknya gak nyampe 10 orang, gak ada batasan atau kriteria khusus, nanyanya juga suka-suka. Pertanyaannya gini, kamu suka matematika gak? Menurut kamu Matematika itu gampang atau susah? Lalu kalo jawabannya nggak suka, ditanya lagi, abis sukanya apa dong kalo matematika gak suka? (Yang jawab suka Cuma satu orang, entah beneran entah pencitraan, gak saya tindak lanjuti. Ya kan namanya juga iseng :D )

Well, poinnya sebetulnya karena saya pengin tahu, apakah di jaman sekarang, setelah lewat lebih dari satu dekade terakhir kali saya megang buku Matematika (yang bukunya selalu jadi paling rapi di antara matpel lain, saking jarang dibuka), pelajaran yang satu ini masih memegang predikat ‘jarang peminat’? Dan jawabannya ternyata Ya. Setidaknya untuk beberapa subjek yang saya tanya sih gitu. Kenapa ya? Mari kita cari tahu jawabnya. Plus kita coba bongkar, apa sih pentingnya mata pelajaran yang satu ini…


Pentingnya Matematika

Berdasarkan teori Howard Gardner (1983) yang terkenal tentang Multiple Intelligences, Matematika Logis menjadi salah satu ranah kecerdasan disamping tujuh kecerdasan lainnya. Menurut Gardner kecerdasan Matematika Logis adalah kemampuan penalaran ilmiah, perhitungan secara matematis, berpikir logis, penalaran induktif/deduktif dan ketajaman pola-pola abstrak serta hubungan-hubungan. Dapat diartikan juga sebagai kemampuan menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan kemampuan matematika sebagai solusinya. Anak dengan kemampuan ini akan senang mengerjakan rumus dan pola-pola abstrak. Tidak hanya pada bilangan matematika, tetapi juga meningkat pada kegiatan yang bersifat analitis dan konseptual. (Sumber dari sini)

Trus apa pentingnya?
Wahai teman-teman.. Inget dong ya, kalau berhitung itu adalah pelajaran yang kita dapatkan sejak masih di bangku taman kanak-kanak sampai akhir hayat, eh…sampai kuliah deng. Iya lah, tuh Statistika. Ngitung juga kan? Ada makna tersirat dari hal tersebut, yaitu bahwa pelajaran yang satu ini memang beneran penting dalam kehidupan sehari-hari. Nggak percaya? Hmm, coba diingat-ingat kalau bangun pagi, yang dilihat apa? Jam dinding kan? Trus abis itu secara nggak sadar biasanya kita berhitung, udah jam 5 nih, udah telat lah kalo mau bikin opor ayam buat sarapan. Udah telor ceplok aja (itu sih saya :p ). Atau saat akhir bulan di mana kondisi dompet udah mengkhawatirkan, pasti dihitung banget tuh harga menu makan siang. Cari yang paling murah tapi ngenyangin, gitu prinsipnya. Atau di sisi lain, urusan sandang. Gak mungkin kan kita beli baju atau sepatu tanpa ngukur panjang kaki/badan?

Intinya, nyaris semua hal di dalam hidup ini butuh hitung-hitungan, butuh Matematika.


Penting Untuk SUKA, Bukan MAHIR Matematika

Putera Sulung Saya--Gaza, yang suka banget sama Mathblock
Bahkan minta dibawakan saat opname


Trus, kalo gak mahir Matematika, gimana?
Ya tenang aja, dunia gak bakalan runtuh kok kalau nilai matematika kita jeblok. Paling juga dapet remedial, hehe.. Nggak ding, becanda. Seriusnya sih, gak usah kecil hati. Toh memang gak semua orang dilahirkan untuk jenius di bidang yang satu ini seperti Phytagoras atau Archimedes, bahkan Al Biruni. Tidak terlalu penting untuk mahir dalam matematika, namun menyukai matematika itu penting adanya. Nah kalo yang ini serius. Suka sama mahir beda, toh? Simpelnya gini, paham algoritma itu nggak penting, tapi bisa ngitung mencukupkan gaji untuk keperluan sebulan, itu mutlak diperlukan. Atau, nggak masalah buta dalam aritmatika, yang penting bisa memperkirakan berapa lama waktu yang bisa dialokasikan untuk fesbukan saat hanya ada 24 jam yang harus dibagi untuk urusan domestic, pengasuhan anak dan membaktikan diri dalam masyarakat. Percaya deh, kalo gak suka sama matematika, berbagai manajemen dalam hidup bisa kacau.


Secara teori, konon seperti inilah manfaat Matematika:
  1. Cara berpikir matematika itu kan sistematis. Nah dengan belajar matematika, otak kita terbiasa untuk memecahkan suatu masalah secara sistematis.
  2. Cara berpikir matematika itu kan deduktif, dimana kesimpulan ditarik dari hal-hal yang bersifat umum, bukan khusus. Sehingga kita terhindar dari rumus ‘kebetulan’ dalam hidup. Kan memang gak ada yang kebetulan ya di dunia ini, melainkan semua sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa.
  3. Belajar matematika melatih kita menjadi individu yang lebih teliti, cermat dan tidak ceroboh dalam bertindak. Ya iya dong, coba aja bedain satu angka dalam soal matematika, pasti bisa bikin jawabannya salah.
  4. Belajar Matematika bisa bikin kita lebih sabar. Kalo nggak mau sabar, ya lewat aja itu kertas ujian matematika dikosongin semua.(Sumber dari sini)
Di atas semua teori itu, seperti yang sudah saya ungkapkan sebelumnya, matematika itu penting banget deh dalam berbagai sisi kehidupan mulai dari manajemen waktu sampai jual beli. Makanya, penting bagi kita untuk menyukai pelajaran yang satu ini. Nah terus gimana bisa suka kalau sejak kecil pelajaran yang satu ini udah terlihat menyeramkan? Dimana daya tariknya kalah telak oleh Princess Elsa. Tentu sangat memprihatinkan bukan? Akan jadi generasi macam apa anak-anak kita kelak?

Lebay?
Nggak juga sih, tergantung dari sisi mana Anda melihatnya. Jika Anda menganggap nggak penting bagi seorang anak untuk bisa mengatur uang jajannya dalam seminggu, karena kalau kurang toh gampang tinggal ditambahin. Atau nggak penting bagi seorang anak untuk mengatur waktunya seharian. Mau main terus, tidur terus, yang penting happy. Iya betul, jika Anda berpikir demikian, maka ‘teori’ saya akan tampak lebay. Tapi sebaliknya, jika Anda ingin buah hati tercinta memiliki kecerdasan financial, kemandirian dan manajemen waktu yang baik, maka penting untuk menanamkan ‘Suka Matematika’ sejak dini. Sekali lagi, SUKA ya, bukan MAHIR :)


Cara Asyik Agar Anak Suka Matematika

Lalu, gimana caranya bikin anak suka sama Matematika?
Ya bikinlah agar mata pelajaran yang satu ini tampak menggiurkan seperti es krim di tengah hari nan terik, yang sekali jilat selalu terasa kurang. Maunya mau lagi, lagi dan lagi. Jika sudah demikian, maka yakinlah bahwa popularitas Princess Elsa akan tergantikan dengan Matematika. Ya, minimal kalo besok-besok anak Anda minta dibelikan aksesoris karakter tersebut, dia udah bisa ngitung mana yang terjangkau dan mana yang tidak, gak pake berantem dan ngambek di mall :)

Berikut beberapa cara agar anak Suka Matematika:

1.       Ubah mindset Anda tentang Matematika.
Lupakan bahwa matematika hanya bisa dimulai dari worksheet berisi gambar angka-angka yang harus ditebalkan atau benda yang harus dihitung jumlahnya. Ajak anak keluar, minta dia untuk menghitung ada berapa ruas jari di daun singkong. Atau ada berapa jumlah anak tangga di mall. Yang lebih aplikatif adalah, bawa anak anda ke warung, beri ia uang 2.000. Biarkan anak memilih jajanan yang bisa dibelinya dengan uang tersebut.

2.       Download aplikasi belajar matematika di gadget.
Well, sebetulnya ini agak beresiko karena bisa membuat anak kecanduan gadget. Jadi pintar-pintar lah untuk bernegosiasi dengan anak mengenai waktu yang tepat untuk bermain gadget serta berapa lama. Jika dirasa sulit, maka jangan tempuh tips kedua ini. Kecuali jika Anda berpikir bahwa aplikasi ini bisa meminimalisir anak main social media atau chatting (ya tentu saja belajar matematika akan lebih bagus untuk perkembangannya).

3. Fasilitasi anak dengan mainan edukatif yang bisa menunjang kemampuan matematikanya.
Hari gini, silakan browsing. Ada banyak banget mainan edukatif untuk menstimulasi berbagai kecerdasan dan kemampuan, termasuk kecerdasan Matematika ini. Namun saya sih tetap berprinsip, kalau anak tidak boleh dipaksa untuk bisa cerdas di suatu bidang, tidak terkecuali untuk matematika. Kalau anak memang berbakat di bidang Matematika, maka stimulasi berupa permainan eukatif terkait hal ini, bisa banget melejitkan kemampuannya. Sementara jika anak tak berbakat, permainan semacam ini bisa untuk membangkitkan minatnya agar mau mengenal matematika. Tak kenal maka tak sayang, bukan?


Math Block Sebagai Alternatif Permainan Edukatif Matematika
Contoh Kreasi Math Block

Math Block merupakan Mainan Matematika yang dirancang secara khusus untuk anak usia 3 tahun ke atas. Melalui permainan ini anak dapat melatih kemampuan mereka untuk
-          mengenal warna
-          mengenal bentuk
-          mengenal tekstur
-          melatih gerak motorik halus
-          melatih daya kreasi
-          mengenal konsep angka
-          mengenal konsep penjumlahan dan pengurangan
-          melatih kemampuan penjumlahan bilangan bulat
-          dll

Math Block yang merupakan salah satu produk dari ScienceFactory ini tercipta dilatarbelakangi oleh kegelisahan seorang konsultan pendidikan matematika dan IPA, Anggayudha Ananda Rasa atau yang kerap disapa Kak Aye. Sebagai seorang guru sekaligus konsultan yang membantu beberapa sekolah di Bandung, Jakarta dan Banten, ia merasa ada yang keliru dengan pola pendidikan matematika dan IPA di Indonesia. Ia merasa bahwa semestinya pelajaran-pelajaran eksakta seperti matematika dan IPA dibawakan dengan cara yang menyenangkan dan menarik, sehingga para siswa tidak merasa bosan dan ketakutan (nah, kayanya sejalan nih sama survey saya di awal tadi, hehehe).

Liputan Math Block Di Media


Berangkat dari kegalauan tadi, maka pada 2012 ia mencoba untuk mengajak beberapa koleganya yang memiliki latar belakang pendidikan matematika dan desain produk untuk bergabung dan menciptakan sebuah permainan matematika. Dengan harapan melalui permainan ini anak-anak tidak lagi merasa bosan dan tertekan saat belajar matematika.

Selama sekitar 2 tahun tim yang dipimpin Kak Aye melakukan riset. Mereka mulai melakukan observasi di lapangan, membedah kurikulum, merancang permainan, membuat prototype permainan, mengujicoba permainan hingga mengevaluasi permainan secara berkala. Mereka melakukan proses tersebut berulang kali.

Hingga akhirnya pada pertengahan tahun 2014 seluruh proses riset telah selesai mereka lakukan dan menghasilkan dua buah mainan matematika yang diberi nama Math Block dan Math Quest.

Dua tahun tentu bukan waktu yang sebentar. Orang kalau nggak memiliki dedikasi yang tinggi, gak bakalan bertahan dalam waktu selama itu untuk menngkreasikan sebuah benda/metode yang bermanfaat bagi orang banyak. Inilah yang akhirnya menjadi kelebihan dari produk Math Block yang dibuat di Science Factory. Dalam satu kotak, Anda bisa memperoleh 40 potong kayu beraneka bentuk dan warna yang pada masing-masing potongan tercetak angka-angka. Tak hanya itu, ada juga 4 buah dadu, 26 kartu yang mewakili alphabet, sebuah kayu berbentuk koin bertanda +/-, buku petunjuk serta CD beragam tutorial permainan yang bisa dilakukan dengan benda-benda tersebut (balok kayu, dadu, kartu dan koin +/-)

Dirancang untuk anak usia 3-9 tahun, permainan karya asli anak bangsa ini insyaaAllah sesuai untuk menstimulasi kemampuan matematika anak di setiap fase tumbuh kembangnya. Untuk anak-anak prasekolah, bisa dimulai dengan mengkreasikan bentuk dari balok-balok kayu, yang bisa merangsang imajinasi dan melatih motorik halusnya. Sementara untuk anak yang sudah duduk di bangku Sekolah Dasar, ada petunjuk untuk beragam pembelajaran matematika.

Jika Anda khawatir permainan ini bisa menggegas otak anak-anak prasekolah, hingga kehilangan masa-masa bermain mereka, maka berikut saya tampilkan dua orang tokoh pendidik di negeri ini yang memberikan testimoni mereka untuk permainan dari Science Factory ini




Cihuy banget, kan?
Jadi, tunggu apa lagi… Yuk bantu anak sejak dini untuk mencintai Matematika..

Berminat dengan produk keren ini? Atau ingin menjadi Play Advisor seperti saya?
Anda bisa menghubungi saya di
FB Pritha Khalida
Email pritha.khalida@gmail.com
SMS/WA 08179279177


1 comment: