Google+ Followers

Tuesday, January 20, 2015

Review Buku Fixiano karya Gabriel Fabiano

Fixiano karya Gabriel Fabiano aka Ian

Hitam…Biru tua… Naga merah yang sedang merentangkan sayapnya di angkasa.

Sebelum mulai membaca buku ‘Fixiano’ karya Gabriel Fabiano—atau yang akrab disapa Ian ini, saya sempat mengernyitkan kening, “Ini buku anak-anak? Kok covernya gelap?”

Biasanya kan—setahu saya, cover buku yang ditulis oleh anak-anak itu colourfull dengan ilustrasi manis. Tapi, seperti biasa, saya adalah penganut paham ‘Never Judge A Book By It’s Cover’. Jadi, sedikit mengabaikan sang cover yang tak secerah buku karya anak-anak pada umumnya itu, saya pun mulai membaca buku yang Kata Pengantar-nya ditulis oleh Kak Seto ini.

Kumpulan fiksi ini dimulai dengan kisah ‘The Watermelon Bell’ yang mengisahkan persahabatan antara dua anak yaitu Arnold dan Alexa yang berlanjut hingga mereka dewasa. Petualangan seru bermain bersama di menara Watermelon Bell yang terbatas saat masih kecil—dikarenakan selalu membuat khawatir orangtua masing-masing, berlanjut saat mereka sudah berusia dua puluh tahun. Arnold dan Alexa berlomba adu cepat menunggang kuda, dimana pemenangnya adalah yang lebih dulu bisa mencapai menara The Watermelon Bell dan membunyikan loncengnya. Cerita cukup singkat hingga Arnold memenangkan lomba ini. Namun ternyata petualangan yang sesungguhnya belum selesai. Ada peristiwa super menegangkan yang berakibat buruk pada Alexa setelah lonceng itu dibunyikan oleh Arnold, dimana pemuda itu terpaksa harus kehilangan sahabatnya yang dikutuk menjadi wujud lain. Tantangan demi tantangan harus diselesaikan Arnold agar bisa membuat sahabatnya kembali jadi manusia. Berhasilkah Arnold? Silakan baca sendiri kelanjutan kisahnya.

Kelincahan pemikiran Gabriel Fabiano—penulis yang baru berusia 11 tahun ini, tampak dalam rangkaian alur yang cepat namun tetap memperhatikan detail, hingga tak tampak kejanggalan dari awal hingga akhir cerita.

Tak hanya menceritakan kisah fiksi fantasi, dalam buku yang diterbitkan oleh Sinotif Publishing ini, penulis juga menyajikan fiksi yang diangkat dari kisah kehidupan sehari-hari. Salah satunya bisa dilihat dalam cerita berjudul “Teddy Blue”, yang menceritakan seorang anak bernama Mill-mill dengan rencana hadiah kejutan untuk ulangtahun Ibunya. Simple but smart.

Di buku perdananya ini, penulis juga tampak sangat piawai dalam memberi nama tokoh-tokoh dalam ceritanya. Bukan nama ‘umum’, tapi nama yang khas ada dalam dongeng-dongeng fantasi. Contohnya saja pada kisah ‘Perfectionist’, benda-benda yang menjadi tokoh di sini adalah sepasang sandal jepit bernama Stella, sebotol Parfum bernama Pinky, Mike The Mirror (sebuah kaca dinding), headphone bernama Hanna dan Henno, scarf bernama Sara serta gula-gula kapas bernama Kenny Kotton Kandy. Dan yang tak kalah membuat saya tergelak adalah nama restoran Sushi Similikity. Lucu, matching dan bikin cerita semakin terasa nyata.

Ilustrasi kisah 'Perfectionist' yang manis

Dalam buku setebal 130 halaman ini, penulis tak hanya menyuguhkan kisah, namun di setiap akhir cerita pendeknya yang berkisar 4-8 halaman ini juga dibubuhkan satu pesan moral. Salah satu yang saya suka adalah pesan yang disampaikannya pada cerita pamungkas berjudul ‘Euforia’, yaitu: Jika kita dapat berkarya lebih dari apa yang kita inginkan, lakukanlah. Apalagi, jika kita dapat membantu banyak orang lain di sekitar kita.


Singkat kata, menurut saya, buku dengan ilustrasi penuh warna menarik di setiap kisahnya ini, keren banget.   

2 comments:

Napitupulu Rodame said...

kepengen punya dan baca bukunya :)

Anonymous said...

Gabriel fabiano itu temen gw , skrng umur 13 tp masih kontet... Dan pinter wkwkwkwkwk